Minggu, 01 April 2018

Seminar Autoimun @Prodia

Bulan lalu, temanku Vemmy yang kerja di Prodia share info seminar tentang Autoimun tanggal 25 Maret. Wah aku langsung minat, cus daftar dong. Aku bukan penderita Autoimun, tapi beberapa kawan sudah ada yang terkena dan suka share gejala-gejalanya. Jadi tujuan ikut seminar ini buat nambah ilmu yang pasti suatu saat akan berguna.

Oh ya yang belum tahu apa itu Prodia, coba deh gugling itu laboratorium klinik yang udah terkenal banget hehe. Terkenal karena pelayanannya yang bagus dan akurat. Sehari sebelum seminar, pihak Prodia telpon aku mengingatkan plus sorenya masuk sms reminder juga. Tuh buat seminar aja, diingetin ya kita. Bener kan pelayannya prima visan hehe...

Oh ya satu faktor lagi yang aku minat banget ikut adalah karena narsumnya dr Erwanto, dokter spesialis penyakit dalam dengan sub autoimun. Beliau dokter favoritku dan suami sejak beberapa tahun terakhir. Kenapa? Diagnosanya tepat sama keluhan kami. Ramah dan bersedia nerangin kalo kita tanya. Satu lagi hehe kalo aku daftar pasien umum pasti beliau tanya kenapa ga pake BPJS? Sayang kan bu kalo ga dipake.

Singkat cerita, hari H pun tiba, jadwal mulai seminar jam 12. Dengan semangat 45, jam setengah 12 aku otw ke tkp di Botani. Sampe tkp, langsung registrasi lalu dapet info mulai tengnya jam 1, jadi dipersilakan buat shalat dulu. Dr Er (panggilan akrab beliau) ternyata udah tiba. Dia ingat aku ternyata dan langsung menyapa: apa kabar bu? Kami pun bersalaman. Beliau mau shalat dulu juga. Aku pun menuju mushola di lantai dasar buat shalat.

Beres shalat, langsung balik lagi tkp. Eh ternyata dapet makan siang dengan menu Hokben (bukan iklan). Alhamdulillah, emang lagi laper banget hehe langsung disantap dah. Selagi makan, terlirik ada mbak2 berjilbab merah di meja registrasi. Lah itu kan Ritaaa temenku satu grup haha langsung deh kami berdadah2 dan duduk bareng. Cipika cipiki dan bertukar kabar karena udah lama banget ga ketemu, janjian beberapa kali tapi ga pas terus. Ga lama ada satu mbak2 juga yang colek2 kami, lah ternyata Rara kawan grup kami juga haha jadilah kami ribut bertiga. Lucunya baju kami ternyata mirip warnanya. Jadilah kami bercentil ria berfoto di photo booth yang disediakan panitia.


Tiga Mamak Kece

Naah buat yang pengen tahu tentang autoimun, nih aku kasih resume dari materinya yaa. Mungkin ada beberapa bagian yang perlu cek dan ricek, maklum mamak kan terbatas daya tangkapnyaa hehe..

Apa sih autoimun ituu?

Pada bagian ini, aku tambahkan beberapa info dari https://mediskus.com/penyakit/penyakit-autoimun-pengertian-gejala-pengobatan

Penyakit autoimun (aku singkat AI) terjadi ketika sistem kekebalan tubuh seseorang mengalami gangguan sehingga menyerang jaringan tubuh itu sendiri. Padahal seharusnya sistem imun hanya menyerang organisme atau zat-zat asing yang membahayakan tubuh. Dari segi bahasa auto artinya diri sendiri, dan imun artinya sistem pertahanan tubuh, jadi pengertian autoimun adalah sistem pertahanan tubuh mengalami gangguan sehingga menyerang sel-sel tubuh itu sendiri.

Sistem kekebalan tubuh adalah kumpulan sel-sel khusus dan zat kimia yang berfungsi melawan agen penyebab infeksi seperti bakteri dan virus serta membersihkan sel-sel tubuh yang menyimpang (non-self) misalnya pada kanker. Gangguan autoimun terjadi ketika sistem kekebalan tubuh seseorang keliru menyerang jaringan tubuh sendiri.

