Selasa, 29 November 2016

Recharge batin di Suryakanti

Bermula dari postingan di grup Whatsapp dari kawan Banil, yang kabarkan info mbak Yuyun, kawan kami, butuh bantuan. Bantuan untuk temani beberapa anak yang mesti terapi di Suryakanti. Waktu itu aku dalam perjalanan ke Bandung, buat hadir di persiapan nikah Fadhilah keponakanku.

Entah kenapa, hatiku langsung tergerak, kayaknya aku bisa ikut bantu nih. Langsung aku kontak mbak Yuyun. Tapi baru dapat balasan besok paginya.

Mbak Yuyun seniorku di TL ini adalah pendiri Bali Focus, suatu lembaga yang bergerak pada isu mercury monitoring dan advokasinya. Empat tahun terakhir aktivitasnya lalu melebar ke isu kesehatan. karena ternyata dibutuhkan. Mereka membantu peningkatan derajat kesehatan warga di sekitar tambang emas yang terpapar merkuri, mulai dari perawatan dokter dan rumah sakit, perbaikan gizi, atau terapi seperti yang sekarang ditempuh di Suryakanti. Merkuri adalah sejenis logam berat yang dalam jangka panjang akan terakumulasi dalam tubuh manusia dan menyebabkan berbagai dampak negatif.

Yang akan terapi di Suryakanti ini berasal dari Kasepuhan Adat Cisitu, Cibeber, Kabupaten Lebak, nun di perbatasan Sukabumi-Banten. Anak-anak ini born pre-polluted akibat terpapar merkuri. 

Ada lima anak dengan berbagai kondisi. Sejak kemarin, anak-anak ini  di-assesment dan mendapat beberapa sesi terapi. Mereka diantar orangtua masing-masing. Tapi mereka butuh ada yang dampingi, untuk teman ngobrol atau kalau2 ada hal-hal yang perlu dikomunikasikan langsung dengan mbak Yuyun yang siang itu sedang ada kegiatan juri di UI Depok. 

Sejak tinggal di Bandung, aku rasanya pernah tahu tentang klinik Suryakanti, semacam tempat terapi psikologis/psikiater. Ternyata Suryakanti sekarang sudah berkembang jadi semacam pusat terapi terpadu, dari mulai medis dengan dilengkapi fasilitas fisioterapi. Lokasinya di Terusan Cimuncang.

---

Sampai di Suryakanti, seperti info mbak Yuyun, aku mencari mbak Diana, bagian adminnya. Mbak Diana yang cantik dan ramah, menjelaskan sekilas tentang kondisi kelima anak itu lalu kenalkan aku dengan para orangtua. Begitu aku bilang, temannya bu Yuyun, mereka langsung tersenyum dan menyambutku dengan ramah.

Aku coba berbasa basi sejenak, lalu amati anak-anak itu sambil berusaha menghafalkan nama mereka.

Ada Rifki yang sedang digendong ibunya, microcephalus. Mukanya cakep banget, putih bersih. Aku elus-elus pipi dan kakinya. Tiba-tiba dia tersenyum padaku, senyum lebar. Aaahhh, mulai deh meleleh hati ini. Ibunya tampak masih muda banget, mungkin umurnya baru sekitar 20 tahunan. Ayahnya juga masih muda. Mereka bergantian memangku Rifki, sambil ajak ngobrol dan mengusap-usap buah hatinya itu.

Yang kedua bernama Jasmine, anak perempuan usia 2 tahun. kabarnya sang ibu memberi nama Jasmine Parisa karena ngefans berat sama Paris Hilton hehe..  Lucu, berpipi gembil, tampak sehat, aktif jalan ke sana kemari dan main ayunan. Ia hanya ditemani ibunya.

Satu anak lagi, namanya Angel. Dia langsung hampiri aku, bersalaman sambil senyum-senyum. Anaknya tampak sehat namun ternyata sering kejang, diagnosis pembengkakan kelenjar tyroid. Ayahnya Angel tampak senang mengobrol hehe aku sempat bercanda dengan dia dan ibunya Angel.

