Minggu, 12 November 2017

Ambil Secukupnya

Setelah lama bertapa, alhamdulillah minggu ini para jari kembali beraksi, coba kutak ketik lagi hahaha.. 

Kali ini, aku pengen berbagi tentang observasiku di waktu kondangan. Hehe observasi, sok keren gini ya istilahnya. Pada satu hajatan maka pasti sang tuan rumah berusaha memuliakan tamu-tamunya. Mulai dari pemilihan gedung yang representatif, suguhan makanan yang beraneka, sampai ke interior yang dibikin secantik mungkin.

Suguhan makanan di "jaman now" itu biasanya terdiri dari meja panjang prasmanan lalu ditambah beberapa gubug berisi makanan minuman penggugah selera. Hampir di setiap kondangan yang aku hadiri, meja prasmanan biasanya kurang diminati, para tamu lebih memilih makanan di gubug sampai rela antri. Kadang tergelitik juga pengen survey kecil-kecilan untuk tahu sebabnya.

Satu hal yang tak pernah luput dari perhatianku adalah betapa banyaknya orang yang meninggalkan makanan bersisa di wadah atau piringnya. Dan ini terjadi di manapun kapanpun laksana iklan Coca cola di "jaman old" hehe. Padahal ini termasuk perilaku mubazir. Salah satu sebab dari makanan bersisa adalah karena mengambil secara berlebihan.

Dalam kegiatan makan, ternyata ada adab-adabnya. Berikut kutipan dari satu sumber:

Salah satu adab makan yaitu menjilat jari-jari setelah makan, menjilat piring dan memakan makanan yang terjatuh. Dalam Shahih Muslim dari Anas Radhiyallahu anhu, bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bila makan suatu makanan beliau menjilat jari-jarinya yang tiga, beliau bersabda:
 “Apabila makanan salah seorang dari kalian jatuh, maka bersihkanlah kotoran darinya, kotoran lalu makanlah dan janganlah membiarkannya untuk dimakan oleh syaitan!”
Dan beliau memerintahkan kami untuk membersihkan piring (dengan menghabiskan sisa-sisa makanan yang ada), beliau bersabda:“Karena kalian tidak mengetahui di bagian makanan kalian yang manakah keberkahan itu berada.”
Imam an-Nawawi berkata, “Artinya adalah -wallaahu a’lam- bahwasanya makanan yang disediakan oleh seseorang itu terdapat keberkahan di dalamnya, namun ia tidak mengetahui ada di bagian manakah dari makanannya keberkahan tersebut, apakah pada apa yang telah dimakannya atau ada pada yang tersisa di tangannya atau ada pada sisa-sisa makanan di atas piring atau pada makanan yang jatuh, maka seyogyanya semua kemungkinan tersebut harus dijaga dan diperhatikan agar mendapatkan keberkahan makanan, dan inti dari keberkahan adalah bertambah, tetapnya suatu kebaikan dan menikmatinya, maksudnya adalah -wallaahu a’lam- apa yang ia dapatkan dari makanan tersebut (untuk menghilangkan lapar), terhindar dari penyakit dan menguatkan tubuh untuk beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, serta hal lainnya.
Al-Khithabi berkata ketika menjelaskan kepada orang-orang yang memandang aib menjilat jari-jemari dan yang lainnya: “Banyak dari orang-orang yang hidupnya selalu bersenang-senang dan bermewah-mewah menganggap bahwa menjilat jari adalah hal yang sangat buruk dan jorok, seolah-olah mereka belum mengetahui bahwa apa yang menempel atau tersisa pada jari-jari dan piring adalah bagian dari keseluruhan makanan yang ia makan, maka apabila seluruh makanan yang ia makan adalah tidak jorok dan tidak buruk, sudah barang tentu makanan yang tersisa tersebut (bagian dari seluruh makanannya) adalah tidak buruk dan tidak jorok pula.”
Maka, perhatikanlah bahwa adab-adab dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tersebut mengandung anjuran untuk memperoleh keberkahan makanan dan mendapatkannya, seperti juga padanya terdapat penjagaan terhadap makanan agar tidak hilang percuma, yang membantu pada penghematan harta dan pemakaiannya tanpa mubazir.

Waah, ternyata bukan hal yang sederhana ya jika kita menyisakan makanan. Di situ terkandung kemungkinan hilangnya keberkahan dari makanan itu serta pemborosan dan kemubaziran. Kalo disederhanakan, maka makanan yang masuk ke perut kita itu jadi cuma sekedar lewat menuh menuhin perut, hilanglah satu potensi ladang amalan. Duh sayang banget yaa teman..

Jadi, mulai dari sekarang, yuk yuk kita ambil makanan secukupnya dan habiskan tanpa sisa. Ingat lhooo, betapa ruginya jika kita kehilangan satu potensi ladang amal.


Pernah terbersit di kepala, kalo nanti aku hajatan nikahin anakku. Bisa ga ya, aku pasang spanduk kecil di tiap meja bertuliskan: mohon ambil secukupnya, mohon tidak sisakan makanan jadi mubazir. Hahaha jadi pengen tahu reaksi para tamu.

Selasa, 26 September 2017

Keluarga Baru (Lagi)

Setelah bertekad dalam hati buat kurangi kegiatan KI (Kelas Inspirasi) tahun ini, ternyata eh ternyata aku tetep tergoda buat kembali daftar jadi relawan KI. Ya, kali ini KI Cianjur menggodaku, salah satu pelakunya adalah seorang newbride berinisial Wilda.. eh jadi bukan inisial ya haha. Mendaftarlah aku jadi fasil (fasilitator) di injury time, dan ternyata diterima.

Tiga minggu menjelang hari H, panitia bikin grup Whatsapp para fasil. Ada hal unik di grup ini. Orang-orangnya sopan bangeettt hahaha selalu didahului salam lalu tulisan: Punten akang teteh dst. Aku sampe takut nulis komen, karena biasa nyablak. Grup relawan kayak gini biasa orang-orangnya pada “gila”, becanda plus sotoy. Tapi di sini ternyata beda.

Di awal gabung grup aku udah janji dalam hati, ga akan banyak komentar. Tapi eh tetapi di perjalanan napa jadi sering komentar panjang-panjang dengan nuansa saran, protes, bahkan kritik. Hehe ulah kirang hampura nya akang teteh. Tapi itu grup memang uhuy, walopon aku kadang nulis rada pedes, eh tetep dijapri dengan sopan, dan bertanya: gimana teteh, apa penjelasan panitia sudah cukup? Jadi isin abdiii.. Saran, protes itu semata-mata karena aku cinta kalian akang teteh, percayaa ya yaa yaaa.

Seminggu berlalu, tibalah pengumuman relawan pengajar dan dokumentator. Kami para fasil diberi data relawan lalu diminta untuk buat grup per kelompok. Begitu baca list nama relawan di kelompokku, weits keren juga nih. Profesinya lumayan beragam, beberapa cukup bikin aku kagum. Dan mulailah aku menjalankan tugas selaku fasil. 

Barangkali ada yang belum tahu tugas fasilitator KI yang utama? Jadi penghubung antara relawan dengan panitia? Betul tapi kurang tepat. Jadi penghubung antara relawan dengan sekolah? Betul juga tapi masih kurang tepat. Tugas utama fasil adalaahhh MENTEROR para relawan dengan berbagai cara. Apa tujuannya? Memastikan mereka tetap “cukup gila” untuk tidak kabur dan tetap gabung di kelompok sampai hari Inspirasi. Hahaha..