Doker Er menerangkan bahwa pada tubuh AI, sistem kekebalan tidak dapat membedakan mana sel sehat dan mana input dari luar yg berbahaya. AI termasuk penyakit kronik. Belakangan peningkatan kasusnya makin tinggi, semula 3,7% jadi 7,1 % per tahun. P

Gangguan autoimun dikelompokkan menjadi dua kategori, yaitu organ spesifik dan non-organ spesifik (doker Er menyebut sistemik). Organ-spesifik berarti satu organ tertentu yang terkena, sedangkan non-organ spesifik artinya sistem imun menyerang beberapa organ atau sistem tubuh yang lebih luas.

Ada sekitar 80 gangguan autoimun yang berbeda mulai dari yang ringan sampai yang berat, tergantung pada sistem tubuh mana yang diserang dan seberapa besar fungsinya bagi tubuh. Spektrum penyakitnya amat luas spt Lupus, Graves, Multiple sclerosis, Rheumatoid arthritis atau Rematik dan lain-lain.

Dari sumber tersebut, ditulis bahwa AI bukan penyakit tapi gangguan. Ini mirip dengan pemahamanku, AI ini adalah suatu kondisi tubuh kita yang lalu sebabkan beberapa penyakit yang berbeda pada seorang pasien.

Penyebab pasti AI blm diketahui. Namun penelitian menyebutkan pasien perempuan lebih banyak daripada laki-laki. Belum diketahui secara pasti, kenapa perempuan lebih rentan daripada laki-laki, terutama selama usia reproduktif.

AI belum dpt disembuhkan, yang bisa dilakukan adalah mengendalikannya hingga mencapai remisi. Remisi itu adalah kondisi AI tetap ada namun tidak mengganggu tubuh si pasien. Lalu menurut dokter, kehamilan diperbolehkan jika pasien pada kondisi remisi.

Jika sudah positf AI, namun tidak dilakukan treatment (pengobatan dll), bisa makin parah atau timbul komplikasi seperti stroke di usia muda, keguguran berulang bahkan sampai kelumpuhan.

Pasien AI selalu diminta untuk kenali tubuh, jangan abaikan alarm-alarm dari tubuh kita sendiri, salah satunya jangan sampai kecapekan.

Gejala Autoimun
Gejala paling umum: nyeri sekujur tubuh, nyeri pada otot yg tidak jelas titiknya di mana seperti diiris-iris atau ditusuk-tusuk pisau, fatigue (lelah berlebihan), rambut rontok parah, sering sariawan, nyeri sendi. Namun bbrp kasus tdk ada gejala yg khas, kadang gejala sama tidak menunjukkan penyakit yang sama bahkan 1 pasien bisa terjadi dua penyakit.

Pemeriksaan
Pada tahap awal, ditempuh melalui skrining ANA. Namun jika positif belum tentu AI.  Butuh pemeriksaan lanjut untuk menegakkan diagnosis lalu lanjut ANA Profile. Untuk penderita, bisa jadi pemeriksaan tersebut harus dilakukan secara berkala. Dokter Er sampaikan juga bahwa jika hasil Ig A tinggi, bisa jadi satu indikasi awal.

Pengobatan
Pada setiap pengobatan penyakit termasuk pasien AI, tentunya ada efek samping dari pengobatan. Misalnya suatu jenis obat ada efeknya ke lambung atau ginjal, tentunya dokter sudah kasih woro2 dari awal tentang efek samping ini dan memberi obat lain untuk kurangi si efek samping itu. Biasanya pasien AI menderita vitamin D rendah atau defisiensi, jadi dapat suplemen utk membantu mencegah reaksi peradangan berikutnya. 
Intinya AI butuh penanganan atau pengobatan jangka panjang.

Info lainnya, pemberian antibodi atau vaksin bisa jika pasien dalam kondisi remisi.
Dokter Er sampaikan juga bahwa obat2 herbal tidak dilarang namun sayang belum ada dokumentasi keberhasilan atau kegagalan, sehingga agak menyulitkan ketika diterapkan.

Bagaimana mencegahnya?
AI dapat dicegah melalui beberapa langkah yang pada intinya pola hidup sehat yaa seperti memperbaiki pola makan, katakan tidak pada pengawet - penyedap - pewarna buatan, biasakan makan sayur dan buah organik, kurangi garam. Pada beberapa kasus, pasien AI mungkin sensitif terhadap gluten.
Satu lagi yang penting: OLAHRAGA!!!!!!!! (camkan itu Aniiii). Olahraga yang direkomendasikan yaitu berenang.

