Selasa, 27 September 2016

WORKS YOUR PASSION, Warna-Warni Profesi Yang Menginspirasi (ITB86)

Beberapa bulan lalu teh Annis, salah seorang sobatku, bercerita bahwa ITB Angkatan 86 sedang menyusun sebuah buku. Mendengarnya, aku langsung berminat.Hal pertama yang aku tanyakan adalah adakah alumni TL atau PL yang jadi bagian buku itu? Haha.. sentimen jurusan. Ternyata ada beberapa nama yang kukenal. Makin berminatlah aku.

Lalu ketika teh Annis memuat gambar sampul buku itu di grup WhastApp kami, akulah yang pertama tunjuk tangan dan mau pesan. Seminggu kemudian, buku itu pun sampai di rumah.

Dalam bayanganku, buku ini akan bercerita tentang berbagai profesi unik para alumni ITB 86 lalu kesan-kesan mereka selama kuliah di ITB. Yang intinya memberi motivasi kepada para pembaca, untuk sekolah setinggi-tingginya dan bekerja dengan passion , bisa sesuai bidang ilmu masing-masing atau bisa juga berbeda.

Okay, let’s read….

Pertama lihat sampulnya.
Sampul buku yang unik menurutku. Sederhana, simpel tapi ciamik. Sampul berwarna putih dengan gambar gajah Ganesha lambang kampus kami tercinta dengan variasi seperti polkadot.

Kedua, lihat Daftar Isi.

Buku ini dibagi menjadi beberapa bagian, sesuai klasifikasi profesi para alumni ITB 86 yang diangkat. Ada bagian PNS, Profesional BUMN dan swasta, Dosen dan Peneliti, Pengusaha, dan Profesi Spesifik. Yang paling menarik buatku di bagian Profesi Spesifik, ada dua alumni dengan profesi Ibu Rumah Tangga. Waahh cakep nih, karena kadang sebagian kalangan berpendapat Ibu RT itu bukan profesi, padahal yaa….. padahaal… itu profesi paling sibuuuk sedunia.

Begitu aku buka daftar isi, aku scanning dan tentunya cari nama-nama yang aku sudah kenal. Ahaa… ada nama Tubagus Furqon Sofhani. Salah seorang dosen favoritku ketika kuliah S2 di PWK ITB, mengajar Ekonomi Wilayah. Jika beliau ngajar, rasanya santai ga tegang, tapi banyak pengalaman dan wawasan yang aku dapat. Daan yang bikin aku lebih suka adalah aku dapat nilai A untuk matkul ini. Hahaha…

Profil pak Furqon

Berikut aku kutip beberapa bagian profil beliau yang menarik. Pada pembukanya, ditulis dosen dan guru adalah sama. bahwa peran dosen tidak hanya dengan transfer pengetahuan tapi juga turut membangun masyarakat yang berkarakter kuat. 

Profesi guru buat aku selalu menarik. Keluargaku adalah keluarga guru. Ayah dan ibuku adalah guru selama puluhan tahun sampai pensiun, mengajar sejak anak SR/SD sampai mahasiswa. Salah seorang kakakku dosen, lalu beberapa paman, bibi, dan sepupuku juga guru.

Sewaktu lulus SMA, ibu menyarankan aku untuk sekolah di IKIP dan menjadi guru. Pengalaman beliau, guru itu profesi yang cocok untuk seorang perempuan. Aku yang kala itu masih berjiwa muda merasa itu kurang asyik dan daftar ke ITB, kepingin jadi tukang insinyur (sok jumawa tea haha..). Baru belakangan aku sadar, terutama setelah punya anak, bahwa ibuku benar adanya. Aaahhh, mother’s thought is always wise.

Dosen dan guru, seperti tulisan pembuka profil di atas, semua berjasa, berperan mengantarkan seorang anak manusia menjadi lebih terdidik.

Karakter kuat adalah poin yang tak kalah pentingnya. Bagaimana para pendidik ikut berperan menyiapkan generasi muda yang kuat dan berkarakter, yang punya identitas, tidak hanya jadi pengekor bangsa lain. Inovatif, kreatif, dan mandiri.