Lalu satu anak cantiiik bernama Camelia, 6 tahun, rambut ikal, kulit putih. Diagnosanya severe autistic. Keluar dari ruang terapi, sambil disuapi, aku ngobrol dengan ibunya. Ehh tiba-tiba Camelia mendekat terus gelendot ke badanku. Aku langsung pangku dia sambil usap-usap kepalanya.


Yang kelima bernama Febri, yang tak hentinya main sepeda berkeliling koridor klinik. Haha.. ibunya sampai kelelahan dorong-dorong itu sepeda. Febri sejak bayi sering panas tinggi dan kejang, biasa diberi obat anti kejang. Di klinik ini, ia mendapat terapi obat yang ternyata tidak cocok, sekujur badannya gatal-gatal kemerahan. Siang itu, dokter merujuknya untuk dibawa ke rumah sakit.

Berbekal surat pengantar dari Suryakanti, aku temani orangtua Febri ke RS Santo Yusuf. Sesampai di IGD, dokter jaga di situ lalu memberi saran supaya langsung konsul ke poli anak. Aku temani sang ibu masuk ke ruang dokter. Bersyukur, dokternya ramah dan kooperatif, ia wawancara si ibu tentang kronologis riwayat kesehatan Febri sejak lahir. Alhamdulillaah tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Sang ibu dibekali obat puyer plus vitamin untuk daya tahan.

Setelah semua beres terapi dan pulang dari rumah sakit, aku pamitan. Aku salami dan peluk mereka satu persatu. Semua ucapkan terima kasih dengan mata yang tuluuss.

------

Beres temani mereka, aku jalan pulang. Mampir sebentar ke kedai kecil untuk minum sekedar teh manis atau kopi.

Air mata yang sedari tadi aku tahan-tahan, keluar juga jadi tangis pelan.

Qadarullah, Allah beri aku jalan untuk perkaya batin ini.

Bukan mereka yang harusnya ucapkan terimakasih. Apa yang aku lakukan ini tidaklah sebanding dengan perjuangan dan keikhlasan mereka, menyayangi dan menerima dengan tabah apapun kondisi anak mereka. Juga hanya seujung kuku dibandingkan dengan apa yang telah mbak Yuyun (dan Bali Focus) perjuangkan.

Aku yang berterimakasih, sebesar-besarnyaa, sebanyak-banyaknyaa.

Aku belajar dari orang-orang sederhana ini. Belajar tentang ketabahan, belajar tentang keikhlasan. Sekaligus menampar aku yang sering berkeluh kesah, padahal pengalaman sedih atau pahit yang aku alami, wuuiihh ga adaaaa apa-apanya dibanding mereka.

Terimakasih Rifki, Amel, Febri, Jasmine, Angel.  Seberkas sinar telah kalian kirimkan ke dalam hati ini, mengisi ulang batin ini yang sering kering kerontang.

Good luck, anak-anakku… Sehat-sehat semuaaa..  Semoga Allah beri jalan untuk kesembuhan kalian, anak-anak hebat. Semoga kalian bisa mandiri dan punya kehidupan yang baik.

Terimakasih juga buat mbak Yuyun, terus berjuang mbak.. Semoga lain waktu aku bisa dapat kesempatan untuk sedikit bantu lagi.

 ----



*buat kawan yang berkenan untuk support dana, dibuka fundraising di platform Kitabisa.com, dipersilakan, dengan sangat,….


Minggu, 20 November 2016

Wilujeng angkat, Mang…..

(didedikasikan buat Mang Muhya, satu sosok teramat sederhana namun tak ternilai jasanya bagi keluarga kami)
--

Dua hari menjelang akhir diklat-ku di Jogja, aku dikejutkan kabar di WA grup keluarga dari kakak sulungku, kabarkan wafatnya mang Muhya, salah seorang famili kami di Sumedang, kampung kami.
Innalillaahi wa inna ilaihi roojiuun. Ya Allaah, gemetar rasanya sekujur tubuh ini. Kaget sedih nyaris tak percaya.