Seperti biasa mulai saling berkenalan. Seperti biasa pula ada yang heboh pake banget, ada yang konsisten silent reader (dan terpaksa menikmati teroran japri fasil), ada yang kasih ide ini dan itu, ada yang begini dan ada yang begitu. Seru dah.

Cuma ada satu cuma. Walaupun dari awal, aku udah pasang nama ceuceu Ani di akunku. Awal-awal mereka panggil ceuceu, tapi satu orang tulis bunda Ani eh lama-lama yang lain ngikutin jadi bilang bunda Ani. Yasalam apakah fotoku di pp nampak jelas bahwa aku memang seumur mamak atau minimal tante bungsu mereka? Wakakak....

Sehari sebelum hari Inspirasi tanggal 9 September, relawan mulai berdatangan ke Cianjur. Karena bos besarku (a.k.a si kecil) baru kasih ijin berangkat habis Maghrib, maka aku baru jalan jam 7 malem dari rumah. Rencana semula mau coba naik bis Marita di Ciawi yang rutenya Jakarta-Cianjur. Tapi di jalan dapet info dari sesame relawan, bisnya udah keburu lewat Ciawi dengan kondisi fully booked tos seueur nu nangtungTak ada alternatif lain, aku pun naik colt alias elf Bogor-Cianjur yang terkenal paling nyaman sedunia itu hahaha. 

Ini pengalaman pertamaku, jujur bikin deg-degan juga buat mamak-mamak ini. Banyak orang bilang si elf ini super ngebut plis zigzag, kayak uji nyali alias wanian. Bahkan satu relawan bilang, wah bunda naik roller coaster. Glegk..

Eh tapi malam itu rupanya aku beruntung. Jalanan rada macet sampe Gadog dan sang sopir ga ugal-ugalan dan tetep lewat jalan biasa, ga pake jalur jalan tikus yang kebayang poek mongkleng. Jam 9-an berangkat dari Bogor, jam stg 11 sudah sampe Cianjur. Aku turun di perempatan Hypermart yang amat legendaris tapi anehnya ga tampak tuh sebelah mana sang emol yang kabarnya satu-satunya di Cianjur itu. Hihi..

Singkat cerita, sampailah aku di rumah markas kami. Pak Kepsek berbaik hati memberi kami satu rumah tempat nginap. Rumah sederhana tapi cukup lah buat kami ber-17. Dinding kamar masih bilik tapi jadinya angeet, plus kami cewek2 ber8 umpel2an kayak pindang haha.. Sayang banget lupa ga berfoto dengan latar belakang rumah itu.

Daaan.. percayalaaah, ini grup KI paling berisik yang pernah aku temui. Ketawa ngakak sampe pada sakit perut akibat ulah satu orang yang bawel hahahaha. Satu orang ajaib yang bikin aku diam-diam jatuh hati.. aaah aahh kaaak..Sampe jam 12 malem masih ada yang ngobrol walau bisik2 karena aku teriak: tidur tiduuurr. 

Entah jam berapa, aku terbangun akibat alarm hp berbunyi. Kaga ada yang bangun. Alarm kedua bunyi trus jadi bersahut-sahutan. Eh belum ada juga yang bangun. Jadilah aku yang bangun dengan kepala berat akibat kurang tidur. Langsung dilampiaskan lewat teriak pelan: wooyyy banguuun woyyyyy!!!

Setelah siap, langsung kami jalan ke SD Bingawati lokasi KI kami, berjarak sekitar 400 meter. Waah, anak-anak ternyata sudah dataaang, padahal baru jam 6.20. Mereka tadarus di kelas masing-masing. Aku intip muka-mukanya. Duuh nyes banget deh lihat mata polos mereka.

Setelah persiapan ini itu, KI dimulai dengan pembukaan sekitar 30 menit. Yang paling fenomenal adalah bagian flashmob. Widih kak William berhasil menyihir anak-anak buat menari bersama dengan lagu Setinggi Langit. Ini lagu aseli liriknya bagus banget, pas pisan sama nafasnya KI. Coba deh simak.

https://www.youtube.com/watch?v=eU9ix-mPZGc

Tibalah saat para pengajar masuk kelas. Jreng jreng silakan beraksi kawan kawaan. Sebagey fasil, aku cukup rempong juga, akibat terjadi salah komunikasi dengan pihak sekolah. Sehinggaaa buru-buru revisi jadwal. Untungnya mereka teuteup semangat dooong. Alhamdulillah, lancar semuanya walopon rada rempong di sana sini. Fasil tandemanku kece banget deh, wara wiri tanpa henti bantu atur ini dan itu. Love youu.. 

Sambil jalan ngecek per kelas, aku amati cara mereka berbagi ke anak-anak. Berbagi tentang profesi masing-masing. Profesinya ada penari, dokter, guru, akuntan, pajak, analis kimia, IT. Menarik banget kalo bisa sampe ke benak anak-anak. Betapa nanti ketika mereka besar, ada begitu banyak profesi atau pekerjaan yang bisa mereka tekuni. Begitu banyak pilihan cita-cita. Harapan kami, mereka bisa semangat sekolah buat capai cita-cita itu. Indah banget kaan...

Sekitar jam stg 12, kelas pun disudahi dan mulai persiapan penutupan. Karena sudah siang, rencana kami cuma sedikit pidato dari sekolah lalu foto bareng. Tapi begitu, kak Willy tawari anak-anak apa mau flash mob lagi. Serempak mereka teriak dengan mata berbinar: mauuuuuu. Hahaha, padahal udah puanas boooo. Jadilah “Setinggi Langit” kembali berkumandang. Tak cukup sekali, mereka mau dua kali. Ampuun semangatnyaaa.

Sambil siap-siap pulang, mereka antri salim ke kami para relawan. Beberapa aku rangkul sambil ngobrol singkat tentang cita-cita masing-masing. Ada satu anak yang bercita-cita jadi arsitek, dan asyiknya dia bisa cerita sederhana tentang arsitek itu apa. Tak lupa aku bisikkan kata-kata penambah semangat seraya berdoa dalam hati: sekolah terus ya nak, sampai cita-citamu tercapai.

Setelah silaturahmi sebentar dengan pihak sekolah (kepsek dan para guru), kami pun pamit pulang. Kumpul dengan kelompok lain di sesi Refleksi, lalu bersiap masing-masing pulang. Pulang ke Bogor, kebetulan ada yang bisa ditebengi relawan dari Jakarta. Dilalah, dia mau dulu belok ke Bogor, kasihan ceunah sama emak2 hehe rejeki emak soleh...eeehhh.

Di jalan pulang, aku kilas balik KI Cianjur seharian tadi. Tetep, masih ada beberapa bolong, introspeksi selaku fasil. Sedikit gemes sih jujur hehe.

Kembali terbentuk satu keluarga baru: satu bunda yang bawel plus sedikit garang (hhmmm... capa itu yaaaa?), dua tante ayune yang sigap order pin plus rela begadang masangin pitanya, 12 anak-anak ketemu gede yang karakternya amat beraneka: mulai dari yang suka jaim plus sok serius, yang kocak motah pisan, yang hiperaktif sampe pusing baca komentarnya yang ga putus, yang kalem tapi penolong banget, yang silent reader eh ndilalah jadi partner in crime gue... Hahaha... Makasih semuaaa, ketjup basah virtual..

Keep in touch, ojo lali ulah hilap!!

