Senin, 29 Mei 2017

Merindu

Aku merindu
masjid kami yang dulu
sederhana namun makmur terasa menderu

Aku rela
masjid kami yang lama
tanpa lantai marmer namun sejuk terasa

Aku suka
masjid kami yang normal
tak butuh lampu kristal dan kaca patri spesial

Aku gemar
masjid lama kami
sekolah TPA cuma berdinding partisi
namun anak-anak ramai berqiroati

Aku cinta
masjid kami yang lama
tak butuh kubah
tapi tetap terasa megah

Aku rinduuu…



Jumat, 26 Mei 2017

TERIMAKASIH TAK CUKUP

Pada tahu kali yaa, jaman sekarang mah semua tingkatan ada wisudanya. Jaman aku mah yang wisuda teh mulai S1 daaa.. Sekarang mah anak playgroup aja diwisuda hehe. Termasuk anakku yang minggu lalu diwisuda SD, tepat 2 hari setelah beres USBN. Wisudanya di gedung pertemuan lumayan gede, yang biasanya buat acara nikahan.(Asa pengen angkat topi sama panitianya, da para ortu ga dimintain lagi sumbangan.. hehe alhamdulillah.)

Sejak seminggu sebelumnya, ortu sudah dibagi surat undangan. Tertera registrasi sejak pukul 6 pagi. Dalam hati aku langsung komentar, ya ampun, pagi amat yak kami disuruh kumpul. Kenapa dibuat pagi banget, ternyata ada tujuannya. Yang bisa dateng pagi, dapet beberapa keuntungan. Pertama, lalu lintas belum padet. Kedua, bisa antri foto duluan, mantap kan karena muka masih kinclong dan si anak belum keringetan hehe..

Aku dan Ilman sampai gedung jam 6.20. Ternyata sudah ada antrian foto sekitar 20 orang. Sambil berhai-hai pada beberapa sobat sesama mama, aku yang tadinya males antri, jadi ikutan antri juga. Jam 7 protokol mulai woro-woro supaya sesi foto disudahi dulu karena acara akan dimulai.

Acara mulai jam 7.30. Setelah pembukaan oleh MC, lalu dilantunkan ayat suci AlQuran oleh ikhwan murid SMP dan terjemahnya oleh akhwat murid SD, Marsha yang waktu kelas 2 pernah sekelas Ilman, mamanya sahabatku. Mataku berlinang lihat Marsha, ikut bangga. Barokallah Noneng dan keluarga.

Setelah itu, acara Haflah. Anak-anak melantunkan beberapa surat hafalan Quran. Lalu disambung dengan doa khatam Qur'an. Dimulai oleh anak-anak SMP lalu anak-anak SD. Haflah kedua, Ilman anakku berada di barisan depan. Mulai deh mamak ini keluarin tisu. Masya Allah, tenggorokan tersekat, rasa haru menyelinap.

Soleh solehah anak-anakku…..

Setelah beberapa sambutan, lalu recognition untuk beberapa murid berprestasi. Ini juga menarik buatku, karena semua pencapaian anak-anak dihargai, tidak hanya akademis tapi juga yang non akademis. Ada tahfidz 9 juz (Marsha), juara wushu (Jasmine), juara olimpiade Matematika (mbak Karin), dan berbagai juara lainnya. Keluar deh tisu yang kedua dari tas.

Setelah itu penampilan murid TK: lantunan Asmaul Husna. Hahaha ya ampuuun mereka lucu-lucu aneettt!!! Ada yang sibuk mainin mike sambil halo halo. Ada yang lempar-lemparin toganya. Dan puncaknya ada yang berantem di barisan belakang hahaha. Para ustadzh sibuk banget dah. Hebat bisa giring bocah-bocah ini baris dan menyanyikan Asmaul Husna sampe akhir.

Lanjut dengan prosesi wisuda. Pertama wisuda TK yang untungnya tidak rusuh. Liat foto-foto mereka yang tayang di proyektor, iisssh cubitable semuaaa. Lanjut wisuda SD lalu wisuda SMP. Mulailah para ortu – termasuk aku dengan berbagai modus haha- merangsek ke depan pengen foto-foto anaknya masing-masing.

Ketika dipanggil: Ilman Izzaturrahman....


