Jumat, 26 Mei 2017

TERIMAKASIH TAK CUKUP

Pada tahu kali yaa, jaman sekarang mah semua tingkatan ada wisudanya. Jaman aku mah yang wisuda teh mulai S1 daaa.. Sekarang mah anak playgroup aja diwisuda hehe. Termasuk anakku yang minggu lalu diwisuda SD, tepat 2 hari setelah beres USBN. Wisudanya di gedung pertemuan lumayan gede, yang biasanya buat acara nikahan.(Asa pengen angkat topi sama panitianya, da para ortu ga dimintain lagi sumbangan.. hehe alhamdulillah.)

Sejak seminggu sebelumnya, ortu sudah dibagi surat undangan. Tertera registrasi sejak pukul 6 pagi. Dalam hati aku langsung komentar, ya ampun, pagi amat yak kami disuruh kumpul. Kenapa dibuat pagi banget, ternyata ada tujuannya. Yang bisa dateng pagi, dapet beberapa keuntungan. Pertama, lalu lintas belum padet. Kedua, bisa antri foto duluan, mantap kan karena muka masih kinclong dan si anak belum keringetan hehe..

Aku dan Ilman sampai gedung jam 6.20. Ternyata sudah ada antrian foto sekitar 20 orang. Sambil berhai-hai pada beberapa sobat sesama mama, aku yang tadinya males antri, jadi ikutan antri juga. Jam 7 protokol mulai woro-woro supaya sesi foto disudahi dulu karena acara akan dimulai.

Acara mulai jam 7.30. Setelah pembukaan oleh MC, lalu dilantunkan ayat suci AlQuran oleh ikhwan murid SMP dan terjemahnya oleh akhwat murid SD, Marsha yang waktu kelas 2 pernah sekelas Ilman, mamanya sahabatku. Mataku berlinang lihat Marsha, ikut bangga. Barokallah Noneng dan keluarga.

Setelah itu, acara Haflah. Anak-anak melantunkan beberapa surat hafalan Quran. Lalu disambung dengan doa khatam Qur'an. Dimulai oleh anak-anak SMP lalu anak-anak SD. Haflah kedua, Ilman anakku berada di barisan depan. Mulai deh mamak ini keluarin tisu. Masya Allah, tenggorokan tersekat, rasa haru menyelinap.

Soleh solehah anak-anakku…..

Setelah beberapa sambutan, lalu recognition untuk beberapa murid berprestasi. Ini juga menarik buatku, karena semua pencapaian anak-anak dihargai, tidak hanya akademis tapi juga yang non akademis. Ada tahfidz 9 juz (Marsha), juara wushu (Jasmine), juara olimpiade Matematika (mbak Karin), dan berbagai juara lainnya. Keluar deh tisu yang kedua dari tas.

Setelah itu penampilan murid TK: lantunan Asmaul Husna. Hahaha ya ampuuun mereka lucu-lucu aneettt!!! Ada yang sibuk mainin mike sambil halo halo. Ada yang lempar-lemparin toganya. Dan puncaknya ada yang berantem di barisan belakang hahaha. Para ustadzh sibuk banget dah. Hebat bisa giring bocah-bocah ini baris dan menyanyikan Asmaul Husna sampe akhir.

Lanjut dengan prosesi wisuda. Pertama wisuda TK yang untungnya tidak rusuh. Liat foto-foto mereka yang tayang di proyektor, iisssh cubitable semuaaa. Lanjut wisuda SD lalu wisuda SMP. Mulailah para ortu – termasuk aku dengan berbagai modus haha- merangsek ke depan pengen foto-foto anaknya masing-masing.

Ketika dipanggil: Ilman Izzaturrahman....


Rasa haru kembali menyeruak. Ga kerasa ya ayaaaah, bocah ceria kita ini sudah lulus SD. Yang ketika lahir betah banget di perut ibunya, sampe 2 malem di RS baru keluar. Yang rasa ingin tahunya bener-bener tinggi, sampe suka kelimpungan jawab pertanyaan kritisnya. Yang kala Eni Aki masih ada, jadi penghibur buat mereka. Yang sekarang jadi sumber keceriaan di rumah. My sunshine, sebentar lagi jelang masa dewasanya.

Alhamdulillah, ibu dan ayah tak salah pilihkan sekolah untukmu. Sekolah yang kami harapkan mampu membentuk tidak hanya kemampuan akademis, tapi yang jauuuh lebih penting: agamamu, akhlakmu, nak.

Pegang terus tali Allah. Ingat terus semua pesan ustadz ustadzah. Jadikan itu bekalmu sampai hari kelak. Jangan pernah anak lupakan semua jasa-jasa mereka. Kalaulah tidak melalui tangan dan lisan mereka, manalah sanggup ibu yang fakir ini mendidikmu sendirian.

Betapa besar jasa sekolah ini bentuk anak. 

Terimakasih rasanya tak cukup. 

Buat ustadz & ustadzah yang telah bimbing Ilman, yang kala masuk kelas 1 masih bocah dengan emosi ciliknya, lalu pelan-pelan bisa lebih baik lewat semua pembiasaan ibadah, penanaman akhlak dan dasar-dasar Islam.