Akuu bisaaa jadi apa sajaaa
Setinggi langit di angkasa
yang tak ada batasnyaaa
Akuu bisaa kalau aku mauuu
Cita-cita dan mimpikuuu
Setinggi langiiiit...
*credit to Naura

Selasa, 19 September 2017

Anti Mainstream

Aku mungkin termasuk orang yang cenderung anti mainstream.

Haha entah kenapa tapi setelah bertahun-tahun aku analisis diri sendiri, sampailah pada kesimpulan –yang mungkin ngasal- ini. Mungkin anti mainstream ini dipengaruhi oleh sikapku yang cenderung soliter dan kurang ekstrovert (dulu).

Ingat dulu jaman masih unyu di SMA, di sekolah punya sih beberapa sobat. Tapi kalo jalan ke suatu tempat dan sobatku ga bisa, ya udah aku jalan sendiri. Ke toko buku Gramedia –yang dulu cuma ada satu-satunya di Bandung- sendiri, ke toko kaset sendiri, bahkan pernah dua kali nonton juga sendiri. Haha ini mah kayaknya gabungan antara anti mainstream jeung euweuh batur. Pilih bimbel juga aku mah sendiri we ga nyari yang ada temen satu sekolah. Dulu aku SMA 1, tapi milih bimbel Saut yang isinya banyak banget anak SMA 3. Ga ada yang kenal hihi tapi cuek we teteep bimbel.

Maksudku, aku suka merhatiin beberapa teman yang menggantungkan diri pada orang lain. Mau daftar les minta ditemenin trus milih yang ada banyak temen di tempat les yang sama. Mau makan tunggu temen, kalo ga ada temen ga jadi. Menurutku mah sengsara ya hidupnya haha..

Hal itu terjadi juga pada pilihan baju. Memang ada masanya ketika aku ikut-ikutan pake baju yang seirama temen cewek satu kelas ketika SMA. Tapi sebagian besar, pilihan bajuku tak sama dengan pilihan orang pada jamannya haha. Jamannya orang seneng pake baju warna cerah, aku mah tetep we konsisten dengan pilihan nuansa hijau yang kalem dan ga berani pake warna kinclong. Yes sampai sekarang hijau adalah paporit aye.

Kemudian ketika lulus kuliah dan pilih tempat kerja. Waktu aku lulus, kebanyakan alumni pilih jadi konsultan. Kala itu konsultan lingkungan lagi booming, banyak banget orang yang butuh. Ikut-ikutan kerja kayak konsultan setahun tapi aku lalu daftar PNS. PNS daerah haha kalo ini beneran anti mainstream. Ada beberapa alumni yang jadi PNS tapi sebagian besar PNS di tingkat pusat.

Apa alasan utamaku? Aku melihat masalah lingkungan sudah mulai banyak. Dan tidak banyak garis miring sedikit banget alumni yang jadi PNS daerah. Aku fikir kalo masalah lingkungan itu cuma ditangani konsultan atau LSM lingkungan tapi ga ada orang di pemda nya yang paham, pasti solusinya kurang gereget. Hihi hipotesa new fresh grad yang entah benar entah tidak.

Daan mendaftarlah aku testing CPNS lalu tes lalu lulus haha.. Dan tahun ini pas aku sudah dua puluh tahun ini mengabdi jadi aparat negara.

Langkah kedua yang anti mainstream adalah ketika aku mundur dari jabatanku 3 tahun lalu. Waktu itu aku sudah di struktural eselon 4, sekitar 7 tahun berjalan. Lalu terjadilah suatu pergulatan dalam batinku yang akhirnya ambil keputusan mundur dan memilih jalur fungsional. Ada banyak orang mempertanyakan, karena walaupun baru eselon 4 tapi ternyata banyak juga ya yang kepengen atau belum dapat kesempatan. Istilahnya mah elu tuh udah dapet rejeki jabatan, eh malah disia-siakan. Eits tapi tunggu dulu, justru aku mundur supaya yang kepengen itu bisa duduk di situ. Bener ga? Hehe..

Bay d wey baswey, anti mainstream itu seru lhooo, karena jadi orang yang berbeda trus kan jadi tampak jelas di tengah kerumunan orang-orang yang mainstream hahahaha....


Minggu, 10 September 2017

Bertanya tapi Bukan Kepo

Sejak kecil aku hobi bertanya. Itu kata ibuku.
Atau mungkin lebih tepatnya suka mempertanyakan sesuatu,
Satu kali ibu pernah cerita, aku pernah bertanya kenapa rambut bapak itu berwarna putih? Kenapa ibu itu bisa meninggal? Hehe aneh ga sih anak kecil bertanya hal-hal kayak gitu?

Dan itu tampaknya menurun pada anakku. Sejak umur 2-3 tahun, dia hobi bertanya: kenapa begini, kenapa begitu, Sekitar umur 6 tahun, dia pernah tanya, di mana Allah itu? Nah lhoo, gimana coba cara neranginnya dengan bahasa anak-anak.

Seiring usia, aku suka mempertanyakan hal-hal yang mungkin buat orang lain ya elah kayak gitu aja ditanyain? Kadang itu menyiksa, kenapa? Karena aku jadi prihatin pada banyak hal.

Kalo liat orang buang sampah senbarangan, kenapa sih tuh orang maen lempar aja sampah ke jalan?
Kalo liat ibu-ibu merokok di tempat umum, dalam hati bertanya, itu emak kaga mikir apa ya dampak asap rokok buat anaknya?

Di lain pihak, aku kadang merasa: gue kok kayak ga punya kejurangan aja yaa, liatin macem2 kekurangan orang. Jadi kayak ga introspeksi, padahal hadeuuhhh aku juga pasti punya banyak hal-hal buruk.

Beruntung, aku lalu ketemu banyak orang muda yang lebih santai, dari mereka aku belajar lebih selo.

Jumat, 04 Agustus 2017

DISIPLIN


Disiplin.
Description: Hasil gambar untuk disiplin diri
Disiplin itu maknanya bisa luas banget, bisa tentang individu, keluarga, maupun masyarakat luas. Disiplin di rumah, sekolah, dunia kerja, dan lingkungan yang lebih luas lagi.
Kali ini, aku pengen berbagi tentang disiplin orang Jepang.
Jadi pada suatu masa tepatnya tahun Februari 2016, dapet rejeki ga disangka-sangka, ikut dalam rombongan kunjungan ke Hiroshima, Jepang, dalam rangka kerjasama Kota Bogor dengan Hiroshima Prefectures.
Description: Hasil gambar untuk disiplin diri
Sumber gambar: http://karakterbangkit.blogspot.co.id/2016/09
Kunjungan ini sifatnya training, jadi plis jangan diasosiasikan dengan perjalanan luar negeri yang main-main hehe. Tujuh hari di sana aktivitasnya amat padat (mereka kayak gam au rugi haha), dari pagi sampai sore, diisi kegiatan di kelas sampai kunjungan lapangan.
Ini kunjungan saya pertama kali ke Jepang, semoga banget lain waktu bisa ke Jepang lagi hehe. Dan saya dibuat terkagum-kagum dengan disiplin mereka. Walaupun sering banget liat di tivi atau media, tentang betapa disiplinnya mereka, tapi tentu beda dengan ketika kita menyaksikan sendiri.
Disiplin antri
Menuju ke Hiroshima, kami diberi rute pesawat lalu disambung kereta api. Salut pertama adalah disiplin antrinya mereka. Patuh berbaris satu satu di belakang garis kuning yang jadi batas antrian. Tak perlu ada petugas yang mengatur. Ketika kereta berhenti, yang naik mendahulukan yang turun. Kereta berhenti cuma sekejap, tapi dengan tidak saling berebut, aman-aman aja tuh ga ada yang tertinggal. Tak ada yang berani duduk di kursi prioritas selain yang berhak. Kursi-kursi itu dibiarkan kosong aja.
Beda kan dengan di kita. Antrian malah dibikin memanjang, ada banyak orang yang cuek berdiri di depan garis kuning. Patroli kereta udah prit prit ngingetin, ih damaang weee. Begitu kereta berhenti, yang mau turun sering terhalang barisan yang mau naik, belum lagi berebutan naik. Kursi prioritas? Uh tetep didudukin oleh yang jelas-jelas ga berhak. Mungkin kalo duduk sementara ga masalah, begitu yang berhak naik, trus dia pindah. Ini sih engga, ada banyak yang cuek aja (pura-pura) bobo nyenyak, dan perlu pak patrol turun tangan maksa dia pindah. Duh..
Dua hari lalu, pengelola comline sudah ada upaya ke situ, seperti di video berikut.
KEsimpulannya? Yuk mulai disiplin diri dengan tertib antrian di stasiun kereta. Malu dong ah, udah dicoba disedikan berbagai fasilitasnya sampe dibikinin garis antrian gitu terus kita nyelonong aja gam au antri.