Rasa haru kembali menyeruak. Ga kerasa ya ayaaaah, bocah ceria kita ini sudah lulus SD. Yang ketika lahir betah banget di perut ibunya, sampe 2 malem di RS baru keluar. Yang rasa ingin tahunya bener-bener tinggi, sampe suka kelimpungan jawab pertanyaan kritisnya. Yang kala Eni Aki masih ada, jadi penghibur buat mereka. Yang sekarang jadi sumber keceriaan di rumah. My sunshine, sebentar lagi jelang masa dewasanya.

Alhamdulillah, ibu dan ayah tak salah pilihkan sekolah untukmu. Sekolah yang kami harapkan mampu membentuk tidak hanya kemampuan akademis, tapi yang jauuuh lebih penting: agamamu, akhlakmu, nak.

Pegang terus tali Allah. Ingat terus semua pesan ustadz ustadzah. Jadikan itu bekalmu sampai hari kelak. Jangan pernah anak lupakan semua jasa-jasa mereka. Kalaulah tidak melalui tangan dan lisan mereka, manalah sanggup ibu yang fakir ini mendidikmu sendirian.

Betapa besar jasa sekolah ini bentuk anak. 

Terimakasih rasanya tak cukup. 

Buat ustadz & ustadzah yang telah bimbing Ilman, yang kala masuk kelas 1 masih bocah dengan emosi ciliknya, lalu pelan-pelan bisa lebih baik lewat semua pembiasaan ibadah, penanaman akhlak dan dasar-dasar Islam.

Buat para sopir jemputan yang selalu sabar nunggu Ilman yang kadang kesiangan siapnya, bagian keuangan dan administrasi, para OB yang selalu siap sedia jaga kebersihan sekolah, catering yang pastikan Ilman dapat makan siang bergizi, para satpam dan lain-lain.

Buat sesama mamak yang berbagi kehebohan sejak kelas 1, terutama mama2 ex kelas 2B yang selalu seruuuu.

Jazakumullah khoiron katsiron.

Semoga amal baik ibu/bapak, mbak/mas, teteh/akang Allah beri balasan yang jauh lebih lebih lebih baik lagi. Semoga tali kasih silaturrahim di antara kita tetap tersambung sampai kapan pun.





*sebungkus tisu pun kosong ketika tulisan ini selesai.

Kamis, 11 Mei 2017

Kali Kedua

Kali kedua masuk ke lingkungan ini. Entah kenapa, selalu ada salah tingkah, apa karena kesan “menyeramkan”? Dan rasa yang sulit digambarkan: sedih, prihatin, plus dibumbui sedikit rasa marah dan kecewa.

Bersama seorang teman, aku ke situ buat sambangi seorang kawan yang tengah dirundung kedukaan.

Setelah lewati prosedur menjenguk, duduklah kami menunggu di bangku panjang. Di satu ruangan. Berbentuk seperti huruf L. Ada semacam jeruji pembatas dengan ruangan dalam, dengan sedikit ruang kosong di bawah jeruji itu. Kelihatannya buat bersalaman atau mengangsurkan kiriman seperti makanan dll.

Sambil menunggu, kuamati sekeliling. Ada satu bapak muda yang sedang dijenguk istri dan kedua anaknya. Kuperhatikan wajahnya sedih sambil mata tak lepas dari anak-anak itu. Bocah balita yang tampak kebingungan di manakah aku berada. Sebelahnya seorang ibu, sedikit bikin kaget hehe karena usianya tak lagi muda, tampak lebih tua dariku. (Kasus apa ya yang menimpa ibu lansia itu? mulai deh kepo.) Si ibu asyik mengobrol dengan seorang lelaki dalam bahasa daerah yang aku tak paham. Di sebelahnya lagi ada ibu muda sekitar umur tigapuluh tahunan. Dalam hati aku membatin, duh ya Allah, semoga aku dan keluargaku terhindar dari tempat ini.

Lalu tampaklah kawanku itu jalan mendekat dari ruang dalam. Satu petugas angsurkan rompi tahanan warna merah. Duh, mulai deh mamak ini baper. Asa watiirrrr…

Kami pun bersalaman erat, kutatap wajahnya yang berusaha tersenyum walau di matanya tersirat duka. Terlihat kurus dan kurang tidur. Awal ngobrol, terasa agak canggung. Malah dia yang banyak cerita macem-macem. Termasuk tentang rencana pindahkan anak-anaknya ke kampung.