Penanganan AI
Pada sesi selanjutnya, mbak Elsa, seorang survivor AI penderita lupus, berbagi tentang pengalamannya. Dalam hati, aku kagum banget sama mbak Elsa, yang tentunya telah lalui masa-masa berat hadapi penyakitnya.
Awalnya ketika pulang dari perjalanan luar negeri, mbak Elsa mungkin kecapekan. Gejala awalnya alergi yg terus menerus tapi tak jelas penyebabnya dan nyeri2 di sekujur tubuh. Setelah menjalani serangkaian pemeriksaan, maka dinyatakan positif AI. Bukan hal yang mudah untuk menghadapinya, melewati dulu fase denial atau penolakan diri dan sekarang sudah pada tahap remisi selama 3 tahun terakhir. Lingkungan keluarga amat berperan dalam mendukung mbak Elsa (support system).
Akhirnya sampai pada tahap kenali diri sendiri dan jaga aktivitas. AI jangan dilawan, tapi berdamai. Si lupus dianggap sahabat.
Mbak Elsa pernah jalani pengobatan herbal tapi ternyata berefek flare. Jadi sarannya, lebih baik selalu dialog dengan dokter. Ikut komunitas AI dapat membantu support system. Proses remisi itu ga pendek.

Pesan penutup
Pesan penutup dari dr Er: jika ada gejala yg terus timbul, segera kontrol kembali ke dokternya, usahakan di rumah sakit yg sama spy sudah ada kronologis dalam rekam medisnya.
Pesan penutup dari mbak Elsa: Pelajari dulu si autoimun lalu berdamai. Masih bisa aktivitas tapi sesuai kondisi badan (self alarm). Efek samping harus dipahami n siap dgn resikonya

Manfaat seminar
Seminar semacam ini amat berguna buat aku karena bisa nambah wawasan. Sudah beberapa kali aku ikut seminar dari Prodia semacam ini, seperti tentang stroke, gagal ginjal dll. Bonus lainnya adalah gratis plus suka dapet doorprize pula haha mamakalimrugi. Cuma yang suka bikin gemes adalah waktu buatu sesi tanya jawab yang sering kurang. Peserta masih banyak yang ngacung tapi waktu keburu habis. Oya satu hal lagi, seminar AI ini kemarin diadakan di Botani Square, satu mall yang paling hits di Bogor. Sayangnya ruangan tidak tertutup, jadi buat aku konsentrasi rada kurang, karena di sebelah banyak orang wara wiri. Anyway, seminar seperti ini selalu berguna. Terimakasih Prodia, sukses terus ya dengan layanannya yang patut diacungi jempol. 

Oya, ada satu pemandangan yang mengharukan buatku. Ada satu pasangan duduk pas di depan barisanku. Tampak seperti pasangan suami istri muda. Sepanjang seminar, sang suami selalu merangkul istrinya dan menepuk-nepuk bahunya dengan sayang. Mungkin sang istri pasien AI juga, karena pada sesi tanya jawab, dia acungkan tangan tapi ga kebagian waktu. Terharu merhatiin rasa sayang sang suami.


Selasa, 23 Januari 2018

Togeder Poreper

Mengawali tahun 2018, kumpulan Poreper kembali rencanakan acara kumpul-kumpul. Buat yang pengen tahu apa itu Poreper, sila baca di sini. Kali ini, kami mau nostalgia ke Kebun Raya Cibodas di Cianjur tanggal 13 Januari. Tempat kami perpisahan jaman SD, tapi jangan kepo ya itu tahun berapa, ketauan ntar jadulnya kami ups haha...


Ini foto jadul waktu kita piknik jaman SD hihihi


Sejak dua minggu sebelumnya, bu ketu kami yang gercep itu telah bagi tugas bawa makanan buat kami botram alias piknik di sana. Aku kebagian telur balado, kebayang kudu perang di dapur abis pulang ngantor di Jumat sore. Cing karunya lah ka abdiiii haha (kasihan lah sama awak). Mana minggu itu lagi hectic banget di kantor n rumah. Di hari Jumat aku putar otak, duh beli apa yaaa.. pengen bawa yang khas Bogor. Untung keluar ide: jadinya bawa moci talas dan minuman pala... selameettt hehe...