Beberapa kali kami kunjungan ke suatu kantor atau ke rumah makan, kami masuk ruangan harus buka sepatu dan berganti sandal yang sudah disediakan. Tau sendiri dong, lepas sepatu itu kita lepas begitu aja dang a perhatian gimana posisinya. Daan ketika kami keluar ruangan, sepatu kami sudah disusun rapi berjejer hahaha... Edun pan.




Selasa, 25 Juli 2017

Allah Maha Baik

Allah Maha Baik

Dalam segala kurang dan kotorku
masih saja
Kau turunkan berkat dan karuniaNya
Berlimpah ruah

Terbangun di pagi hari
dengan anggota tubuh sempurna
seperti hari sebelumnya
Tanpa resah

Kau beri aku energi cukup
untuk siapkan beraneka
sebagai  ibu dan istri
Engkau karuniakan
makanan minuman
untuk pulihkan energi kami
Tanpa susah

Malam pun tiba
Kutatap “bulan” dan “matahari”ku
Qurrota a’yun
semoga sampai kelak ya nak
Tetap istiqomah

Kupandang “bintang” di sampingku
Imam dan penyeimbangku
Semoga…
Alhamdulillaah yaa Allah

Ibadahku di hari itu
hanya bisa dihitung jari tangan
sebelah pula
Dosaku di hari itu
mungkin malah bertambah-tambah
Aibku di hari itu
telah Kau tutupi
Alhamdulillah...

Allah Maha Baik

Lalu tersungkur aku
bersujud pada-Mu
yaa Allah
Arrohmanirrohim




Minggu, 16 Juli 2017

Pilih-pilih Sekolah Anak

Tentunya, ada banyak pertimbangan buat ortu ketika milih sekolah buat anaknya. Yang utama adalah pasti anak akan dipilihkan sekolah yang terbaik. Ini bicara tentang pendidikan dasar ya manteman hehe.. ketika anak belum bisa 100% diberi tanggungjawab buat milih sekolahnya.

Aku sendiri dan suami punya beberapa pertimbangan ketika milih SD dan SMP buat anak-anak kami. Berikut beberapa poinnya:

Buat tingkatan SD, kami sepakat pilih sekolah Islam Terpadu.

Walaupun dari segi biaya memang cukup menguras kantong PNS cem kami ini hehe. Tapi kami percaya itu investasi, tidak hanya buat si anak tapi juga buat lingkungan dan masyarakat. Aku ingat, sewaktu isi form pendaftaran dan sampai pada kolom: Apa harapan ayah/ibu menyekolahkan anak di sini? Kurang lebih ini jawabanku: saya berharap anak bisa berkembang potensi uniknya serta punya keseimbangan antara SQ, IQ dan EQ. Semakin menurunnya kualitas manusia aku pikir salah satu sebabnya adalah akibat kita terlalu mengagungkan yang namanya IQ. Anak dijejali dengan berbagai materi tanpa diiringi pengayaan batinnya. Hasilnya? Makin banyak perilaku permisif yang amat sangat memprihatinkan pisaannn!!!

Potensi unik juga penting, karena tidak semua anak pintar matematika. Ada anak yang suka menulis maka dia kuat di potensi verbal. Ada anak yang punya bakat seni, jadi tentunya ga perlu dipaksa dijejali sains yang njlimet. Ada anak yang kuat hafalan, maka dia potensi jadi hafidz Quran. Intinya anak tidak disamaratakan. Kenali potensinya dan kembangkan yang positif lalu diajari kelola yang masih kurang positif.

Betul, sekolah umum memang gratis, tapi rasanya sayang kalo anakku cuma dapet materi pelajaran umum yang hanya mengasah IQnya. Di sekolah IT, anak akan mendapat pembiasaan ibadah dan penanaman akhlak. Berarti SQ dan EQnya akan juga terasah. Akhlak pada guru/ortu, pada teman, sampai pada OB yang sehari-hari menjaga kebersihan sekolah pun anak-anak tidak pernah melecehkan.

Dari segi biaya yang memang lebih mahal dari umumnya sekolah lain, tapi kami merasa itu memang kembali pada anak. Fasilitas yang memadai, jumlah dan kualitas guru yang baik, lingkungan yang bersih dan hijau, dan lain-lain. Tentang guru ini, aku masih ingat ketika Kaka SD, anak-anak itu gak ragu buat gelayutan di tangan pak Kepseknya. Hehe hal yang jarang dijumpai di sekolah umum. Guru sudah terlalu ribet dengan mengajari minimal 40 anak, belum lagi tugas-tugas administrasi yang bikin kening makin berkerut.

Komunikasi yang nyaman dengan guru dan pihak sekolah jadi poin tersendiri. Ketika bisa menyampaikan saran atau keluhan pada mereka tuh rasanya nyaman yaa. Pembiasaan di sekolah bisa sinambung dengan di rumah.

Ketika beranjak ke SMP, maka pertimbangan kami sedikit berbeda.

Kami masukkan anak-anak ke sekolah negeri. Kenapa? Kami ingin mereka punya lingkungan yang lebih beragam, baik positif maupun negatif. Di situ ada banyak peluang buat memperkaya hati dan pikirannya. 

Anak akan bertemu dengan teman yang agamanya beda, berarti dia akan belajar toleransi. Anak mungkin ketemu dengan teman yang suka mem”bully”, maka dia akan belajar cara2 survive. Anak akan bertemu dengan teman yang berstatus sosial beda, mungkin ada anak satpam, anak direktur, anak dokter terkenal, dsb. Di situ dia akan belajar tentang keragaman. Ada banyak mungkin-mungkin lain yang rasanya sulit dijumpai jika dia tetap bersekolah di sekolah IT. Agama sudah jelas sama, status sosial cenderung homogen, guru-guru yang amat care. Anak perlu sedikit keluar dari zona nyamannya.

Di sisi lain, karena ia sudah punya bekal tentang agamanya di SD, maka kami tidak terlalu kesusahan buat ngingetin mereka. Beberapa kali Kaka ditugasi tadarus atau jadi imam shalat berjamaah di SMPnya. Bukannya mau muji sendiri hehe, tapi ketika konsultasi dengan wali kelasnya, maka kesimpulan utama mereka adalah: Kaka tak ada masalah dan sudah mulai muncul berbagai potensinya, seperti jiwa kepemimpinannya. Rasanya bersyukur banget, kami sudah bekali dia pondasi yang semoga cukup buat selalu recharge sampai dia besar nanti.