---

Bagian selanjutnya, ditulis tugas apakah yang paling menantang bagi seorang dosen, terutama dosen ITB? Tantangan pertama adalah menjadi bagian dari komunitas ilmuwan yang turut serta memproduksi pengetahuan. Jika dosen hanya menyerap lalu menyampaikan pengetahuan, maka fungsi dosen tersebut seperti sebuah gudang, hanya menampung tetapi tidak memproduksi.

Setuju sekali, sepakat tanpa kecuali. Bukan bermaksud mengecilkan kemampuan atau kemumpunian sang dosen, tapi jika hanya terpaku pada buku-buku text atau teori rasanya ada yang kurang.

Buat aku, dosen yang menarik adalah yang bisa sampaikan gagasan, inovasi, ide-ide, atau pengalaman empirisnya. Lebih banyak yang bisa aku dapat. Selain tambahan ilmu tapi juga tambahan wawasan, spirit, atau pencerahan.

Lalu, ditulis tentang tantangan kedua yaitu menjadi bagian dari solusi masalah bangsa. Tidak hanya terkait kegiatan dalam kampus, tetapi juga permasalahan bangsa yang lebih luas, seperti kedaulatan pangan, kemacetan, permukiman kumuh, dsb.

Tulisan selanjutnya menguraikan tentang pengalaman beliau di Forum Jatinangor. Suatu forum yang mendorong proses perencanaan pembangunan yang melibatkan masyarakat secara lebih luas di Kabupaten Sumedang. Aku ingat dulu dalam beberapa kuliah, beliau sempat bercerita tentang forum ini.

Yap, ini juga sepakat tanpa reserve. Aku bekerja di pemerintahan daerah. Ada beberapa perguruan tinggi di sini. Tapi sayang sekali, peran mereka masih belum tampak. Bisa ada dua penyebab, si pemerintah sendiri yang tidak memberi ruang. Atau sebab kedua, sang perguruan tinggi juga tidak cukup berperan. Istilah lama yang sering dipakai, mereka seperti menara gading. Betul mereka menyampaikan segudang ilmu kepada mahasiswanya. Namun perlu ditelusuri lebih jauh, sejauh mana peran mereka dalam menjawab permasalahan bangsa ini.

Bisa aku sampaikan satu contoh kecil. Keluargaku asalnya dari keluarga petani. Aku sering berbincang-bincang dengan mereka. Ada satu hal yang telah lama menggelitikku. Begini ucapan mereka, patani mah ti jaman kapungkur dugi ka ayeuna nya kieu kieu we hirupna, teu jadi langkung sejahtera. Kaum petani dari jaman dulu ya begini-begini aja, kesejahteraannya tidak pernah meningkat.

Nah, di manakah peran perguruan tinggi selama puluhan tahun ini? Jika kesejahteraan petani tidak menjadi meningkat. Padahal katanya negeri kita ini akarnya adalah negeri agraris. Sedih dan miris rasanya.

Kata-kata lain yang menarik juga adalah: mengajar itu bukan menjelaskan pengetahuan yang terdapat pada buku teks kepada mahasiswa, melainkan lebih didasarkan atas kekayaan pengalaman riset dan pengabdian masyarakat bahkan pengalaman hidup sang dosen.
Teori-teori yang diajarkan tidak berasa di langit abstrak, tetapi nyata berpijak pada bumi masalah Nusantara. Ini ditulis di bagian akhir profil beliau.

----

Begitu ketemu momen yang tepat, profil dosenku ini akan aku ceritakan pada anak-anak. Bahwa sekolah tinggi itu tidak cukup untuk mendapat gelar dan kemudian bekerja. Ada banyak hal yang jauh jauh lebih penting. Salah satunya bagaimana kita berbagi dan bagaimana kita membawa manfaat bagi masyarakat.

*buku yang recommended

*doakan bisa bersambung tulisan tentang profil alumni 86 lainnya

Minggu, 25 September 2016

ULANGAN BERSAMA ORTU (TRY OUT WITH PARENTS)



Sore itu, sampai di rumah, Ilman anakku mengacungkan surat. “Bu, ada surat.. “
Surat dari sekolah itu tentang kegiatan Try Out (TO) With Parent di hari Sabtu tanggal 24 September, lengkap dengan susunan acara. TO untuk tiga pelajaran yaitu Bahasa Indonesia, Matematika, dan IPA. Ternyata ada satu poin penting: kehadiran salah satu orangtua atau pendamping jadi prasyarat.  Hhmm ini menarik. Sip, Sabtu ini berarti mesti ke sekolah temani dia.