Buat para sopir jemputan yang selalu sabar nunggu Ilman yang kadang kesiangan siapnya, bagian keuangan dan administrasi, para OB yang selalu siap sedia jaga kebersihan sekolah, catering yang pastikan Ilman dapat makan siang bergizi, para satpam dan lain-lain.

Buat sesama mamak yang berbagi kehebohan sejak kelas 1, terutama mama2 ex kelas 2B yang selalu seruuuu.

Jazakumullah khoiron katsiron.

Semoga amal baik ibu/bapak, mbak/mas, teteh/akang Allah beri balasan yang jauh lebih lebih lebih baik lagi. Semoga tali kasih silaturrahim di antara kita tetap tersambung sampai kapan pun.





*sebungkus tisu pun kosong ketika tulisan ini selesai.

Kamis, 11 Mei 2017

Kali Kedua

Kali kedua masuk ke lingkungan ini. Entah kenapa, selalu ada salah tingkah, apa karena kesan “menyeramkan”? Dan rasa yang sulit digambarkan: sedih, prihatin, plus dibumbui sedikit rasa marah dan kecewa.

Bersama seorang teman, aku ke situ buat sambangi seorang kawan yang tengah dirundung kedukaan.

Setelah lewati prosedur menjenguk, duduklah kami menunggu di bangku panjang. Di satu ruangan. Berbentuk seperti huruf L. Ada semacam jeruji pembatas dengan ruangan dalam, dengan sedikit ruang kosong di bawah jeruji itu. Kelihatannya buat bersalaman atau mengangsurkan kiriman seperti makanan dll.

Sambil menunggu, kuamati sekeliling. Ada satu bapak muda yang sedang dijenguk istri dan kedua anaknya. Kuperhatikan wajahnya sedih sambil mata tak lepas dari anak-anak itu. Bocah balita yang tampak kebingungan di manakah aku berada. Sebelahnya seorang ibu, sedikit bikin kaget hehe karena usianya tak lagi muda, tampak lebih tua dariku. (Kasus apa ya yang menimpa ibu lansia itu? mulai deh kepo.) Si ibu asyik mengobrol dengan seorang lelaki dalam bahasa daerah yang aku tak paham. Di sebelahnya lagi ada ibu muda sekitar umur tigapuluh tahunan. Dalam hati aku membatin, duh ya Allah, semoga aku dan keluargaku terhindar dari tempat ini.

Lalu tampaklah kawanku itu jalan mendekat dari ruang dalam. Satu petugas angsurkan rompi tahanan warna merah. Duh, mulai deh mamak ini baper. Asa watiirrrr…

Kami pun bersalaman erat, kutatap wajahnya yang berusaha tersenyum walau di matanya tersirat duka. Terlihat kurus dan kurang tidur. Awal ngobrol, terasa agak canggung. Malah dia yang banyak cerita macem-macem. Termasuk tentang rencana pindahkan anak-anaknya ke kampung.

Dia punya empat anak, tertua kelas 6 SD, seumur anakku. Dalam hati, aku bertanya-tanya, apa perasaan anak-anaknya nanti ketika sadar bahwa ayahnya terkurung di sini. Tidak bisa bertemu tiap hari di rumah seperti biasanya, Kalo pun mau ketemu, maka ada pembatas jeruji besi ini. Terbayang anak-anak kritis itu pasti bertanya-tanya. Duuh, mamak makin baper. Kutahan-tahan air mata yang berlinang ini.

Sambil lanjut mengobrol ini itu termasuk diskusi satu hal yang rada serius, batinku: mungkin betul dia salah, mungkin dia memang lalai. Tapi rasanya, pasti ada banyak faktor penyebab. Belum tentu semata kesalahannya.

Doa tulus dari lubuk hati buat kamu kawan. Semoga hukum bisa berjalan seadil-adilnya, semoga mereka yang berwenang bisa bertindak sesuai aturan. Semoga istrimu kuat, ibumu ikhlas, anak-anakmu sehat walafiat.

Ya, kali kedua jenguk kawan di tempat ini. Semoga cukup dua kali saja. Tak perlu lagi ada yang “terpaksa” masuk ke situ. Naudzubillaahi min dzalik.


Kamis, 04 Mei 2017

Titip Rinduku

Sejak lima tahun terakhir, ketika masuk bulan April lalu Mei, perasaanku pasti jadi mellow mengharu biru. Dua masa ketika rasa kosong di hati ini tiba-tiba menyergap.

April tanggal 23 tahun 2012 ketika Eni, ibuku wafat dan Mei tanggal 17 tahun 2014 ketika Aki, ayahku wafat.


Eni, kompas keluargaku

Eni adalah sebutan kesayangan kami semua setelah satu demi satu cucu lahir, diambil dari kata nini dalam basa Sunda yang berarti nenek.

Mungkin karena aku anak perempuan satu-satunya, Eni lebih banyak habiskan waktu untuk kedua cucunya dari aku. Abil anak pertamaku dimomong Eni sejak bayi, bahkan sejak sebelum lahir. Eni yang tunggui ketika aku lahirkan Kaka karena sang Ayah masih beda kota. Lalu anak keduaku, Dude Ilman pun tak lepas dari momongan Eni.