Lingkungan sekolah.
Aku berusaha mencari sekolah yang cukup punya lingkungan terbuka, sehat, dan hijau. Ini berlaku ketika memilih SMP. Ada beberapa sekolah baik yang ada di lingkungan pasar atau padat, maka itu langsung aku coret dari alternative hehe. Aku tak mau, anakku tercemar Pb akibat emisi sumber bergerak/transportasi (haha.. naluri TL). Belum lagi, ruang terbuka buat anak berinteraksi dan beraktivitas motorik. Kadang liat beberapa sekolah, aku langsung eungap haha.. karena ruang terbukanya cuma sepetak taman di tengah dikelilingi ruang kelas berlantai tiga.

Akses.
Anak harus belajar mandiri. Setelah pertimbangan lingkungan, maka jalur angkot yang lewat sekolah jadi poin selanjutnya. Kaka dulu sekolah cukup dengan satu kali naik angkot lalu jalan sekitar 100 meter. Pulangnya turun angkot, jalan 300 meteran sampe deh ke rumah. Cuma kadang-kadang aja dia dianter atau bareng aku ke kantor, karena aku mesti gedombrangan dulu nyiapin adiknya sekolah. Mungkin tega ya, tapi gapapa. Sekali-kali dia harus dibenturkan dengan sedikit “kesengsaraan” haha.. 

Nah, itu beberapa pertimbangan penting ketika aku memilih sekolah buat anak-anakku. Cekidot..

Tentu lengkap dengan doa semoga ia dapat berkembang sesuai harapan.

Rabu, 05 Juli 2017

Ema, Ibu Terbaik buat Aku

Ema

Tiga huruf itu adalah panggilan ibuku tersayang dari kami anak-anaknya. Ema dalam bahasa Sunda berarti Ibu.

Sampai detik ini, setiap mengingat sosok Ema, selalu ada rasa perih di hati. Perih karena mungkin semasa hidupnya, aku belum berbuat yang terbaik untuknya. Kadang timbul rasa penyesalan, walau kutahu itu tak berguna. Segera kulafazkan Al Fatihah beserta serangkaian doa untuk almarhumah.

Sebagai tanda cintaku pada Ema, kucoba tuliskan semua hal tentang beliau, sosok penyayang plus melankolis yang suka segala sesuatu berjalan baik dan rapi.

--

Istri

Sebagai istri Apa, Ema selalu memastikan Apa gemah ripah loh jinawi hehe. Salah satu contohnya adalah pakaian. Setiap pagi, baju Apa sudah siap, dari mulai pakaian dalam sampai kemeja dan celana panjang yang Ema padu padankan. Berhubung baju kerja Apa terbatas, maka Ema selalu pastikan jadwalnya sesuai supaya ketika masuk mengajar di kelas yang sama, baju Apa berganti, tidak itu-itu saja hehe.

Hasil cucian dan setrikaan Ema mungkin bisa disandingkan dengan hasil laundry mahal. Bersih wangi walaupun tanpa pewangi, trus rapii jaliii… kalo dipegang itu angeett gituu.
Ema hafal banget dengan jumlah pakaian Apa. Jika ada yang mulai sobek sedikit, Ema langsung menisiknya dengan rapii sampai tak terlihat. Dan selalu ada baju cadangan untuk Apa, entah itu baju dalam ataupun kemeja, yang disimpan di tempat khusus di lemari.


--

Ibu

Aku anak keempat sekaligus satu-satunya anak perempuan. Ada satu masa ketika aku merasa lebih dekat pada Apa, ayah kami. Waktu SMP, aku bahkan pernah diajak Apa nonton Persib di Stadion Siliwangi haha.

Lalu ada masanya ketika hubungan aku dan Ema begitu mesra. Itu terutama terasa ketika aku telah lulus kuliah dan mulai belajar kerja. Setiap Sabtu aku pulang, di rumah Ema sudah masakkan makanan kesukaanku dan kami bisa ngobrol berjam-jam cerita ini itu.

Tapi ada masanya juga, ketika kami berdebat cukup panas akibat saling ngotot dengan pendapat masing-masing. Ini sering terjadi ketika aku sudah menikah dan punya anak. Aku merasa sudah dewasa dan berhak punya pendapat sendiri. Sementara Ema mungkin masih beranggapan aku anak bungsunya yang masih perlu dibimbing.

Dulu ketika lulus SMA, Ema pengen aku jadi guru. Jadi guru, tak perlu tiap hari ke sekolah, anak libur sekolah kita ikut libur. Guru jaman itu tak perlu ke sekolah tiap hari. Ke sekolah terutama ketika ada jam mengajarnya atau ada rapat guru. Tapi kala itu, dengan pedenya aku menggeleng. Pengen jadi insinyur.

Padahal sekarang setelah punya anak, baru terasa betulnya pertimbangan Ema. Anak-anak masih libur tapi aku mesti ngantor. Waktu kecil, mereka sering kubawa ikut ke kantor. Sekarang setelah besar, kadang mereka manyun karena aku mesti ngantor sementara mereka pengen liburan deket-deket emaknya.

Tekanan pekerjaan juga tentu berbeda antara kantoran macem aku dengan guru. Kalo ketemu guru anak-anakku, kok rasanya hidup mereka damaiiii yaaa. Plus ladang pahala ketika ilmu yang kita ajarkan itu diamalkan anak-anak didik kita.

Tapi apakah Ema atau Apa paksakan kehendak? Tidak.

Dengan sepenuh hati, mereka dukung aku capai cita-cita itu.

Terutama untuk urusan sekolah, kalo kata basa Sunda mah: hulu dijieun suku, suku dijieun hulu. Dengan segala daya upaya, kebutuhan sekolah anak-anaknya selalu mereka upayakan. Guru masa itu belumlah sesejahtera masa kini, dengan apresiasi semacam sertifikasi dsb. Alhamdulillah keempat anaknya kuliah di perguruan tinggi negeri jadi tak terlalu berat.

Ema bilang berkali-kali. Tugas utama anak-anaknya adalah belajar. Karena Ema dan Apa tak bisa wariskan harta, cuma ilmu yang bisa mereka wariskan. Ya ilmu.
Prinsip yang sampai sekarang selalu aku pegang dan aku teruskan ke kedua anakku. Dengan ilmu, hati dan pikiran kita menjadi luas. Dengan ilmu, cara beragama kita menjadi lebih bijak.

Satu prinsip Ema yang terus membekas di hati adalah memastikan anak-anaknya cukup makan dan sandang. Setelah dewasa, aku baru perhatikan, Ema selalu “ngaduakeun huap”. Belum akan makan sebelum anak-anak dan suaminya cukup kenyang. Belum akan beli baju baru sebelum anak-anaknya punya baju baru. Baju baru kami hanya dibeli setahun sekali jelang Lebaran. Sepatu baru hanya dibeli ketika kami naik kelas. Tapi kok itu ga bikin kami minder yaa hehe enjoy ajaahhh..

--

Guru

Ema seperti halnya Apa, adalah guru. Bermula dari guru SD selama puluhan tahun, guru bahasa untuk kelas 1. Kami anak-anaknya juga diajar Ema, lengkap beserta segala kelucuannya haha.. Di kelas, kakakku pernah mengacung dan refleks panggil: Emaaa haha bukannya bilang bu guru.