Sorenya, di grup WhatsApp orangtua, mulai seliweran obrolan tentang TO itu. Diawali dari info kumpulan soal, lalu beberapa ingin punya kopinya. Giliran bahas ortu kudu belajar juga, aku iseng tulis seakan-akan aku sudah baca buku pelajaran Ilman. Lucunya ada yang percaya haha.. colek sobat solcan, maaf saudarakuuu....

Makin lama, obrolan di grup makin seru... Dari yang keder mesti ikut belajar, saling tuduh antara ibu dan ayah tentang siapa yang harus temani si anak, sampai ada yang bekali buku-buku pelajaran buat dibaca ayahnya di kantor.. Hahaha...

Aku diskusi sebentar dengan Ilman. Dan kesepakatannya adalah Ilman mau mandiri dulu kerjakan soal sendiri. Kalau ada yang kurang paham atau bingung, baru aku boleh bantu. Oke, nak. Siap. Jadi tugas utama ibu adalah jadi suporter.


Tibalah hari H.

Dari pagi, Ilman ribut bilang, ibu ga boleh telat. Tau aja dia, ibunya suka ngaret. Eh.. ups... hihi..
Dari rumah jam 07.08, rada ngebut, dan sampai di sekolah jam 07.17. Telat dua menit. Masuk gerbang sekolah, dalam hati aku bingung, kok sepi yaa. Ini pada telat atau pada rajin ya? Langsung naik ke lantai 2. Wah, ternyata sudah pada duduk rapi di kelas yang sudah dibagi, dan betul didampingi ayah, ibu atau kakak.

Setelah duduk di bangku, lah kok aku jadi deg-degan gini yaa.... dan ternyata beberapa mama yang sudah aku kenal bilang hal sama: Kenapa kita yang jadi stress gini yaa? hahaha..

Soal pun dibagikan. Ustadz pengawas kelas membacakan tata tertib. Setelah berdoa, aku tos-tosan dulu sama Ilman. Untuk sesi pertama, pelajaran Bahasa Indonesia dengan waktu 75 menit. Sambil Ilman kerjakan, aku ikut baca soal-soalnya dan coba jawab dalam hati.

Sepuluh menit pertama masih tenang. Sesudahnya, mulai terdengar suara-suara pelan diskusi anak dan orangtuanya. Ilman bertanya beberapa soal padaku, lalu kami diskusi. Aku berusaha tidak langsung arahkan jawaban yang menurutku betul. Pilihan jawaban tetap dia yang tentukan.

Sebelum satu jam, ada satu mama yang acungkan tangan: Ustadz, boleh dikumpulkan? Ini sudah selesai. Waahh langsung terdengar seruan heran dan tawa mulai keder. Lucuu... haha.. Ustadz bilang yang sudah selesai disarankan untuk diperiksa lagi, kalau perlu sampai dua-tiga kali.

Setelah sesi pertama, ada istirahat limabelas menit. Tahukah Anda, anak-anak ngapain waktu break itu? Anak-anak laki langsung meluncur turun berlari ke lapangan tengah daaan..... bermain bola.. hahaha.. EGP deh dengan TO. Sementara aku perhatikan, tidak ada satupun anak perempuan yang keluar kelas. Ada dua kemungkinan: mereka tertib dan rajin pisan atau sibuk murak bekel mama2nya yang jago bikin kue hehe...


Tibalah sesi kedua yaituuu Matematika. Pelajaran yang sering ditakuti anak-anak dan bikin stress. Ilman coba kerjakan sendiri lagi, tapi aku coba juga lihat soalnya, mungkin aku bisa. Gayanya, ketika ustadz tawarkan tambahan kertas kotretan, langsung aku ikut mengacung haha... siga nu enya we!!

Sesi ini seru pisan buat kami berdua. Kejar-kejaran dengan waktu, ternyata 75 menit untuk 30 soal itu mepet juga. Beberapa soal kami berdebat sampai ngakak  berdua. Sesekali aku iseng lihat suasana kelas. Satu dua anak ternyata juga terlibat debat dengan mama atau papanya. Ada satu ayah yang sibuk ngotret dengan serius. Serruuuu!!!