Eni yang atur semua jadwal anak-anakku sejak mereka lahir. Jadwal minum susu, jadwal mandi, jadwal bobo, dll hehe.. Teraturr pisaan, emaknya mah tinggal ngikutin dan terima jadi aja. Hasilnya, mereka sehat walafiat dan tumbuh jadi balita montok. Bahkan Eni pindah tinggal di Bogor ketika aku hamil delapan bulan sampai Dude usia 2 tahun.

Ketika Eni pindah lagi ke Bandung, setiap aku telpon: “Eni, damang?” maka jawabnya selalu “Sae”. Itu jawaban standar. Padahal kadang Eni sebetulnya sedang kurang sehat tapi ga mau bikin aku khawatir.

Ketika fisiknya makin sepuh dan makin sering sakit-sakitan sampai dirawat beberapa kali di rumah sakit, Eni sering bilang ga perlu ditengok, katanya kasian anak-anak ditinggal. Tapi aku selalu usahakan luangkan ke Bandung begitu tahu Eni dirawat. Kalo pas ga bisa sama anak-anak, aku langsung meluncur sendirian. Ayah yang urus anak-anak. Pernah aku berangkat sore dari Bogor langsung ke rumah sakit, aplusan jaga Eni walaupun cuma semalem, lalu besoknya langsung balik lagi Bogor.

Eni pergi tanggal 23 April 2012. Tanggal yang sama dengan hari lahir kakak sulungku. Satu hal yang sampai kini masih suka bikin aku sesak adalah ketika Eni pergi, aku tidak ada di sisinya. Rasa kaget, kehilangan dan penyesalan buat aku nyaris histeris.

Ketika itu, aku baru tahu apa rasanya hati yang hampa. Rasanya ada satu ruang kosong di hati ini. Hampa. Semua hal-hal kecil banyak yang ingatkan aku pada sosok beliau. Hal-hal kecil seperti bentuk wortel, cara simpan lap, lagu jadul, dll dsb.

Eni dulu selalu bilang, kalo pilih wortel jangan yang ujungnya runcing, pilih yang ujungnya agak bulat (basa Sundanya buntet). Lalu ajaran cara ngepel lantai, sampai sekarang itu yang aku ajarkan pada si bibi. Jadwal kami ganti handuk masih sama ketika Eni masih ada: anak-anak setiap hari Senin dan Kamis, aku dan ayahnya setiap Selasa dan Jumat. Dan semua itu masih aku praktekkan sampai sekarang. Mungkin lucu atau lebay ya hehe tapi entah kenapa itu seperti otomatis dan aku tidak merasa perlu untuk merubahnya.

Akibat hal-hal kecil itu, air mata ini sering ga bisa ditahan tiba-tiba mengalir ke pipi, tak jarang aku nangis tersedu-sedu sampai kudu ngumpet di toilet kantor. Dan itu berlangsung sampai beberapa bulan.

Eni adalah kompas buat keluarga kecil kami. Cara mendidik anak, disiplinnya, rasa tanggung jawabnya, baktinya pada suami, empatinya pada duafha, tegas dan teguh pada prinsip. Itu semua jadi pegangan yang selalu aku tekankan pada anak-anakku.


Aki, mercusuar kami

Selepas kepergian Eni, aku selalu merasa khawatir pada Aki. Setelah diskusi dengan kakak-kakak, kami sepakat Aki pindah menetap di rumahku. Masih ada anakku usia SD, yang bisa jadi penghibur Aki.

Di rumah, anak-anak nempel banget sama Aki. Mereka yang temani Aki makan, temani Aki nonton acara favoritnya. Kalo nemenin nonton berita, itu bagian Ayah. Kadang Aki cerita dongeng Sunda, Dude menyimak dengan antusias. Favorit anak-anak adalah Jumatan sama Aki. Kadang dalam kondisi sesak pun, Aki tetap usahakan Jumatan ke masjid walaupun agak jauh dari rumahku. Pelan-pelan Aki jalan sambil ditemani Dude.

Tapi, masuk dua tahun setelah Eni wafat, aku perhatikan Aki lebih banyak merenung atau lebih tepatnya melamun. Sambil duduk di kursi panjangnya dengan TV menyala, tatapan Aki bukan nonton TV, tapi seperti kosong dan pikirannya mengembara jauh entah ke mana. Sedih melihatnya, walaupun ga cerita, aku tahu Aki pasti rindu Eni.

Aki wafat tanggal 17 Mei, di rumahku, pukul 10 malam. Waktu itu, sudah dua hari Aki sesak nafas dan minta dipasangkan oksigen. Bodohnya aku, kufikir itu anfal biasa dan akan sembuh setelah Aki minum obat.

Malam itu Aki maksa minta wudlu ke kamar mandi, tentu saja aku larang karena khawatir beliau sesak. Rupanya Aki ingin tunaikan shalatnya yang terakhir kali. Jam 10 malam ketika Ayah ngecek Aki di kamarnya, ternyata Aki telah terkulai lemas. Kami langsung larikan Aki ke rumah sakit.

Masih jelas dalam ingatanku, begitu dokter di IGD pegang Aki dan langsung gelengkan kepalanya. Langsung lemas lututku, tangis pun tak tertahankan. Aki telah pergi. Tenang sekali perginya. Tanpa merepotkan kami.