Ada tiga rombongan yang menuju tkp. Sebagian besar dari Bandung, ada yang dari Jakarta, dan aku berdua sobatku Rinta dari arah Bogor. Rinta bawa dua anak gadisnya. Kami mulai jalan sekitar jam 6 pagi. Di jalur Puncak ternyata hujan gerimis dan berkabut. Seru juga liatnya, jadi teringat beberapa tahun lalu, melintas Puncak rasa romantis diiringi rinai hujan sama seseorang, tssaahhhh... Kami sampai di tkp paling awal. Duh ternyata anginnya kenceeng banget, sampe bikin rada serem. Dingiiin. Untung ada warung kecil di dekat gerbang. Kami duduk menunggu teman-teman lain. Langsung pesan teh panas, indomie rebus. Tak lama keluar gorengan bala-bala dan pisang goreng panas. Nikmaat, lumayan ngurangin rasa dingin.

Sambil ngemil, kulihat mulai banyak orang-orang berdatangan. Ada serombongan anak pramuka nenteng macem2 peralatannya, ibu2 yang bela-belain pake jas hujan plastik warna warni. Oh ternyata banyak juga ya yang mau piknik juga ke sini. Tiba-tiba terdengar pengumuman dari speaker: “Para pengunjung, dengan terpaksa kami menutup Kebun Raya untuk sementara karena kondisi cuaca yang tidak memungkinkan.” Aku dan Rinta langsung saling berpandangan dengan muka bingung. Waduh, gimana dong rencana nostalgia plus piknik?

Tak lama, Suzan dan Heny dari Jakarta sampai juga. Lalu cari info lanjut ke petugas. Infonya sama, belum bisa dipastikan jam berapa gerbang bisa dibuka. Setelah rombongan Bandung datang, kami rundingan gimana nih baiknya kalo ternyata Kebun Raya masih tidak bisa dibuka sampai siang. Kalo cari resto buat kumpul pun kagok, karena kami masing-masing bawa makanan buat piknik. Mubazir kan jadinya kalo ga kemakan. Akhirnya, kami putuskan buat numpang nongkrong di warung, sambil optimis gerbang KRB bakal bisa dibuka sebentar lagi. Setelah minta ijin pada ibu warung buat sejenak mengokupasi warungnya hehe, kami pun keluarin beberapa cemilan buat temani kami ngobrol.

Setelah sibuk cipika cipiki dan “say hai hellow”, kami awali dengan lantunan ayat-ayat suci Al Quran. Seperti biasa dibaca Debby sang qoriah. Kali itu yang dibaca Q.S Ali Imron ayat 190-192. Secara garis besar isi ayat itu mengingatkan manusia buat senantiasa bertafakkur menelaah alam (langit dan bumi beserta segala isinya). Dalam proses itu, niscaya kita akan menemukan Allah. Dunia ini hanya permainan belaka. Akhirat tujuan kita. Setelah tafakkur, kewajiban kita buat selalu melakukan hal-hal baik buat bekal kita nuju akhirat. Jleb euy buat aku mah yang memang ngerasa fakir ilmu. Lalu disambung share dari Heny tentang kisah seorang kawannya yang dapat masalah keluarga cukup berat. Ceritanya panjang, kalo ditulis bisa makan 2 halaman hehe intinya sang istri (tanpa tahu) dipoligami suaminya lalu sang suami jatuh sakit lalu kisruh ke sana sini mirip kayak benang kusut. Diskusi ringan tapi cukup kena di hatiku. 

Tak lama cuaca mulai terang  dan tiupan angin makin berkurang. Lalu Heny yang gesit inisiatif cari info lagi ke petugas. Ternyata pintu gerbang sudah bisa dibuka. Alhamdulillah. Maka cus lah kami masuk. Tapi karena cuaca masih belum sepenuhnya normal, maka hanya jalur depan yang boleh dimasuki pengunjung. 

Ternyata Kebun Raya Cibodas (KRC) sedikit berbeda dengan KRB (Kebun Raya Bogor). KRC punya topografi yang lebih naik turun, jalan aksesnya juga tidak lebar. Untuk mobil perwis, rada ngepas dan butuh keahlian sang supir. Sementara KRB, areanya lebih merata, ada naik turun tapi tidak setajam di KRC. Kemudian pohon-pohon di KRC juga sepengamatanku tidak setua pohon di KRB. Di KRB, ada beberapa pohon yang lingkarnya gede banget, tangan dua orang direntangkan pun tidak cukup melingkari si batang pohon.

Sakura di Kebun Raya Cibodas

Setelah parkir di area sesuai petunjuk petugas, kami lalu jalan kaki. Dengan guide Nike yang sudah sering bawa rombongan ke situ, kami lalu berjalan menuju Taman Sakura. Ini beberapa foto Taman Sakura. Sayangnya sebagian besar bunga dan daunnya sudah gugur. Tapi lumayan lah masih bisa lihat si kembang bunga khas Jepang itu.