Ema mengajar anak unyu-unyu itu sejak dari mengenal abjad. Pengenalan abjad itu ternyata ada tahapannya, huruf mana yang dikenalkan lebih awal lalu bertahap ke kumpulan huruf lainnya. Kala itu, di TK memang tidak diajarkan membaca seperti sekarang. Lalu menulis pun diajari bertahap. Satu kumpulan huruf dulu lalu sekumpulan huruf lainnya. Ternyata dalam membaca dan menulis itu memang disesuaikan dengan perkembangan anak, ada ilmunya. Tidak sembarang. Mungkin tak banyak orang tahu yaa hehe..

Lalu, ketika SD itu “dibubarkan”, Ema terpaksa menjadi “guru mahasiswa” atau dosen. Hal yang berulang beliau katakan bahwa jadi dosen tidak menyenangkan, jadi guru SD jauuhh lebih asyik baginya.

Itu beliau jalani sampai pensiun.

--

Sederhana

Aku rasa Ema adalah salah satu orang paling sederhana di muka bumi ini.

Ketika para tetangga punya kompor gas, Ema masih setia dengan kompor Toyoset nya, yang kudu dicek lalu diganti sumbunya secara berkala. Berhubung Ema orangnya apik banget, maka tuh kompor awet banget. Kompor gas beserta tabungnya baru bertengger di dapur kecil kami ketika aku SMA. Haha….

Belum lagi kulkas. Walaupun anak-anaknya merengek minta beli kulkas akibat iri liat temennya bisa makan es bikinan sendiri. Tapi Ema keukeuh peuteukeuh. Kulkas baru ada ketika kakakku udah kerja trus beliin kulkas, itu pun second.

Plus beliau sebetulnya punya jiwa ke-TL-an lebih dari anaknya hihi.

Air cucian beras tidak pernah dibuang, selalu Ema tampung buat siram tanaman kuping gajah kesayangannya. Alhasil kuping gajah di pot itu jadi bagus banget, daunnya lebar dan berkilau gitu deh keknya. Air bekas wudlu pun beliau tampung lalu dipakai buat siram rumput di halaman depan rumah.

--

Rapi



Ema orangnya suka kebersihan dan kerapihan. Walaupun rumah kami amat sederhana, tapi selalu bersih. Lantai semen tak berkeramik tapi selalu licin bersih, kamar mandi selalu bersih dengan bak dan lantai yang rutin dibersihkan, halaman rumput yang selalu disapu tiap pagi. 

Setelah berumahtangga, nilaiku dalam kebersihan dan kerapihan mungkin merah di mata Ema haha.. Jujur aku tak suka bebenah.

Ketika Ema dan kemudian Apa wafat, kami mulai bongkar lemari Eni dan lalu takjub. Betapa rapinya Eni. Surat-surat dari kakakku yang kuliah di Bogor masih ada, foto-foto kala kami kecil, bahkan undangan reuni SD angkatanku masih ada di lacinya.

Piring mangkok dan wadah-wadah jadul masih tersusun rapi di lemari. Alhamdulillah aku jadi dapet banyak warisan alat rumah tangga yang masih bagus walaupun sudah bertahun-tahun tak dipakai.

---

Rasa sayang

Jujur, Ema bukanlah orang yang someah atau langsung banyak senyum ketika baru kenal seseorang. Mungkin bahkan ada orang yang menganggap beliau sedikit judes hehe. Taapii, jangan tanya kalo beliau udah sayang sama seseorang. Sampai kapanpun beliau bakal inget orang itu, kalo punya sesuatu yang orang itu suka pasti beliau sisihkan buat dikirimkan. Ema penyayang dengan caranya sendiri.

--

Aku

Ada beberapa masa dalam hidupku ketika dukungan Ema begitu terasa nyeess ke hati ini.
Ketika Tugas Akhir S1, entah kenapa kala itu aku terkena stress yang cukup parah. Ga bisa tidur, ga mau makan, sampai kuruusss. Mungkin ada turun berat badan 10 kg.  Stress akibat takut ga bisa beresin TA.

Tak banyak orang yang tahu, kala itu setiap malam aku baru bisa tidur di pelukan Ema. Ema tak pernah memarahiku dan bertanya kenapa aku bisa bertingkah seaneh itu, yang beliau lakukan cuma satu: memeluk aku sepanjang malam.

Lalu buat urusan asmara ahaayyy…. Aku termasuk telat untuk urusan asmara atau cinta cintaan ahaayyy. Kala SMP, aku cukup ngeceng seseorang dari kejauhan, tanpa berani mendekat. Kala SMA juga begitu, walaupun ada kemajuan sedikit. Ada satu dua orang yang nyatain (nembak kali ya jaman now mah haha) tapi sayangnya yang nembak bukan yang dikeceng. Hahaha..kasihan kasihan kasihan (upinipin).

Aku jatuh cinta lalu pacaran betulan ketika kerja di suatu kantor. Jatuh cinta yang penuh derai air mata akibat banyak kebodohan. Baper to the max pokoknya deh.

Tapi apa reaksi Ema? Ema tak pernah melarang aku berhubungan dengan doi. Walaupun mungkin dalam hatinya, beliau tak sepenuhnya setuju. Ema dan Apa seperti menggiring aku (tanpa sadar) supaya kepentok sendiri baru kebangun. Ema tahu kalo aku dilarang, pasti aku akan melawan dengan berbagai cara.

Dan akhirnya itu berakhir dengan baik. Setelahnya aku baru tersadar: betapa begonya gueee!!!! Tapi mungkin memang begitu jalan yang harus aku lalui, naik turun dalam rangka belajar dewasa.

Lalu tiba masanya ketika aku merasa sudah cukup dewasa dan tidak suka beliau turut urun pendapat. Lalu merasa berhak untuk berdebat panjang dan mungkin berani bicara dengan nada tinggi. Pada ibuku. Ibuku yang telah mengandung 9 bulan dengan susah payah. Ibuku yang telah mendidik dan merawatku sampai dewasa. Ibuku yang rela mengasuh kedua buah hatiku pada masa tuanya yang mestinya “disenangkeun”.

Nauzubillaah. Hapunten anu kasuhun, Ema.

Kadang ingin rasanya bertanya, apakah sebagai anak aku telah lakukan yang terbaik buat Ema dan Apa. Namun tanya itu cuma bisa aku bisikkan dalam doaku. Semoga apa yang telah aku capai bisa buat mereka bangga.

Khusus buat Ema, ibuku tersayang. Sampai hari ini, kadang masih timbul rasa sesal, betapa masih banyak peerku sebagai anak. Betapa “culangung”nya aku. Pengorbanan beliau buat aku dan anak-anakku tak kan terbalas sampai kapan pun.

Buat aku, Ema adalah ibu terbaik.
A devoted wife, a loving mom, a dedicated teacher.

Haturnuhun Emaaa...


*menulissambilmrebesmili

Selasa, 13 Juni 2017

Kenangan Mamak Baperan

Aaahh… hari itu - hari terakhir bagi rapot - kok rasanya pengen berlama-lama di sini. Satu lingkungan yang telah warnai hari-harimu, nak. Selama enam tahun. Yang telah ikut bentuk kamu jadi seperti sekarang: berproses terus menerus, belajar senantiasa berpegang pada tali Allah dan mencontoh sunnah Rasul kita.


Rasanya pengen kilas balik jadinya.