Sampai sekarang, jejak Aki di rumah kami masih seperti Aki masih ada. Kamar depan masih kami sebut kamar Aki, kursi panjang masih kami sebut kursi Aki. Tumpukan majalah Mangle dan buku-buku kesayangannya masih tersimpan rapi di rak. Dan banyak lagi. Rasanya Aki masih ada di rumah ini. Menghangatkan keluarga kecil kami.

Aki adalah mercusuar buat kami. Kebaikan hatinya, kesukaan menolongnya, someahna (keramahannya), rendah hatinya, kelembutannya. Semua itu layaknya penerang buat kami anak-anaknya susuri jalan kehidupan ini.

---

Kini, ketika aku kirim doa buat mereka. Entah kenapa, dalam bayanganku, di alam sana selalu ada malaikat di samping mereka. Malaikat yang disuruh Allah buat jaga dan temani. Tanpa sadar aku berbisik: Malaikat, tolong jaga mereka yaa dan sampaikan pada mereka, betapa aku rinduuuuu…




Rabu, 26 April 2017

Terlambat Tetapi Tetap Indah

Selepas hari ultah yang kesekian (hehe jangan sebut angka), aku coba merenung. Sedikit introspeksi diri, mencoba menjelajah kembali jalan hidupku selama ini. Satu hal yang pasti, aku amat bersyukur. Bersyukur telah diberi hidup yang indah ini oleh sang Maha Kuasa.

Namun, setelah ditelisik lebih dalam (siga pakar wae), ternyata ada beberapa yang “lambat”. Lebih lambat dari orang-orang lain pada umumnya. Terlambat “beger”, terlambat “pacaran”, terlambat menikah, terlambat sadar terjebak hehe. Bukan, bukan maksud untuk aku sesali, cuma untuk cermin dan evaluasi diri.

Dan ternyata ada satu terlambat lagi, terlambat berbagi.

Dulu jaman sekolah sampai kuliah, kehidupanku ya begitu aja, dari rumah ke sekolah/kampus. Waktu dihabiskan buat kuliah, begadang bermalem2 buat ngerjain tugas, nongkrong di himpunan dsb. Bertahun-tahun seperti itu: rumah-sekolah/kampus-rumah.

Lalu menikah, punya anak. Kehidupanku bergeser jadi ibu rumah tangga yang bekerja. Pagi “perang di dapur” nyiapin anak-anak, lalu pergi ngantor sampe sore, pulang kantor ngecek anak-anak lagi plus kerja domestik lainnya dibantu suami. Begitu terus selama bertahun-tahun: rumah-kantor-rumah.

Masa-masa itu, tidak pernah terlintas di benakku buat ikut kegiatan sosial, relawan, dll yang semacam itu. Rasanya kampus dan lalu keluarga plus kantor udah bikin sibuk dan cukup megap-megap haha..

Tapi kok makin lama ada satu ruang dalam batin ini yang kosong. Rasanya hidup ini jenuh amat yak. Semua terasa rutin, ga ada dinamika, ga ada hal-hal yang bisa bikin aku tergugah dan makin semangat lagi.

Beruntung, ada kawan mengajak aku ikut gabung di suatu kegiatan relawan tentang pendidikan anak. Dalam hati aku berpikir, hhmmm boleh juga nih dicoba. Daan ternyata lalu aku seperti orang yang kehausan.

Dari satu kelompok pertama ke kelompok relawan lain. Ada info tentang kerelawanan di tempat lain, langsung gabung. Begitu terus, tanpa terasa aku bertambah banyak teman, dari muda sampai tua, dari pegawai kantoran sampe fotografer keren, dari yang berdasi sampe yang berjenggot, dari yang bermobil sampe krl-mania. Interaksi dengan berbagai orang yang “jenisnya” beda banget sama teman kantor ini, ternyata membuat aku belajar banyak hal. Banyaak sekali.

Pelan-pelan rasa jenuh itu berkurang, terisi oleh hal-hal baik dari mereka: rasa tulus, aksi cepat tanggap, solidaritas, berbagi peran, bahkan candaan gila mereka lalu mengisi hari-hariku. Hidup rasanya jadi lebih bergairah lagi.

Jadi para pemirsa, hidup ini ga cukup hanya diisi dengan sekolah atau bekerja. Satu hal penting lagi yang perlu kamu lakukan, semampunya tapi lakukankah terus menerus yaitu BERBAGI. Salah satu hal penting yang selalu aku tanamkan pada anak-anakku.

Kalaulah bisa memutar balik waktu, mungkin aku akan ikut berbagi sejak dulu di kampus. Kadang sampe berkhayal, kalo aja dulu jaman kuliah sudah ada Pengajar Muda, aku pasti bakal gabung, gak ragu lagi. Eehh tapi ralat deng. Kalo itu terjadi, mungkin aku ga bakal ketemu mas suamiku tercinta ini… Hahaha…

Berbagai rasa ketika ikut berbagi sering sulit diungkapkan dengan kata-kata. Rasa berguna buat orang lain, walau mungkin hanya seujung kuku. Rasa syukur yang terbangkitkan. Kasih sayang pada sesama. Rasa ingin menolong. Dan ada banyak lagi rasa. Berbagai rasa yang setahap demi setahap isi satu ruang batinku yang kosong itu. Alhamdulillah.