Tak terasa 75 menit berlalu,bel pun berbunyi tanda masuk sesi ketiga untuk mapel IPA. Aku bilang, kita istirahat dulu lima menit ya. Iseng aku foto candid beberapa aksi anak-ortu.



Ternyata oh ternyata, efek otak ngebul akibat MTK ada dampaknya juga. Saat mengerjakan IPA, Ilman perlu beberapa waktu untuk kembali fokus. Belum lagi waktu yang hanya 45 menit untuk 30 soal. O oww... Beberapa soal, Ilman tidak yakin dengan jawabannya karena belum dapat materinya. Dan aku pun harus mengingat-ingat untuk coba bantu. Sekian puluh tahun lalu boo... hehe.. Di sesi ini, Ilman sedikit protes karena beberapa soal aku langsung kasih tunjuk jawaban yang betul menurutku, yang belum tentu juga betul. Hehe maap maap nak, tidak sesuai kesepakatan awal.

Tepat pukul 11, bel kembali berbunyi. Selesaiah acara Ulangan Bersama Ortu. Alhamdulillaah..


Kesanku buat kegiatan ini positif.

Pertama, kita jadi lebih tenggangrasa pada anak, bagaimana mereka berjuang mencoba kerjakan soal, kadang kurang teliti hingga menjawab salah, kadang konsentrasi terpecah, kadang lupa padahal sudah diajarkan.

Kedua, menurutku sekolah berusaha memberi image kepada anak bahwa TO itu ga seseram yang dibayangkan. Diharapkan anak berusaha maksimal tanpa dibayangi ketakutan atau rasa stress.

Ketiga, bagaimana serunya ortu kerjasama dengan anak. Beberapa anak bahkan ditemani lengkap mama papanya. Kadang terjadi perdebatan atau protes yang berakibat anak ngambek atau manyun, kadang juga terjadi hal-hal lucu.

Jadi kesimpulannya, it is a recomended activity yang bisa dicontoh sekolah lain.

Semoga untuk TO selanjutnya dan Ujian Akhir, anak-anak siap lahir bathin dan lebih penting lagi, tidak sampai alami stress. Aamiin yaa robbal ‘aalamiin.


Jumat, 23 September 2016

PENYERTA JABATAN

Jabatan sering dipandang sebagai sesuatu yang didambakan, diharapkan, diupayakan, diimpikan atau bahkan dikejar dan diperebutkan.
Mengapa? Bisa jadi karena manusia perlu menunjukkan eksistensi dan aktualisasi dirinya. Mungkin pula karena di situ terdapat ketenaran, kehormatan dan kemapanan sosial ekonomi dan kekuasaan.
Sehingga saat ini banyak sekali orang yang meminta kepemimpinan dan jabatan, padahal belum tentu orang tersebut mempunyai kapasitas, kompetensi, atau kapabilitas untuk menjalankannya.
Sebagian dari kita masih beranggapan bahwa jabatan identik dengan anugerah. Ketika memperoleh jabatan, maka patut dirayakan. Padahal arti jabatan adalah pekerjaan (tugas) dalam pemerintahan atau organisasi (http://kbbi.web.id). Pada jabatan melekat tugas dan pekerjaan. Jadi bukan untuk dirayakan tapi mestinya untuk direnungkan.
Sejatinya jabatan bukan tujuan, melainkan hanya sarana, sarana untuk memperbaiki sesuatu, dengan tujuan akhir kemaslahatan umat. Sebab itu, barang siapa yang telah mendapatkan sarana tersebut namun tidak memanfaatkannya dengan baik, maka alangkah sayangnya. Sesungguhnya, ketika seseorang menjabat, maka di situlah kesempatan baik untuk melakukan perubahan menuju kebaikan. Sekecil apapun perbaikan itu, niscaya akan ada manfaatnya kelak.
Dalam Islam, kepemimpinan itu memiliki dua rukun, kekuatan dan amanah. Namun sering kita dapati, pandangan orang bahwa jabatan itu kekuatan namun lupa bahwa itu sekaligus adalah amanah.
Secara bahasa, amanah bermakna al-wafa’ (memenuhi) dan wadi’ah (titipan). Amânah (amanah) dapat diartikan sesuatu yang dipercayakan atau kepercayaan. Amânah berasal dari kata a-mu-na – ya‘munu – amn[an] wa amânat[an] yang artinya jujur atau dapat dipercaya.