Di ruangan ini nak, ibu tunggu giliran wawancara dengan sekolah. Baru pertama kali ibu masuk ke situ. Masih asing dan terasa kagok. Awal daftar, namamu masih ada di waiting list. Nomor empat, ibu inget banget. Tapi rupanya Allah memang sudah gariskan kamu sekolah di situ, dan ibu dipanggil buat wawancara dan kamu observasi. Wawancara yang jujur buat ibu sedikit underpressure hehe.. Tibalah hari pengumuman, dan kamu diterima. 

Alhamdulillah.





Ini ruangan kelas pertamamu, kelas 1 B, bersama 25 anak lainnya, dibimbing ustadzah Merry dan ustadzah Dewi. 

Kesan membekas pertama adalah ketika bagi rapot. Semua anak dapat piala, masing-masing satu. Ada yang bertuliskan: paling rajin tersenyum. Ada lagi: paling suka berteman. Lainnya: pintar matematika. Ada lagi: suka menyanyi. Waah, mataku terbelalak salut atas kreativitas ustadzah. Mungkin kala itu, ada masanya anak-anak bete atau sutres dengan lingkungan baru. Tapi ustadzah berhasil kenali potensi setiap anak. 

Betapa anak dihargai dengan potensi apapun yang dia miliki.





Lalu naik kelas 2B. Ketika bagi rapot selanjutnya, ada satu komentar ustadzah yang masih ibu ingat sampai sekarang. Ilman itu suka ngambek atau nangis, mam. Bukan karena cengeng. Tapi sebabnya kalo ngingetin temennya, lalu temennya ga mau nurut. Misal temennya ribut, lalu Ilman bilang: Jangan ribut dong, kata ustadzah ga boleh ribut. Tapi giliran temennya ga nurut, dia ngambek trus nangis. Ahahahayy anaak… kamu rupanya warisin sifat ibu yang suka ngatur-ngatur yaa…

Semoga itu jadi salah satu dasar kelak kamu jadi pemimpin.





Lalu kamu naik kelas 3 kelas 4, bersama ustadzah Evi & ustadzah Vion. Ustadzah Evi favorit mama-mama. Cepat tanggap dan komunikatif. Alhamdulillah, sifat di kelas kecil itu perlahan membaik ya nak. Kamu mulai dewasa dan lebih mandiri. Plus kritisnya ituuu… Kamu sekarang sudah menjelma jadi kritikus setia ibu dan ayah ketika kami mulai kendor ibadahnya. Diskusi di ruang tengah rumah kita, makin seru karena kamu makin kritis banyak bertanya banyak hal.




Masjid....

Yak, di masjid sederhana namun terasa nyaman ini, kamu mulai pembiasaan ibadah sejak kelas 1. Shalat Dluha setiap pagi lalu dilanjut Qiroati. 

Di kelas 4, kamu mulai tuntaskan satu pencapaian. Khotmul Quran berhasil anak capai. Ibu ingat waktu tes khotmul, ibu intip2 di luar masjid.

Satu pencapaian yang sampe sekarang masih bikin ibu amaze. Betapa sayangnya Allah pada ibu dan ayah, karuniakan kamu nak.






Lapangan....

Ketika kamu mulai suka futsal, tiada hari tanpa obrolan tentang futsal.  Di lapangan ini, kalian para ikhwan biasa habiskan energi buat main bola. Apalagi kalo Sport Day. Ibu dan mama2 lain bersorak sorai, semangati kelas masing-masing. Kala itu kamu sering beraksi jadi kiper. Masih terbayang muka puasmu ketika berhasil menahan bola, tapi kadang tampak muka nyureng-mu ketika gawang kebobolan. Hahaha anaakk..


Oya satu lagi, ketika kamu Try Out with Parents di awal kelas 6, waktu istirahat, para anak ikhwan langsung berhamburan ke bawah dan main bola. Sementara para anak akhwat tak ada satu pun yang keluar ruang kelas. Aahh seru yaaa…


Lalu koridor ini, ada banyak cerita tentang Market Day. Kehebohan mama2 nyiapin berbagai jualan anak-anak. Pernah sekali ibu ikut jualan pudding, waktu kamu kelas 5. Mama Danish jualan tekwan dan mama Daffy jualan kebab. Ustadz Ade dan ustadz Toni juga semangat banget nyiapin aneka property buat dukung anak-anak jualan. Ada satu tagline jirowes ibu selipkan kala itu hahaha… Jika gelas pudding kembali, maka si pembeli dapet satu gelas aqua gratis. Untungnya banyak juga ya nak. Haha.. langsung kita hitung di kelas lalu kita bagi rata.


Lalu tiba masanya kamu mulai pra dewasa. Berbekal pengalaman handle Kaka ketika seusiamu, kita lebih banyak berdiskusi santai, bahas tentang bekal praktis buat kamu hadapi masa-masa ini. Walaupun sempet kesrimpet dikit ya nak hehe tapi kita bisa melewatinya. Kaka juga jadi tempat bertanya ibu. Satu hal yang pasti nak, apapun yang kamu hadapi, cukup cerita pada kami: ayah, ibu dan Kaka.



Oh ya, ibu berhasil foto Pak OB ini. 

Salah seorang yang pastikan kebersihan lingkungan: ruangan kelas kamu nak, toilet, termasuk beberes setelah kehebohan ketika ada acara khusus seperti Market Day atau Sport Day. 

Salam takzim buat bapak OB semua.










Aahh... Rasanya campur aduk. Sedih, bangga, gembira, haru.

Sampai berjumpa lagi At Taufiq. Tak ada ucapan selamat tinggal, karena untukmu tetap ada satu ruang spesial di hati kami. Kenangan indah yang bakal lekat di ingatan sampai kapanpun.



Trimakasih dari mama baperan ini: sudah turut warnai Ilman.
Semoga makin jaya dalam hantarkan anak-anak menjaga agamanya. 

Rabu, 07 Juni 2017

Konsumtif di Bulan Puasa? Itu Duluu….

Banyak orang bilang, jika tak hati-hati di bulan Ramadan itu kita malah jadi konsumtif. Laper mata tea istilahnya. Nyediain macem-macem menu buka, belanja belanji ini itu, …………..Padahal perut kita terbatas kapasitasnya, jadi mubazir tuh makanan jadi penghuni tong sampah sebelum waktunya. Padahal baju kita masih ada yang layak pakai, tak perlu beli baru. 

Daan… itu kurang lebih yang aku lakukan (tanpa atau dengan sadar? haha) tahun-tahun lalu.

Dengan niat nyenengin anak-anak, beli macem-macem buat ta’jil: mie golosor, es buah, kurma. Da bikin mah ga sempet, secara pulang kantor udah sore. Kalo lauk kadang bikin kadang beli tapi kadang lebih dari biasanya di luar bulan puasa, buat buka dan sahur. Mikirnya anak-anak masih kecil dan baru dibiasakan puasa. Jadi takut kurang nutrisi dll dkk. Padahal mah henteu oge  nyaa hihi…
Buka berlebih bikin perut kenyang trus shalat Maghrib jadi telat. Akibatnya pergi tarawih ke mesjid jadi buru-buru.

Minggu kedua mulai tuh lirik-lirik toko. Lihat-lihat baju koko atau gamis, sandal, kopeah, dll dsb. Daan sudah bisa dipastikan, plang atau spanduk SALE itu yang dinantiiii dan tak boleh dilewatkan. Meskipun dengan resiko pusing berdesakan plus antrian panjang di kasir. Yang penting barang didapat dengan harga lebih murah.