Tapi tentu, jalan yang aku pilih selama ini tak boleh aku sesali.

Mungkin memang aku terlambat berbagi, namun walau terlambat tetap terasa indah.


Rabu, 19 April 2017

Gusti Allah Mboten Sare

Sambil menghela nafas, kembali ia hitung lembaran rupiah di genggamannya. Tiga puluh tujuh ribu; satu lembar sepuluh ribu, tiga lembar lima ribuan, dan enam lembar dua ribuan. Semuanya lecek bin lusuh.

Hanya itu uangnya hari ini. Dan itu harus cukup buat ongkos besok sekolah tiga anaknya, beli beras barang 2 liter dan mungkin sedikit tempe atau tahu dan cabe.

Buat besoknya lagi? Ia hela nafasnya lagi, kali ini lebih panjang.

Sudah tiga hari ini ia tidak narik angkot seperti biasa. Katanya semua angkot harus demo, protes ojek onlen itu. Kemarin lusa ada kawan yang maksa narik, tapi dicegat sama sesama supir lalu penumpangnya dipaksa turun. Ada yang sampe dirusak angkotnya, katanya juga sama gerombolan ojek online.

Ada banyak hal yang tidak ia pahami.

Kalo demo, yang rugi ya semua. Ia lanjut membatin. Penumpang susah mau berangkat ngantor atau sekolah, supir ga dapet uang belanja, juragan juga misah misuh ga dapet setoran.
Kenapa harus demo? Wong ojek onlen juga sama-sama cari nafkah, buat anak istrinya. Batinnya mulai bercakap sendiri.

Memang betul, kadang sewa (penumpang) susah dicari. Tapi kok ya Gusti Allah selalu kasih rejeki. Kadang ada aja tetangga komplek depan yang minta tolong rumput halamannya dirapikan. Kadang ada rombongan anak sekolah yang carter angkotnya buat berenang atau orang kampung sebelah yang sewa buat bawa rombongan ngabesan.

Buat ia, itu sudah cukup. Walaupun memang kadang, istri sedikit ngomel karena duit pas-pasan buat belanja, yang rasanya memang makin lama makin mahal. Tapi yang penting, keluarga bisa makan walau seadanya dan anak-anak sekolah.

Aaah, kenapa jadi panjang lebar gini ya mikirnya. Nih duit tetep aja tiga puluh tujuh ribu, kaga nambah-nambah juga. Ia senyum-senyum sendiri, merutuki kebodohannya.

Kumandang adzan Maghrib terdengar dari mesjid RTnya. Bergegas, ia ganti baju koko satu-satunya dan sarung kotak coklat. Ya, walaupun sarungnya sudah lusuh dan ada tambalan di sana sini, tapi ia selalu usahakan shalat Maghrib berjamaah ke masjid. Jika narik angkot pun ia batasi sampai jam 5, supaya bisa bersih-bersih lalu siap-siap ke mesjid.

Selesai shalat, seperti biasanya malam Jum'at, ustadz Joko ceramah singkat. Kali itu beliau membahas bab rejeki. Kata ustadz, rejeki tiap orang itu sudah dijamin sama Allah, Yang penting manusia mau usaha sekuat tenaga, usaha buat jemput rejekinya. Banyak sedikit rejeki bukan ukuran, yang penting ikhtiar manusia itu buat mencapai barokah dari Allah. Gusti Allah mboten sare, begitu kata ustadz.

Dalam hati, ia berucap, kok ustadz kayak tau ya kesusahan aku. Sambil mendengar lanjutan ceramah, ia ucap doa dalam hati: Yaa Allah, semoga hari ini ada rejeki hamba. Aamiin.

Selepas ceramah, jemaah pun bubar. Dengan langkah gontai, ia pulang menuju rumahnya. Tiba-tiba, ada yang seru-seru namanya.

“Mang, mang Darma, tungguuu bentaaar....”
Sedikit tergagap bangun dari lamunan. “Ohh, pak RT. Ada apa ya pak?”, dalam hati ia berdoa semoga pak RT mau kasih kerjaan.
“Ini pak Abu mau hajatan besok. Mang Darma bisa bantu parkirin mobil2, kan tamunya pasti buanyak. Trus Bi Darmi minta tolong ikut kerja di dapur ya, bisa kan?” kata pak RT.
“Iiya iyaa bisa pak.”
“Yo wes, saya jalan dulu ya mang. Makasih lho. Oh ya, ini ada titipan dari ibu, sedikit uang jajan buat anak-anak. Ibu tanyain bi Darmi, ke mana aja katanya udah lama ga ke rumah”
“Ii iya pak, si bibi kemaren sakit batuk."
"Makasih pak. Ma… makasih banyak”.

Mata mang Darma langsung berlinang.
Alhamdulillaah, batinnya. Ternyata bener ya.
Gusti Allah mboten sare.




Minggu, 09 April 2017

Kukingklas, (Semogaaa) Menuju Koki Berkelas


“Yaakkhhh telaattt… “.. lengkap dengan emoticon berurai airmata.
“Duh, baru pegang hp.. hiks hiks..”
“Gubraaagg…lupa transfeerr..mbaakkk…”

Hahaha.. chat di atas itu contoh keseruan di Whatsapp group Kukingklas.
Yap, suasana heboh itu pasti terjadi ketika cikgu buka pendaftaran kelas atau ketika deadline batas waktu transfer. Kalo cikgu buka kelas dengan kata-kata: Aku mau buka kelas bla bla ... yaa. Langsung tuh pada kreatif bikin list sendiri. Hihihi...