Ketiga kakakku langsung inisiatif, mengatur ini itu, siapa yang duluan berangkat ke Sumedang, bantuan pemakaman, berbagi tugas, dan lain-lain. Sementara aku masih tercenung, sendirian di kamar, pada jarak yang jauh. Dalam hati terucap doa untuk Mang Muhya sambil terisak.
----

Mang Muhya adalah keluarga jauh dari ibuku almarhum. Lahir, berkeluarga, dan tinggal di dekat rumah nenekku, nun jauh di suatu kampung bernama Burujul di Kabupaten Sumedang. Sewaktu kecil, yang aku ingat, bi Odah istrinya adalah orang yang selalu ada di dapur Nini (nenek kami) membantu beliau wara wiri pekerjaan di dapur dan di sawah.

Ketika Nini sudah wafat, Ibu makin sering ke Sumedang untuk mengurus berbagai hal. Menemani ibu, aku jadi lebih sering ketemu keluarga bi Odah dan mang Muhya.  Mengobrol berbagai hal tentang mengurus sawah sambil siduru di hawu (berkumpul di dapur dekat anglo), ngabubuy sampeu atau hui atanapi meuleum ulen (manggang ketan). Nikmaatt...  (ngabubuy apa yaa padanan katanya dalam bahasa Indonesia, haha silahkan googling).

Mang Muhya dan bi Odah adalah keluarga jauh Ibu dari Nini, tapi aku juga tidak ingat bagaimana pancakaki (hubungannya). Dua sosok sederhana tapi amat sangat bisa diandalkan, membantu berbagai hal pada keluarga kami.

Saking sederhananya, baju yang sehari-hari mereka pakai mungkin hanya dua atau tiga setel.  Itu pun kadang aku perhatikan baju-baju lungsuran Apa (ayah kami) atau kakakku. Makan sehari-hari cukup dengan tahu tempe, asin dan lalap sambel. Bukan tak mampu menurutku. Mereka sendiri punya beberapa petak sawah, balong, dan kebun, juga beternak ayam. Tapi ya itu, karena tidak biasa makan berlebihan dan merasa cukup dengan yang ada.

Yak, sederhana, satu contoh buat kami dan hal pertama yang melekat di ingatanku.

Buat kami, mereka jauuuh lebih dekat dari sekedar famili jauh. Setiap kami perlu bantuan mereka, pasti tak ragu langsung singsingkan tangan. Kepentingan mereka sendiri sering dinomorduakan. Kadang kami tidak perlu katakan apa-apa, mereka sudah paham apa saja yang perlu dilakukan.

Jika kami mudik, begitu datang, mereka langsung sibuk sana sini siapkan macam-macam, tanpa kami minta. Bahkan kadang kami larang karena khawatir merepotkan. Kadang kami sengaja tidak memberi kabar mau datang tapi yang ada malah seperti disalahkan karena mereka jadi merasa tidak siap.

Sangu akeul haneut, goreng ayam kampung dadakan, lalap sambel, segera tersaji di meja. Dampak negatifnya adalah aku kalo makan pasti nambah nasi haha.. gawaat... tidak mendukung diet ini mah.
Jika kami belum selesai makan, mereka pasti belum makan. Walaupun kami sering ajak makan bersama. Tapi rasanya tidak pernah mereka mau. Mereka makan ketika kami sudah selesai makan.

Namun dengan keistimewaan yang kami dapat, ibu bapak selalu tanamkan bahwa mereka itu 
keluarga.  Ya, keluarga. Buat aku, mang Muhya dan bi Odah ya adik ibuku. Anaknya Ujang Ayet dan Ai, ya adik-adikku. Kami sudah ga sungkan-sungkan bercanda, kadang Ujang memberi saran atau bahkan kritik yang menggelitik.

Hal kedua yang melekat di hati, keluarga jauh tapi terasa dekaat sekali.

Ada satu hal lain yang bikin aku terkagum-kagum.  Mang Muhya amat rapi menyimpan administrasi dan amanah mengelola titipan Aki dan Nini. TItipan yang tidak banyak, Cuma sepetak dua petak sawah dan beberapa kebun dan kolam. Tapi mang Muhya selalu mencatat semua kegiatan, pengeluaran dan pendapatan dalam satu buku besar. Rapiiiii banget. Lengkap dari mulai tanggal, berapa volumenya, keterangan, dan rupiahnya.