Secara syar’i, amanah bermakna: menunaikan apa-apa yang dititipkan atau dipercayakan. Itulah makna yang terkandung dalam firman Allah swt.: “Sesungguhnya Allah memerintahkan kalian untuk menunaikan amanah-amanah kepada pemiliknya; dan apabila kalian menetapkan hukum di antara manusia hendaklah kalian menetapkan hukum dengan adil.” (An-Nisa: 58)

Rasulullah saw. bersabda, “Tiada iman pada orang yang tidak menunaikan amanah; dan tiada agama pada orang yang tidak menunaikan janji.” (Ahmad dan Ibnu Hibban)

Barang siapa yang hatinya kehilangan sifat amanah, maka ia akan menjadi orang yang mudah berdusta dan khianat. Khianat dalam memenuhi hak-hak bawahan atau orang yang dipimpinnya, khianat dalam menjalankan kewajibannya.

Jabatan juga menuntut kekuatan iman. Islam mengharuskan mereka yang menduduki jabatan (kekuasaan) adalah orang-orang yang mampu dan kuat terhadap berbagai bujuk rayu setan yang mengajaknya menyalahi janji jabatannya dan menyimpang darinya.
Meminta-minta jabatan baik di pemerintahan maupun organisasi tidak diperbolehkan, apalagi ketika masih ada orang lain yang lebih memiliki kemampuan dan kapasitas.
 “Wahai Abu Dzar, sesungguhnya engkau seorang yang lemah dan sesungguhnya jabatan itu adalah suatu amanah, dan sesungguhnya ia adalah kehinaan dan penyesalan di hari kiamat kecuali yang menjalankannya dengan baik dan melaksanakan tanggungjawabnya (HR. Muslim).
Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Makna ucapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Abu Dzarradhiallahu ‘anhu adalah beliau melarang Abu Dzar menjadi seorang pemimpin karena ia memiliki sifat lemah, sementara kepemimpinan membutuhkan seorang yang kuat lagi terpercaya. Kuat dari sisi ia punya kekuasaan dan perkataan yang didengar/ditaati, tidak lemah di hadapan manusia. Karena apabila manusia menganggap lemah seseorang, maka tidak tersisa kehormatan baginya di sisi mereka, dan akan berani kepadanya orang yang paling dungu sekalipun, sehingga jadilah ia tidak teranggap sedikit pun. Akan tetapi apabila seseorang itu kuat, dia dapat menunaikan hak Allah subhanahu wa ta’ala, tidak melampaui batasan-batasan-Nya, dan punya kekuasaan. Maka inilah sosok pemimpin yang hakiki.” (Syarh Riyadhus Shalihin, 2/472)

Kekuatan ini pun amat berhubungan dengan kemampuan untuk amar makruf nahyi munkar.
Dari Abu Sa’id Al Khudri radhiyallahu ‘anhu dia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Barang siapa di antara kalian yang melihat kemungkaran, hendaklah dia merubahnya dengan tangannya. Apabila tidak mampu maka hendaknya dengan lisannya. Dan apabila tidak mampu lagi maka dengan hatinya, sesungguhnya itulah selemah-lemah iman.’.” (HR. Muslim)
Hadits ini mencakup tingkatan-tingkatan mengingkari kemungkaran. Hadits ini juga menunjukkan bahwasanya barang siapa yang mampu untuk merubahnya dengan tangan maka dia wajib menempuh cara itu. Hal ini dilakukan oleh penguasa dan para petugas yang mewakilinya dalam suatu kepemimpinan yang bersifat umum. Yang dimaksud dengan ‘melihat kemungkaran’ di sini bisa dimaknai ‘melihat dengan mata dan yang serupa dengannya’ atau melihat dalam artian mengetahui informasinya.
Dari hadits di atas, dapat kita pahami bahwa salah satu tugas dan tanggungjawab pemimpin atau pengemban jabatan adalah beramar ma’ruf dan nahi mungkar. Mengajak kepada kebaikan dan mencegah umatnya dari kemungkaran.
Dalam Islam, kualitas iman adalah kriteria pertama dan utama. Kekuatan ilmu dan pengetahuan adalah kriteris selanjutnya. Namun sayangnya, kini pemahaman sebagian masyarakat, jabatan itu berasosiasi dengan kekuatan materi dan status sosial. 
“Sesungguhnya Allah Swt akan meminta pertanggungjawaban setiap pemimpin tentang jabatannya, apakah ia menjaganya atau menyia-nyiakannya (HR. Ibnu Hibban)