Paling deg-degan kalo cikgu sudah nulis list beneran, dengan redaksi kayak gini:
Kelas Roti
Sabtu, tanggal 8 April 2017 jam 9-12. Transfer ke rek ***** paling lambat tanggal 31 Maret pukul 5 sore waktu VBI:
1.
2.
dst sampe 10.
Dijamin dalam 5 menit, list itu udah penuh 10 nama (maksimal peserta), ga jarang terus ada yang nekad nambahin daftar, dengan H2C semoga ada yang mundur.. hahaha.

Pokonya seruuu!!! Ada yang telat daftar gara-gara hp ditinggal 5 menit saja ke kamar mandi, ada yang telat transfer akibat lupa jam deadline, macem macem deh. Sering banget aku suka kebawa deg-degan hahaha…

Banyak chat-chat unik seperti:
"Mikir aja ga sempet. Hanya boleh jempol yang mikir."
"Siaga 1 siapin jempoool!!"
"Selain nunggu jodoh, jadwal kukingklas juga masuk penantian akuuu"
"Ngantosan kelasna oge meni ratug jantung" (Nungguin kelasnya aja bikin hati berdebar-debar).
Pokoknya sukses bikin suseso (sura seuri sorangan).

Belum lagi testimoni kayak begini:
"Alhamdulillah suhu, ada pesanan 8 kotak tekwan buat Sabtu. Senengnyaaaaa yaaa.. Ngrasain juga berkah ikut kukingklas...." (dijawab cikgu) "Aku seneng deh kalian pd produktif " 
"Guruuuu berhasiiilll bikin roti lembut itu luar biasa! " trus (jawab cikgu) "Alhamdulillah... coklatin dikit lagi dalam oven. Kalo pucet gini kayak abis dimarahin."
Huhuuu... Aku pasti ikut terharu bacanya. Semoga suatu hari kelak, aku bisa kayak gini.

Jaadiii, apakah kukingklas itu? Dan siapakah cikgu? Baca terus yaa…

---

Kukingklas, nama yang unik dan enak di telinga yaa.

Kukingklas adalah kelas memasak, sedikit modifikasi dari kata cookingclass. Didirikan oleh mbak Imelda Mel Fransiska, seorang penggiat kuliner, di rumahnya di kawasan Villa Bogor Indah. Pertama kali dibentuk tanggal 2 November 2013, dengan peserta kawan-kawan dekatnya. Kegiatan rutin kelas regular setiap Sabtu dan kelas private pada hari Selasa, Rabu atau Kamis.

Apa sih tujuan mbak Imel (nama bekennya) bikin kukingklas ini? Mbak Imel ingin menularkan ‘virus Kembali ke Dapur' pada kawan-kawannya, para ibu atau calon ibu rumah tangga. Menekankan pentingnya  masakan rumahan yang sehat, bersih, dan halal. Grup ini mirip seperti member gets member, mbak Imel atau anggota lama mengajak kawannya buat gabung ikutan kelas masak ini. Sekarang anggotanya sekitar 100 orang, dan cikgu tetap terbuka menerima anggota dengan tangan terbuka.
Dan ternyata setelah berjalan, tidak cuma para perempuan yang gabung. Ada beberapa kaum lelaki yang juga aktif ikutan kelas memasak ini lalu beneran praktek. Keren kan?

Nah mbak Imel ini sering kami panggil cikgu. Entah siapa yang memulai panggil ini dan apa sejarahnya. Yang jelas mbak Imel bukan hanya guru masak bagi aku, sudah jadi sahabat dan tempat bertanya berbagai hal tentang bikin2 kue. Yang telah jadi jalan aku buat berubaahhh (laksana Power Ranger) yang tadinya kaga pernah megang loyang apalagi mixer, jadi tau gimana cara ngulenin roti, bikin kulit quiche dsb. Alhamdu.....lillaah.

---

Lalu gimana ceritanya aku, si emak tomboy  ini mau ikutan kelas masak? Hahaha yang masa remajanya cuma bisa masak air dan indomie rebus.

Yap, aku blas beneran ga bisa masak waktu nikah. Beruntung banget 5 tahun pertama nikah masih tinggal sama ibu. Dan beruntung banget punya suami yang penyabar, ga menuntut istrinya buat masak. Menitipkan menu makanan Kaka anak pertamaku pada Eninya. Jaman kuliah dulu, udah mulai belajar goreng-goreng tapi tetep yang bikin bumbu-bumbu itu Eni. Jadi aku ga tau tuh apa bedanya jahe sama lengkuas atau bedanya merica dan ketumbar. Wakakakkk parah bener yaa.

Baru belajar masak ketika pindah ke Bogor, itu pun pelan-pelan. Yang awalnya cuma jago belanja bahan dengan petunjuk lengkap dari Eni, pelan-pelan aku mulai minat liatin si teteh masak di dapur. Lalu mulai belajar kenal bumbu dan meraciknya. Ada masa-masa ketika masakanku rasanya ga keruan, kadang pahit kadang keasinan kadang angus hahaha.