Amanah. Satu contoh lain buat kami. Hal ketiga.
--

Tahun lalu Mang Muhya mulai sakit. Mengeluh sering sakit kepala dan telinga berdenging. Berobat ke dokter lalu dirujuk ke rumah sakit kecil di kota Sumedang. Lalu dioperasi.

Kami yang baru tahu setelah dioperasi, langsung ngananaha (menyalahkan dengan khawatir/sedih): kenapa ga pernah berkabar waktu sakit awal. Kan bisa coba konsul ke dokter yang lebih ahli di Bandung. Bahasanya lagi-lagi: ah wios, alim ngarepotkeun (ga papa, tidak mau merepotkan).
Tadinya kami tidak paham apa itu operasi. Ternyata setelah menyimak cerita Ai anaknya. Itu tampaknya tindak biopsi. Dengan hasil diagnosis kemungkinan kanker. kami terkaget-kaget waktu itu dan langsung diskusi keluarga supaya mau berobat lebih lanjut.

Akhirnya setelah dibujuk dengan berbagai cara, mang Muhya bersedia berobat ke ke RSHS di Bandung. Semua treatment yang diinstruksikan dokter, ia jalani dengan penuh semangat. Kadang memang mengeluh, tapi tekadnya tetap kuat: hoyong damang (ingin sembuh). Singkat cerita, paket kemoterapi dan radiasi diselesaikan sampai tuntas. Kedua anaknya tak tanggung-tanggung mengurus ayahnya ini wara- wiri ke RSHS dengan BPJS yang terbukti memang menguji kesabaran sang pasien.

Hal keempat buat renunganku, sabar dan ikhlas ketika sakit.

(Ada satu hal yang kadang aku sesali sekarang. Janjiku waktu itu untuk temani berobat ternyata tidak bisa aku tepati. Karena jarak dan kesibukan di rumah dan kantor, cuma bisa pantau dari jauh, via grup keluarga atau telpon Ujang.)

Tiga bulan lalu, aku pulang mudik waktu Iedul Adha. Mang Muhya baru selesai paket kemoterapinya. Alhamdulillaah, wajahnya segar dan bisa ngobrol macam-macam. Waktu aku datang, ia sedang sibuk di gudang, kutrak ketrek betulin pacul dan perkakas lainnya. Walaupun badannya kurus tapi wajahnya segar. Mengobrol dengan seru dan semangat.

Ternyata kali itulah terakhir aku ketemu dengannya.
---

Sabtu tanggal 29 Oktober pulang diklat, hari Minggunya langsung aku menuju kampung. Pengen ketemu bi Odah, Ujang, dan menengok makam mang Muhya. Begitu ketemu bi Odah, aku peluk dia. Tidak ada kata-kata keluar. Tapi setelah ngobrol beberapa kata, mulai mengalir air matanya sambil tak lepas memandangku. Hiks aku langsung nangis juga. Dan berpelukan lah kami sambil bertangisan. Katanya: kunaon bet angkat, pan kamari tos sehat (kenapa malah pergi, kan udah sehat). Duh sedih banget aku melihat tatapan matanya….

Setelah bi Odah reda. Aku coba ngobrol sama Ujang anaknya. Dengan tegar, Ujang bercerita kronologis sakitnya sampai wafatnya. Ternyata setelah paket kemoterapi, seharusnya mang Muhya kontrol lagi ke RSHS. Tapi dibujuk-bujuk, ia tidak mau. Kakakku termasuk yang usaha membujuk bahkan sampai menjemput ke kampung tapi ia menolak.

Mungkin itu penyebab fisiknya lalu drop kembali. Ketika ada yang dirasakan kembali, ia tidak mengeluh pada istri dan anak-anaknya. Ketika sudah parah, Ujang bercerita sambil mimik kesal: ku naon atuh bapa teh teu nyarios? Pan Ujang bisa usaha ngubaran (kenapa bapa ga cerita kan kita bisa cari jalan untuk berobat lagi), mukanya sedih dan langsung air matanya keluar. Pan bapa embung ngaripuhkeun wae anak (kan bapak ga mau merepotkan anak terus menerus), begitu jawabnya.
Kami pun bertangisan lagi.