Ihhh uyuhan nyaa, sekarang mah mikirnya gitu haha. Padahal waktunya mendingan dipake ngaji, tadabbur, kajian yaa.

Tapi tahun ini? Berubaahhh… walau sedikit demi sedikit.

Aku ga tahu juga sebabnya apa. Tapi tahun ini menu berbuka kami lebih sederhana. Cukup kurma masing-masing 3 butir, lalu satu makanan manis. Bisa pudding, es buah, bubur kacang. Dan sekarang beda yang lebih istimewa lagi adalah aku yang bikin sendiri, ga beli lagi. Haha merasa berprestasi.

Berbuka diawali dengan air putih anget lalu kurma 3 buah ngikuti sunnah Rasul. Setelah istirahatkan perut sekitar 5 menit sambil becanda-canda, baru satu manis lagi ngikuti ke perut. Istirahat lima menit lagi lalu shalat Maghrib berjamaah.

Beres shalat Maghrib, makan dengan menu maksimal tiga macem. Ayam panggang, lalap sambel plus sayur kacang merah. Atau rending daging plus tahu goreng dan sayur bayem. Daaan semuaaa bikin sendiri, ga ada yang beli.

Ternyata eh ternyata, kalo kita bisa atur waktu dengan lebih baik, sempet juga tuh aku masak. Dan untungnya lagi suami selalu mau turun tangan ikut bantuin. Buat yang belum tahu, masak berdua suami di dapur itu romantis lhoo… Hahaha…

Beres makan, masih sempat tuh istirahatkan perut barang 10 menit. Lalu siap-siap pergi ke masjid. Berjalan kaki berempat ke mesjid ini satu hal yang bikin aku seneng banget. Sambil ngobrol remeh temeh, sambil ketawa tiwi, sampailah kami ke mesjid. Dan beres tarawih, sudah bisa dipastikan tiga pemudaku sabar menanti di samping mesjid hehe...

Trus kalo habis tarawih, anak-anak masih laper. Keluar deh kue andalan tea haha: brownies. Tambah kue kering, walopon baru dua yang aku bisa bikin, tapi anak-anak doyaaaan. Kaka suka kue kacang-almond, Dude kue keju. Alhamdulillaahhhh…

Percayalah buibu, ketika kita masak buat keluarga di rumah. Di situ tercurah kasih sayang, kehati-hatian pilih bahan, kecermatan olah rasa. Daaan kenikmatan tiada tara ketika anak-anak bilang masakan ibu enak plus suami kasih kecupan sayang di pipi. Duuhhhh… ga ada nilainya ituuuu…

Udah gitu kita pasti lebih hemat. Eh tapi hati-hati uang yang dihemat itu jangan dipake belanja belanji yaa. Inget sedekah, Aniiiii. Salah satu ladang amal di bulan puasa yang Allah lipatgandakan pahalanya.

Cuma ini nih kalo udah bertebaran spanduk SALE yang rada bikin galau hahaha. Ingat kemarin hari Senin pagi pas liwat toko langganan, terpampang jelas SALE 50-70%, terakhir hari ini. Nah syaithon masih menggoda nih: dalam hati berniat pulang kantor mau mampir aahhh. Dan kemudian yang terjadi adalah aku selamat dari godaan syeitan yang terkutuk itu hehe. Hari itu ada rapat sampe sore dan aku mesti buru-buru pulang dong, nyiapin buka di rumah. Alhamdulillaah…

Daaan sampai minggu kedua ini, aku belum beli apa-apa. Belum beli baju, sandal, dll dkk seperti biasanya. Pas lihat lemari, masih ada satu gamis batik yang baru kepake dua kali. Paling tinggal cari jilbabnya. Ayah kemarin baru dapet hadiah dua baju koko. Sendal masih belum perlu beli. Mungkin perlu beli kopiah karena kopiah lama hilang. Tapi siapa tahu ada yang baik hati mau kasih hadiah kopiah? Hehe ngareeppp…

Oya ada satu hal tentang Dude anak keduaku yang spesial. Kalo aku belikan sesuatu tanpa bilang dulu sama dia, apa yang terjadi para pemirsa? Dia ngomel-ngomel: ibu mah, ini kan masih ada, kenapa beliin lagi? Padahal tau ga, sepatu atau tasnya itu kadang udah belel, celana jinsnya yang cuma dua udah ngatung. Dan ngomelnya itu ga cukup sekali, bisa berkali-kali setiap dia ingat. Hahaha… makasih anaakk, kamu udah jadi jalan ibumu supaya kurang konsumtifnya.

Laper mata di bulan puasa? Alhamdulillaah, ga lagi lah yaaa....

Kamis, 01 Juni 2017

Berubaaahhh…. Edisi 1

Berubah, ya kadang itu aku rasakan kalo pas lagi babak renungan diri. Jujur kadang suka jadi mikir, kok aneh yaa, kayak ga kenal sama diri aku yang dulu atau malah asing sama diriku yang sekarang.. haha.. Mungkin itu keniscayaan, setiap manusia pasti berubah kan? Karena lingkungan, pasangan, dll dsb. Tapi tetep aja suka merasa ajaib gitu.

Ternyata aku berubah pada beberapa sisi.

Pertama, tentang sifat atau kebiasaan.

Dulu waktu kecil sampe SMP, aku terkenal pendiem, ga gaul, kutu buku. Kalo sekarang mungkin istilahnya nerd. Percaya ga, kalo liburan ke rumah uwa, aku masih bawa-bawa buku pelajaran tuh. Hihi engga banget deh. Dulu itu aku ga pedean pisan. Ga pede buat ngomong di depan kelas, ga pede buat nyatain pendapat. Juga tidak suka keramaian, ga suka difoto, ga suka petualangan.

Mungkin kala itu aku masuk kategori plegmatis-melankoli: menghindari konflik, pecinta damai, introvert, pemikir, pesimis, penyendiri,

Pas SMA tuh mulai rada gaul saeutik, tapi tetep pendiem. Mulai potong rambut ala2 bob yang ngehits kala itu, mulai ngeceng walopun sembunyi-sembunyi, ga berani cerita sama siapapun, mulai tahu toko kaset.

Naaah kuliah yang berhasil meracuniku buat berubah kayaknya. S1 mulai sok sibuk di himpunan, ke mana-mana ngabring sama geng, lengkap dengan jaket hejo ngagedod etaa wakakak. Lalu kerja dan dapet beasiswa S2. S2 kuliah di jurusan yang katanya ekonominya teknik. Kerjaannya bikin makalah dan presentasi. Nah pelan-pelan mulai deh tuh muncul keberanian buat ngomong di depan orang.

Sekarang?

Haha beneran berubah, mungkin sudah jadi sanguine-kolerik. Lebih ekstrovert, suka ngatur atau merintah orang, mulai suka petualangan, mudah berteman, senang berkumpul.

Contohnya kalo ikut seminar, aku rasanya sayang kalo ga ngacung buat nyatain pendapat atau tanya sesuatu. Suka eksis narsis kalo difoto nyengir.

Suka berkumpul dan gabung di organisasi. Suka jadi admin di grup medsos haha contoh penyaluran suka ngatur orang.

Lebih spontan dan lepas. Dulunya naik pohon aja takut, kemarin berhasil menaklukkan ketakutan waktu naik ke kawah di Bromo, walaupun tuur ngeleper.


Itulah Berubaaah (ala-ala Power Ranger) ku yang pertama.