Tapi lama-lama eh kok bisa yaa. Alhamdulillah banget. Dan yang selalu bikin hati ini meleleh adalah kalo aku kelamaan ga masak karena sibuk ini itu, anak-anak pasti bilang: ibu kapan masak lagi? Duuuh naak.. padahal ibu cuma bisa bikin masakan yang itu itu aja dengan bumbu jebrus jebrus bahkan kadang ngandelin bumbu bungkusan.

Tapi sampai tahun lalu, pada umur sekian (jangan sebut ya hihi..) aku belum berani bikin kue. Aseli. Ga tau ya, dalam bayanganku bikin kue itu ribet, harus pake timbangan, mixer, oven, dll. Dapur penuh tepung dan berbagai macam bubuk lainnya. Terus ga yakin rasanya bakal enak atau engga.

Tapi selalu ada jalan peningkatan diri yang Allah beri petunjuk. Sejak lama kedua anakku suka banget brownies, mau dipanggang atau dikukus. Jadi kalo ke Bandung, pasti pulangnya aku wajib bawa brownies. Dan brownies satu kotak itu kadang habis dalam waktu satu jam. Hahaha..

Satu ketika, ada obrolan di satu grup relawan. Teh Irma cerita tentang kukingklas. Udah lama aku memang sering lihat foto-foto bertebaran di timeline FBnya, foto-foto kue atau masakan yang semua bikin ngiler. Aku minta tolong teh Irma buat dimasukin ke grupnya.

Singkat cerita, aku masuk ke grup itu. Ternyata ada beberapa nama yang kukenal, syukur dah. Nah, satu waktu, mbak Imel buka kelas Brownies. Setelah beberapa kelas, aku telat daftar, syukur banget buat kelas ini ga ketinggalan isi list daftarnya haha.. Kue kesukaan anakku boo, pantang buat dilewatkan.

Tapi oh tapiii, aku langsung keder makin deket hari H-nya. Haduh, kumaha ieuuu? Kaga pernah pegang mixer, kaga tau caranya manggang. Tapi dengan tekad pengen bikin kue favorit anak-anak, maka tekad pun aku buletken.

Tibalah hari kelas. Masih dengan perasaan ga pede, aku berangkat dianter c Ayah.

Kelas pun dimulai, setiap peserta dapet selembar kertas resep. Mbak Imel terangkan dulu bahan-bahannya sambil minta beberapa orang untuk bantu nimbang. Suuerrr baru kali itu gue liat timbangan digital. Wakakak…

Dengan semangat aku belajar nimbang bahan. Menimbang dilanjutkan dengan mencampur dan mengaduk bahan-bahan. Dan bersyukur banget tanpa mixer boooo.. hahaha kalo engga emak katro ini bakal terbengong bengong lagi trus salpok pegang mixer gimana caranya kaga tau.

Setelah bahan semua tercampur lalu masuk ke loyang dan dipanggang. OOhh geuningan gampil Aniiii…. Hahaha jadi bayanganku bahwa bikin kue itu ribet dan membingungkan itu salah besar sodara-sodaraaa.

Sambil tunggu kue matang, kami shalat Dluhur lalu disuguhi makan siang yang maknyusss. Pagi sebelum kelas, mbak Imel juga sediakan brunch atau sarapan telat. Kali itu, menunya pempek, dan aku abis dua mangkok (hihi...psstt...) Baik banget kan cikguuu..

Daan kue pun matang. Percaya ga percaya aku tatap tuh si brownies. Anii, elu bisa jugaaa bikin kueee.. Pulangnya, setiap orang dapat jatah 1 kotak brownies panggang. Sampe rumah, dengan antusias aku langsung teriak, "Naaak..siniii.. ibu bawa brownies bikinan ibu sendiri… yuhuuu.." Anak-anak langsung serbu tuh kue. Daan ga sampai sore, tuh kue udah abis tandas.


Berikut beberapa keseruan kukingklas.


Kece-kece yaa pesertanyaaa

Ciee... belajar nyaring tepung nih ceritanya

Cie kedua.. belajar nyemprot krimer..

Uhuuyy... maksi yang maknyuusss

Setelah ikut kukingklas, kini ada dua kebiasaaan baru dari Dude, anakku yang kecil. Yang pertama, satu pertanyaan wajib di Jumat sore dari adalah: "Ibu, besok ga ada kelas cikgu lagi ya?" Yang kedua: "Ibu, kalo ada kukingklas, Ibu ga perlu ijin Dude buat pergi yaa.... pasti boleh".  Bikin meleleh kaaan!!!

Wuiihh pokoknya bersyukur banget mamak-mamak pemalas masak ini udah dapet banyak ilmu bikin kue-kue yang enyaakk bangeettt…. Mbak Imel ga pelit ilmu. Ga jarang kami tiba-tiba dikasih bonus resep yang langsung dipraktekin.

Pokoknya baru ikut empat kelas tapi aku udah berasa sedang menuju koki berkelas hahaha….

Trimakasih cikgu Imeeel… Lope lope lopeee….