Bagian terakhir obrolan kami, ada satu hal lagi yang juga berkesan buatku.

Ujang berkata: Teh, abdi mah emut pisan baheula pesen Bapa waktos uwa Yoyoh (ibuku) pupus. Ujang teh pan sedih teras nangis. Saur bapa, ulah diceungceurikan, kudu ikhlas, bisi almarhumah beurateun. Kudu ingetna uwa teh siga biasa bade mulih ka Bandung. Urang cukup nyarios, uwa wilujeng angkat, mugi-mugi salamet dugi tujuan.
Tah kitu teh, ayeuna oge pami Ujang mimiti sedih emut ka Bapa. Emut eta we. Jadi dianggap bapa teh bade angkat we ka mana kitu: wilujeng angkat pa, bari ngagupaykeun panangan, ati-ati di jalan.

(Teh, Ujang ingat pesan Bapa waktu wa Yoyoh wafat. Ujang ulah nangis, harus ikhlas, supaya almarhumah diringankan jalannya. Anggap saja uwa mau pulang ke Bandung seperti biasa. Cukup ucapkan: selamat jalan wa, hati-hati di jalan, semoga selamat sampai tujuan.
Sekarang juga kalau Ujang sedih ingat bapa, ciptakan saja bapa mau berangkat ke kota, cukup lambaikan tangan dan ucapkan selamat jalan.)

Aah… begitu sederhana kata-katanya tetapi dalam maknanya.
Hal kelima yang paling berkesan buatku.
---

Wilujeng angkat mang Muhya.
Mugi-mugi husnul khotimah, ditampi iman Islam-na, dihapunten sagala kalepatanna, dicaangkeun alam kuburna.

Haturnuhun kana sagala kasaean mamang ka kulawarga abdi sadaya.

Minggu, 13 November 2016

Komunitas yang Membuka Mata Hatiku

Komunitas.

Satu kata yang sekarang amat sering digunakan orang. Satu kata yang dulu ketika sekolah dan kuliah rasanya belum masuk perbendaharaan di otakku tapi kini menjadi satu kata yang melekat di hati dan ingatanku.

Dalam pengertianku, komunitas itu sekumpulan orang dengan visi yang sama pada satu hal spesifik, yang lalu menjalankan berbagai misi untuk mencapai visi itu. Memang kedengarannya jadi mirip pengertian organisasi, tapi mungkin bedanya adalah komunitas ini sering tidak direncanakan, bentuknya informal, dan lebih berat unsur kerelawanannya, atau kadang malah anti mainstream.(hehe.. gaya amat ya mulai belajar berdefinisi).

Dan setelah googling, ternyata menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), komunitas adalah kelompok organisme (orang dan sebagainya) yang hidup dan saling berinteraksi di dalam daerah tertentu. lumayan memper-memper juga ya definisi karanganku.


Komunitasku yang pertama dan sampai sekarang masih selalu aku usahakan untuk tetap bergabung adalah Kelas Inspirasi (KI). Yang awalnya cuma niat ikut gabung karena pengen coba-coba, lalu terus ikut dan ikut karena rasanya nagih. 

Di sinilah mula aku belajar tentang semangat perkawanan dan kerelawanan, bekerja bersama-sama dalam format yang “tidak resmi”. Sulit untuk diuraikan dengan kata-kata, tapi di sinilah aku merasa satu pencarianku menemukan jawabannya.

Ketika lingkungan kerjaku mulai terasa negatif, ketika aku merasa tidak temukan kawan yang satu visi atau satu pemahaman, ketika orang hanya dinilai dari apa yang dia pakai dan bukan dari apa yang ada di otaknya, ketika nilai-nilai material dikalahkan oleh kekayaan hati.

Di KI-lah, aku belajar tentang ketulusan. aku bergaul dengan orang-orang positif. Aku belajar untuk tidak menilai orang dari busana atau penampilannya, tapi dari hatinya. Bahkan orang yang awalnya tampak garang menyeramkan sekalipun, ternyata banyak teladan yang bisa aku contoh darinya

Di sini aku melihat bahwa hal-hal material itu seperti tidak berarti. Ada banyak orang-orang yang tidak kekurangan secara materi tapi tidak berniat memperlihatkan kekayaannya. Tidak merasa keren, tidak merasa lebih dari yang lain. Yang tampak hanya semangat untuk berbagi. 