Kepemimpinan adalah amanat, sehingga orang yang menjadi pemimpin berarti ia tengah memikul amanat. Tentunya, yang namanya amanat harus ditunaikan sebagaimana mestinya. Dengan demikian tugas menjadi pemimpin itu berat, sehingga sepantasnya yang mengembannya adalah orang yang cakap dalam bidangnya. Karena itulah, Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam melarang orang yang tidak cakap untuk memangku jabatan karena ia tidak akan mampu mengemban tugas tersebut dengan semestinya.

Di samping itu, wajib bagi yang menjadi pemimpin untuk memerhatikan hak orang-orang yang di bawah kepemimpinannya dan tidak boleh mengkhianati amanat tersebut.


Di sisi lain, jabatan yang kita inginkan atau perebutkan belum tentu membawa kebaikan. Padahal belum tentu, apa yang ia kejar atau ambisikan itu baik untuk dia. Sebagaimana  Allah Ta’ala telah berfirman,

 “Bisa jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan bisa jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”(QS. Al Baqarah: 216)

Referensi:
http://www.kompasiana.com/www.klikqr.com/islam-jabatan-dan-kekuasaan_552aec81f17e61c353d623ce

-----
Refleksi diri di tengah hingar bingar pergantian jabatan yang ramai semua orang (nampaknya kecuali aku) perbincangkan.

Menjadi seorang pemimpin dan memiliki sebuah jabatan merupakan impian semua orang kecuali sedikit dari mereka yang dirahmati oleh Allah subhanahu wa ta’ala.  


Minggu, 18 September 2016

YUDI DAN MUHLIS




Merasa keren karena berhasil naik kuda nun di Bromo sana. Yap, itulah yang kemarin aku rasakan. Walaupun dengan perut mules, tangan keringetan, plus tuur nyorodcod.

Ya eya lah. Terakhir naik kuda di Ganesha jaman baheula waktu kecil, itupun tandem sama Apa. Dan yang dinaiki juga kuda poni.

Lah ini, kuda beneran, jangkung badag, make sadel teuas. Di lokasi kayak gurun pasir sambil naik turun di jalan kecil nanjak menuju kawah.

Sekali lagi, aku merasa keren.

----

Namun, dalam perjalanan pulang dari Malang, aku merenung. 

Lokasi wisata yang aduhai itu rasa-rasanya tidak membawa dampak positif buat penduduknya. Dengan catatan perlu riset tambahan buat membuktikan hipotesis awal ini.

Selagi tersengal-sengal berusaha keras duduk tegak dan pegang tali kuat-kuat, aku coba ngobrol dengan sang pawang kuda. Ia bernama Yudi. Penduduk asli di situ, di perkampungan di atas lembah menuju kawah. Di seberang gunung.

Semula aku kira, di sekitar ada peternakan kuda. Ternyata tidak. Yudi bercerita bahwa kuda itu dahulu milik juragannya, dibeli seharga 15 juta ketika sudah cukup umur untuk dijadikan kuda tunggangan. Diimpor dari Pandaan. Dari penghasilan sehari-hari selama sekitar dua tahun, kuda itu berhasil dia beli dan sekarang jadi miliknya.

Tarif sekali menunggang kuda adalah 100 ribu. Dibandingkan sekali naik kuda di Jl. Ganesha, wooww mahal bingit!!!. Taapiii daya upaya yang perlu dia keluarkan sebanding lhoo atau bahkan tarif itu kurang mahal?... Dan rupanya tidak setiap hari ia dapat penumpang. 

Aku tidak sempat menghitung ada berapa kuda di situ. Namun ada banyak, dan setiap ada Landy berhenti, maka mereka rebutan tawarkan jasa. Dalam hati sempat berfikir, kenapa ga dibuat semacam sistem antrian ya. Rasanya lebih adil dan semua pasti dapat penumpang sesuai gilirannya.