Online Versus Angcot: Ada Respek di Antara Kita

Medio bukan lalu, Bogor didera demo angkot yang cukup melelahkan Hayati hehe… Yak, para supir angkot atau aku biasa sebut angcot berdemo karena merasa angkutan online sudah merampas penghasilan mereka. Tiga kali demo, dua kali sempat ricuh, kabarnya ada abang ojek online dikeroyok yang lalu dibalas dengan perusakan angcot.

Hayati pun kena imbasnya. Yang sudah aman berojek online lalu kudu nyopir lagi. Padahal udah males banget dan ga go green kan (baca: bensin mahal booo) haha..


Untunglah itu ga berlangsung lama. Rentetan demo itu lalu diakhiri dengan tandatangan surat perdamaian antara perwakilan angkutan online dengan angcot, disaksikan Walikota dan Kapolres.

Taapi... setelah itu, apa ada yang berubah? Seminggu setelah kejadian, rasanya semua kembali ke asal hehe. Angcot kembali ngetem di manapun kapanpun dan angkutan online pun kembali beroperasi.

---

Cerita sedikit tentang pengalamanku beralih angkutan. Sampai Desember kemarin, aku adalah pelanggan setia angcot. Dengan jarak sekitar 5 km, bisa ditempuh maksimal dalam waktu 30 menit. Aman buatku. Tapi mulai tahun ini, aku mulai nyerah berangcot ria. Minimal butuh waktu 45 menit, padahal baru bisa jalan jam 6.45 tunggu anak dijemput ke sekolah. Mararevet sama waktu baris di lapangan alias apel pagi, waduh pokoknya.

Daan mulailah aku melirik si online itu. Install lalu coba order. Ternyata mampu menjawab problemku hehe, dalam waktu maksimal 20 menit dari sang ojek datang, aku sudah sampai kantor dan mencetak jari alias finger print. Siip laah…

Jadi, barangkali udah waktunya ada peralihan cara orang bertransportasi, dengan pertimbangan efisiensi waktu tempuh. Buat kasus kayak demo ini, sulit menurutku buat tuding pihak yang salah.

---

Selama bertahun-tahun ngangkot, sering aku ngobrol sama sang supir. Ada banyak hal kecil yang buatku menarik. Kenapa menarik? karena bisa jadi eunteung (cermin) buat aku yang sering lupa bersyukur. Dari obrolan ringan itu, aku tangkap betapa sulitnya masa sekarang kumpulkan rupiah demi rupiah. Beuki hese neangan sewa, kitu ceunah, sewa itu istilah supir buat kata penumpang. Mungkin itu alasan utama mereka demo.

Lalu beberapa bulan pake ojek online, kadang ada supir sopan yang suka basa basi ngobrol bebagai hal. Satu kesimpulannya, mereka sebelumnya kerja lain tapi penghasilan makin berkurang lalu beralih ke angkutan online. Ternyata lumayan bisa bawa uang sekian rupiah pulang ke rumah.

Jadi para pemirsah, satu kesimpulan dari kedua pihak ini: Masing-masing kerja sekuat tenaga buat menjemput rejeki. Ceuk abdi nu awam ieu. Yang masih luput barangkali rasa RESPEK di antara keduanya. Saling hormati dan saling hargai. Dan rasa percaya bahwa setiap manusia itu Allah bekali dengan rejekiNya semenjak lahir. 

---

Respek, apakah itu?
Menurut KBBI, respek itu rasa hormat; kehormatan: menaruh -- atas perbuatan yang mulia

Sedangkanmenurut https://www.vocabulary.com/dictionary/respect, Respect is a way of treating or thinking about something or someone. If you respect your teacher, you admire her and treat her well. You show respect by being polite and kind.


Respek itu tentang cara atau sikap kita berfikir atau memperlakukan orang lain. Anda memperlihatkan respek dengan sikap baik dan sopan. Contohnya jika kamu respek pada guru, maka kamu akan kagum dan hormat padanya.

Alangkah indahnya dunia Hayati jika para pelaku angkutan online saling respek dengan supir angcot-ers. Lalu keduanya juga saling respek dengan para penumpangnya.

Para angcot-ers harus sadar, sudah bukan masanya lagi ngetem seenaknya, jalanin mobil sangeunahnna bari ngebul ngaroko. Para majikannya juga harus saling hargai dengan para supir yang berjibaku di jalanan. Sistem setoran mungkin sudah harus dirubah, mungkin bisa meniru sistem online dengan bagi hasil dan bonus jika target tecapai. Para supir juga hormati majikan dengan merawat mobil dengan baik. Ada banyak contoh resepek lainnya.

Para angkutan online juga mesti toleransi. Istilah Sunda nya mah ulah nyolok mata buncelik. Artinya jangan terlalu terang-terangan menunjukkan mereka lebih laku daripada angcot atau opang alias ojek pangkalan. Pengelolanya juga baiknya punya database, untuk satu wilayah Kota Bogor misalnya butuh mereka berapa banyak. Jangan sampai juga mengancam periuk nasi angkutan lain yang sudah lama ada. Harus punya juga standar kelaikan kendaraan dan standar pelayanan sang supir.

Jika semua saling respek dan toleransi, pasti tak ada lagi demo-demoan. Mendingan kita demo masak aja dah, betul kan buibuuuu?....