Dia punya empat anak, tertua kelas 6 SD, seumur anakku. Dalam hati, aku bertanya-tanya, apa perasaan anak-anaknya nanti ketika sadar bahwa ayahnya terkurung di sini. Tidak bisa bertemu tiap hari di rumah seperti biasanya, Kalo pun mau ketemu, maka ada pembatas jeruji besi ini. Terbayang anak-anak kritis itu pasti bertanya-tanya. Duuh, mamak makin baper. Kutahan-tahan air mata yang berlinang ini.

Sambil lanjut mengobrol ini itu termasuk diskusi satu hal yang rada serius, batinku: mungkin betul dia salah, mungkin dia memang lalai. Tapi rasanya, pasti ada banyak faktor penyebab. Belum tentu semata kesalahannya.

Doa tulus dari lubuk hati buat kamu kawan. Semoga hukum bisa berjalan seadil-adilnya, semoga mereka yang berwenang bisa bertindak sesuai aturan. Semoga istrimu kuat, ibumu ikhlas, anak-anakmu sehat walafiat.

Ya, kali kedua jenguk kawan di tempat ini. Semoga cukup dua kali saja. Tak perlu lagi ada yang “terpaksa” masuk ke situ. Naudzubillaahi min dzalik.


Kamis, 04 Mei 2017

Titip Rinduku

Sejak lima tahun terakhir, ketika masuk bulan April lalu Mei, perasaanku pasti jadi mellow mengharu biru. Dua masa ketika rasa kosong di hati ini tiba-tiba menyergap.

April tanggal 23 tahun 2012 ketika Eni, ibuku wafat dan Mei tanggal 17 tahun 2014 ketika Aki, ayahku wafat.


Eni, kompas keluargaku

Eni adalah sebutan kesayangan kami semua setelah satu demi satu cucu lahir, diambil dari kata nini dalam basa Sunda yang berarti nenek.

Mungkin karena aku anak perempuan satu-satunya, Eni lebih banyak habiskan waktu untuk kedua cucunya dari aku. Abil anak pertamaku dimomong Eni sejak bayi, bahkan sejak sebelum lahir. Eni yang tunggui ketika aku lahirkan Kaka karena sang Ayah masih beda kota. Lalu anak keduaku, Dude Ilman pun tak lepas dari momongan Eni.

Eni yang atur semua jadwal anak-anakku sejak mereka lahir. Jadwal minum susu, jadwal mandi, jadwal bobo, dll hehe.. Teraturr pisaan, emaknya mah tinggal ngikutin dan terima jadi aja. Hasilnya, mereka sehat walafiat dan tumbuh jadi balita montok. Bahkan Eni pindah tinggal di Bogor ketika aku hamil delapan bulan sampai Dude usia 2 tahun.

Ketika Eni pindah lagi ke Bandung, setiap aku telpon: “Eni, damang?” maka jawabnya selalu “Sae”. Itu jawaban standar. Padahal kadang Eni sebetulnya sedang kurang sehat tapi ga mau bikin aku khawatir.

Ketika fisiknya makin sepuh dan makin sering sakit-sakitan sampai dirawat beberapa kali di rumah sakit, Eni sering bilang ga perlu ditengok, katanya kasian anak-anak ditinggal. Tapi aku selalu usahakan luangkan ke Bandung begitu tahu Eni dirawat. Kalo pas ga bisa sama anak-anak, aku langsung meluncur sendirian. Ayah yang urus anak-anak. Pernah aku berangkat sore dari Bogor langsung ke rumah sakit, aplusan jaga Eni walaupun cuma semalem, lalu besoknya langsung balik lagi Bogor.

Eni pergi tanggal 23 April 2012. Tanggal yang sama dengan hari lahir kakak sulungku. Satu hal yang sampai kini masih suka bikin aku sesak adalah ketika Eni pergi, aku tidak ada di sisinya. Rasa kaget, kehilangan dan penyesalan buat aku nyaris histeris.

Ketika itu, aku baru tahu apa rasanya hati yang hampa. Rasanya ada satu ruang kosong di hati ini. Hampa. Semua hal-hal kecil banyak yang ingatkan aku pada sosok beliau. Hal-hal kecil seperti bentuk wortel, cara simpan lap, lagu jadul, dll dsb.