Kita anggap dalam seminggu, Yudi dapat lima penumpang. Berarti dalam sebulan, rata-rata penghasilannya 2 juta rupiah. Mungkin lumayan ya untuk ukuran di pedesaan.

Tapi mari kita lihat lebih jauh lagi.

Lokasi permukiman Yudi asli jauh dari mana-mana. Kemarin, aku dan rombongan dari Malang tempuh jarak 2 jam ketika berangkat dini hari dan 3 jam ketika pulang. Itu baru sampai semacam basecamp ketika kita berganti mobil Landy.

Dari basecamp, waktu tempuh sampai ke Lautan Pasir sekitar 1,5 jam. Dengan medan yang edun suredun ajib surajib buat saya mah.

Bisa dibayangkan pasti ada kendala untuk memenuhi kebutuhan pangan atau sandang. Dan itu akan berakibat biaya untuk mendapatkannya menjadi mahal. Belum lagi sarana air bersih yang pasti susah banget, dan lain-lain sarana lingkungan. Beruntung sekolah sudah ada sampai tingkat SMA. (Batinku, ya Allaah, semoga para gurunya mendapat ladang amal yang amat banyak, mengingat pengabdian mereka mengajar di pelosok seperti ini.)

----

Dalam ilmu perencanaan wilayah, lokasi wisata seperti ini sering digolongkan enclave. Ketika ada kegiatan ekonomi di suatu wilayah yang nampaknya mendatangkan pendapatan yang cukup besar namun masyarakat sekitar yang seharusnya mendapat keuntungan paling besar, justru menjadi penonton yang cuma kecipratan sedikit.

Bromo sudah menjadi trending topic di mana-mana, skala nasional bahkan internasional. Kemarin, aku sempat mengobrol dengan salah seorang emak wisatawan, yang ternyata berasal dari Spanyol.

Tapi lihatlah. Penduduk sekitar “cuma” jadi pawang kuda, penjaga warung kopi, penjual kupluk dan sarung tangan, tukang sewa jaket, atau supir Landy (berani taruhan, Landy itu sebagian besar bukan punya dia). Dengan penghasilan yang bisa diperkirakan tidaklah besar.

Idealnya, penduduk sekitar bisa lebih diberdayakan dan dikuatkan.

Sekali lagi, ini hipotesis awalku, yang masih awam. Belum baca-baca literatur atau diskusi dengan teman yang lebih tahu informasi.

Tapi tetap, ini rasanya itu tidak adil.

-----

Kembali ke judul, ada yang tahu Muhlis itu nama apa atau siapa?






Kamis, 08 September 2016

Aku dan PPSP-ku

 Jika orang bertanya, di mana kamu sekolah ketika SD?
Aku pasti akan menjawab di SD PPSP, dengan amat bangga.

Apa itu PPSP? Pasti ga banyak yang tahu. Tapi sekolah ini keren, sekeren-kerennya.. Haha.. maap, narsisnya keluar nih.
------

Sekolah kami memang spesial. Namanya PPSP, singkatan dari Proyek Perintis Sekolah Pembangunan.. Ga ada sekolah lain di Bandung yang bernama sama, dijamin.
PPSP adalah sekolah dengan jenjang dari SD sampai SMA, semacam laboratorium percobaan kurikulum dari IKIP (Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan). Ada beberapa sekolah PPSP di berbagai IKIP se-Indonesia. Contohnya Jakarta, yang kalau tidak salah lalu bertransformasi menjadi Sekolah Labschol.

Lokasi sekolah di dalam Kampus IKIP. Sekolah kami punya kurikulum sendiri dan tidak menginduk ke Dinas Pendidikan.

Ingin tahu hal-hal keren dari sekolah kami? Berikut aku tuliskan beberapa.. beberapa ya…belum semuanya… hahaha..

1.       Tingkatan.
Seragam kami putih abu-abu, dari SD sampai SMA. Hemat, ga perlu ganti-ganti selama tuh seragam masih muat dan bisa pake lungsuran kakaknya (sudah menganut prinsip reduksi sampah dari sumber hahaha). SD hanya sampai kelas 5, jadi ketika yang lain baru naik kelas  6, kami sudah masuk SMP.
Dari SD ke SMP dan seterusnya tidak ada tes, wuiihhh bahagianyaa tanpa stress siga jaman kiwari. Lulus SD lalu lanjut kelas 1 SMP disebut kelas 6 dan seterusnya, jadi kelas 3 SMA itu disebut kelas 11. Dan ternyata nama jenjang tersebut sekarang dipakai  untuk sebutan kelas SMP dan SMA yaa.. jadi bukan kelas 1 SMP, tapi jadi kelas 7 dan seterusnya.