Selain jadi relawan pengajar, dua tiga kali aku juga mencoba jadi panitia. Rempong bin riweuh memang, karena komunikasi utama biasanya lewat grup Whatsapp yang bisa aktif hampir 20 jam sehari. Buat mamak2 macam awak ini, jam 10 malam sudah menguap lebar-lebar, itu butuh energi lebih. Tiap orang punya kontribusi,sekecil apapun akan selalu dihargai. Aku pernah gabung di tim sekretariat, yang kadang jam 11 malem tiba-tiba kudu bikin konsep surat untuk pinjam gedung. Waduuhh..!!! Mungkin remeh yaa, tapi rasanya hati ini senang bin semangat aja.

Semua orang bekerja keras bersama-sama untuk capai satu tujuan yaitu mencoba memberi warna bagi pendidikan anak-anak Indonesia. Bekerja bersama-sama yang kadang tampak seperti sekumpulan orang gokil bin aneh. Ya iyalah orang-orang yang mauuu aja korbankan waktu, energi, materi, "cuma" untuk persiapkan suatu kegiatan ngajar tentang profesi pada anak-anak SD. 

Kadang-kadang tujuan itu mungkin dianggap agak gila, lebay, atau aneh bagi orang lain. Contohnya ada satu kawan yang sudah bergabung menjadi relawan KI di 23 kota. Yak dua puluh tiga kota, saudara-saudara. Dengan biaya sendiri, mengorbankan waktu hanya untuk datang ke satu sekolah dan berbagi cerita tentang profesinya. Ada lagi satu kawan yang mau-maunya jadi penggagas KI Tanimbar. Di mana pula itu Tanimbar? Nun jauh di sana, yang perjalanannya saja tidak mudah dan butuh biaya jutaan. Tapi kok dia mau yaa? Aneh bin ajaib kan.

Dari usia muda sampai usia ga muda tapi masih ingin berjiwa muda (contohnya saya sendiri hehe) bergabung bersama, dari satu satu kota, lalu menjadi gerakan yang massif.

Berangkat dari komunitas ini, lalu aku terhubung dengan banyak kawan dari berbagai latar belakang dan berbagai daerah atau juga dengan komunitas lainnya. Itu satu hikmah yang amat aku syukuri. Networking dan silaturahim terjalin dengan hangat. Informasi bisa menjalar dengan cepat, misalnya ketika ada satu kawan yang perlu bantuan buku atau Rumah Singgah, lewat networking inilah banyak pihak yang bisa terhubung lalu saling bantu.

Hal positif lainnya adalah pikiranku lebih terbuka. Aku pelan-pelan belajar menjadi orang yang lebih terbuka. Tidak gampang hakimi orang, coba kenali potensi teman, bisa ajak atau bahkan paksa orang untuk keluar dari zona nyamannya dan mencoba hal-hal baru yang tentunya positif. Pembelajaran ini kuakui masih berproses tapi lumayan lah buat seorang kutu buku yang ga gaul macam awak iniiii...

Tak kupungkiri, ada banyak kritik untuk gerakan ini. Misalnya, mana mungkin dalam setengah hari atau cuma sekian jam kita bisa memberi inspirasi tentang cita-cita pada segerombolan anak-anak SD. Belum tentu juga anak-anak itu sekolah terus, mungkin sampai SMP atau paling banter SMA dia sekolah lalu bekerja jadi kasir di minimarket misalnya. Dan mungkin masih banyak lagi kritik lainnya.

Tapi kembali lagi, buat aku pribadi lebih baik nyalakan lilin daripada mengutuk dalam kegelapan. Lebih baik berbuat sesuatu, walaupun mungkin kecil, daripada kita hanya berdiam diri. Lebih baik turun tangan, daripada hanya tunjuk tangan. (dikutip beberapa semboyan atau tagline Kelas Inspirasi).

*teriring rasa syukur pada Allah yang memberi jalan dan kesempatan