Eni dulu selalu bilang, kalo pilih wortel jangan yang ujungnya runcing, pilih yang ujungnya agak bulat (basa Sundanya buntet). Lalu ajaran cara ngepel lantai, sampai sekarang itu yang aku ajarkan pada si bibi. Jadwal kami ganti handuk masih sama ketika Eni masih ada: anak-anak setiap hari Senin dan Kamis, aku dan ayahnya setiap Selasa dan Jumat. Dan semua itu masih aku praktekkan sampai sekarang. Mungkin lucu atau lebay ya hehe tapi entah kenapa itu seperti otomatis dan aku tidak merasa perlu untuk merubahnya.

Akibat hal-hal kecil itu, air mata ini sering ga bisa ditahan tiba-tiba mengalir ke pipi, tak jarang aku nangis tersedu-sedu sampai kudu ngumpet di toilet kantor. Dan itu berlangsung sampai beberapa bulan.

Eni adalah kompas buat keluarga kecil kami. Cara mendidik anak, disiplinnya, rasa tanggung jawabnya, baktinya pada suami, empatinya pada duafha, tegas dan teguh pada prinsip. Itu semua jadi pegangan yang selalu aku tekankan pada anak-anakku.


Aki, mercusuar kami

Selepas kepergian Eni, aku selalu merasa khawatir pada Aki. Setelah diskusi dengan kakak-kakak, kami sepakat Aki pindah menetap di rumahku. Masih ada anakku usia SD, yang bisa jadi penghibur Aki.

Di rumah, anak-anak nempel banget sama Aki. Mereka yang temani Aki makan, temani Aki nonton acara favoritnya. Kalo nemenin nonton berita, itu bagian Ayah. Kadang Aki cerita dongeng Sunda, Dude menyimak dengan antusias. Favorit anak-anak adalah Jumatan sama Aki. Kadang dalam kondisi sesak pun, Aki tetap usahakan Jumatan ke masjid walaupun agak jauh dari rumahku. Pelan-pelan Aki jalan sambil ditemani Dude.

Tapi, masuk dua tahun setelah Eni wafat, aku perhatikan Aki lebih banyak merenung atau lebih tepatnya melamun. Sambil duduk di kursi panjangnya dengan TV menyala, tatapan Aki bukan nonton TV, tapi seperti kosong dan pikirannya mengembara jauh entah ke mana. Sedih melihatnya, walaupun ga cerita, aku tahu Aki pasti rindu Eni.

Aki wafat tanggal 17 Mei, di rumahku, pukul 10 malam. Waktu itu, sudah dua hari Aki sesak nafas dan minta dipasangkan oksigen. Bodohnya aku, kufikir itu anfal biasa dan akan sembuh setelah Aki minum obat.

Malam itu Aki maksa minta wudlu ke kamar mandi, tentu saja aku larang karena khawatir beliau sesak. Rupanya Aki ingin tunaikan shalatnya yang terakhir kali. Jam 10 malam ketika Ayah ngecek Aki di kamarnya, ternyata Aki telah terkulai lemas. Kami langsung larikan Aki ke rumah sakit.

Masih jelas dalam ingatanku, begitu dokter di IGD pegang Aki dan langsung gelengkan kepalanya. Langsung lemas lututku, tangis pun tak tertahankan. Aki telah pergi. Tenang sekali perginya. Tanpa merepotkan kami.

Sampai sekarang, jejak Aki di rumah kami masih seperti Aki masih ada. Kamar depan masih kami sebut kamar Aki, kursi panjang masih kami sebut kursi Aki. Tumpukan majalah Mangle dan buku-buku kesayangannya masih tersimpan rapi di rak. Dan banyak lagi. Rasanya Aki masih ada di rumah ini. Menghangatkan keluarga kecil kami.

Aki adalah mercusuar buat kami. Kebaikan hatinya, kesukaan menolongnya, someahna (keramahannya), rendah hatinya, kelembutannya. Semua itu layaknya penerang buat kami anak-anaknya susuri jalan kehidupan ini.

---

Kini, ketika aku kirim doa buat mereka. Entah kenapa, dalam bayanganku, di alam sana selalu ada malaikat di samping mereka. Malaikat yang disuruh Allah buat jaga dan temani. Tanpa sadar aku berbisik: Malaikat, tolong jaga mereka yaa dan sampaikan pada mereka, betapa aku rinduuuuu…