2.       Sistem Modul.
Kami belajar tidak memakai buku paket, tapi dengan sistem modul. Dengan sistem ini, guru menerangkan materi, kemudian siswa dituntut mandiri. Kami baca modul kemudian kerjakan tes sendiri bahkan periksa tes sendiri. Ada satu lemari besar di kelas tempat modul dan lembaran tes disimpan. Kami boleh ambil sendiri. Terkadang kemudahan ini jadi jalan untuk ambil kunci tes dan menyontek.. haha.. engga deeng... engga jarang maksudnya. Yang selesai satu modul lebih cepat daripada yang lain, boleh ambil lembar pengayaan. Semacam materi tambahan sambil menunggu teman-teman lain tuntas pada modul tersebut.

3.       Akselerasi
Terkait dengan sistem modul di atas, ada program percepatan atau sekarang dinamai akselerasi. Selain hemat 1 tahun di SD, juga ada program 2,5 tahun untuk SMP dan SMA. Pelajaran untuk 3 tahun dipadatkan menjadi 2,5 tahun (hemat 1 semester). Jadi jenjang SMP dan SMA bisa ditempuh dalam lima tahun. Satu kakakku dapat keuntungan ini, mestinya lulus tahun 1986 dari SMA, dia jadi alumni pada tahun 1985. Beberapa teman seangkatan juga dapat keuntungan serupa, hemat satu tahun. Mungkin juga program ini yang jadi cikal bakal program akselerasi.

4.       Kualitas Guru
Jaman dulu, ada guru atau wali kelas yang mengajar berbagai mata pelajaran. Sedangkan di PPSP, guru mengajar per bidang studi, jadi bukan guru kelas. Kami sudah dapat pelajaran Bahasa Inggris sejak kelas 4 SD, weitsss.. mana ada jaman itu anak SD bisa cas cis cus in English. Ibu gurunya cantik dan sabar banget, namanya ibu Lies, yang bikin aku jatuh cinta sama pelajaran ini. Akibatnya? Kursus di LIA LBIB dijabanin dari SMP sampai SMA, dari level Basic sampai Post-advanced. Hasilnya? TOEFL di atas rata-rata laah… *agul saeutik hahaha…

5.       Mapel Pilihan
Ada pilihan pelajaran ketrampilan selain PKK (mainstream kala itu). Bagiku itu asyik, karena aku ga doyan dan ga bisa jahit menjahit atau masak memasak. Aku pilih pelajaran Pertanian di kelas 7 dan Peternakan di kelas 8… Hahaha… jadi macul-macul menanam sosin terus panen dan piara burung puyuh yang mesti ditimbang tiap hari lalu dibuat laporannya.. Ahhh seruuuu…. Hal-hal seperti ini yang kini mungkin diadopsi di beberapa sekolah alam yang banyak didirikan di berbagai kota.

6.       Sekolah Dekat Rumah
Sebagian besar dari kami tinggal bertetangga di kampus yang sama. Usia rata-rata para dosen yang tinggal di kampus ini hampir sama, sehingga usia anak-anaknya pun hampir sama. Tidak heran, anak yang sulung di keluarga A, seangkatan dengan si anak sulung di keluarga B, dan seterusnya.  Berangkat sekolah, kami cukup berjalan kaki atau ada beberapa yang bersepeda. Sekarang ternyata sejalan sama pak RK yang mencanangkan sekolah dekat rumah sehingga si anak cukup pergi sekolah bersepeda ya.

Aaaahhhh... kesimpulannya KEREN lah pokoknyaaa.... setuju kaan setujuuu?...
So lucky us to have a chance going to that cool school, right Poreper?

*Poreper itu plesetan dari forever, berasal dari forever friend. Buat kami, bersekolah dasar di tempat yang sama bukan lagi pertemanan, tapi sudah persaudaraan…… *

-----