Piknik nih kita kakaaakkkk....






Setelah  jalan kira-kira satu jam, mulai ada yang bisik-bisik lapar haha ya sudah dulu deh muterin KRCnya. Lagian banyak jalur yang ditutup jadi terbatas area yang bisa dimasuki. Langsung deh cari area rumput buat piknik kami. Terpilihlah tempat ini, lumayan rata di pinggir kolam dan cukup teduh.

Yes, piknik alias botram pun mulai digelar. 



Menu piknik yang maknyuuussss
Nih foto menu pikniknya, yang ga ngiler berarti ada sesuatu yang salah dengan kalian haha.. Ada nasi liwet, ayam goreng, gepuk, ikan balita khas Bogor, lalap sambel, tempe tahu bacem, dan tumisan. Trus ada minuman, kue sus, cemilan keripik2, buah, rujak bebek, kerupuk kulit plus dodol2an dari Garut. 

Aku sampe nambah lho nasi liwetnya, lauknya iihhh meni arenaaakkk. Cemilannya jugaa, kerupuk kulitnya jadi rebutan, rujak bebeknyaaa pas bangeettt buat aku yang ga suka pedes, maknyuusss. Satu termos rujak pun tandassss.

Nikmat banget lhooo abis cape jalan kaki trus makan ngampar tiker di pinggir kolam sambil menghirup udara segar dan menikmati kehijauan tanaman. Duuhhh, nikmat Allah mana lagi yang akan kami dustakan. Rinta juga bawa menu khas lain yaitu ikan balita khas Bogor. Alhamdulillah jajanan khas Bogor itu pada doyaannn. Minuman pala ternyata pada pengen coba, moci juga tandas sama dusnya (*maksudnya dus mah dibuang haha). Pulangnya ada yang langsung mampir ke toko Lapis Bogor buat cari moci. Besoknya  di grup ada yang ribut cari IGnya si Gepuk Karuhun pengen order ikan balita lagi. Hehe alhamdulillah. Daan seperti biasa habis makan, kami emak2 operasi plastik. Semua makanan yang ga habis dibagi-bagi seru sambil ketawa dan kadang rebutan.

Kesimpulannya, kami “kawaregan” alias kekenyangan trus kantuk pun menyerang hahaha.. angin sepoi-sepoi tea atuh. Setelah beres makan, kami menuju mesjid utk shalat Dluhur. Beres shalat, foto-foto lagi (anggeerrr alias teteeeppp haha), lalu bubar menuju rumah masing-masing. 

Senaangggg... 
Duit weuteuh, beuteung seubeuh, balik rebo.. hahahaha...


Foto bareng plus spanduk dadakan tapi bajuusss

Alhamdulillah di hari itu, ada banyak hikmah yang bisa aku ambil:
1.       Tak ada gunanya kita terus menerus ingin merubah seseorang sesuai harapan atau keinginan kita. Ada dua sisi. Pertama, apakah betul harapan kita itu terbaik bagi dia? Karena yang terbaik tentunya hanya Allah yang Maha Tahu. SIsi kedua, itu bikin cape hati kita, tul ga? TIdaklah mungkin kita dapat merubah seseorang, kenapa? Karena tiap orang itu unik. Segala sikap dan perilakunya adalah cerminan pendidikan dan tradisi dalam keluarganya selama bertahun-tahun. Lalu apa kita punya hak buat merubah dia dalam sekejap sesuai kemauan kita? (camkan itu Aniiiii).
2.       Segala yang kita lakukan dalam hidup kita, pergunakanlan sebaik-baiknya agar bisa jadi ladang ibadah. Betapa nikmatnya jika itu bisa tercapai. Hidup jadi tidak sia-sia dan berpahala. Contohnya, kalo liat kerjaan rumah tangga itu baca bismillah niatkan buat ladang amal, jangan misah misuh ngeluh panjang.
3.        Ketika memandang kasus poligami tidak bisa hitam putih. Sebelumnya, aku berpikir, ketika seorang suami menikah lagi, maka dia dzalim dan merugilah si istri. Tapi ternyata esensinya ada hal lain. Suami poligami, maka jaminan istri masuk surga dari pintu manapun jika ia bersabar.  Jika pun suami dzalimi kita, tak usahlah berpikir untuk membalasnya. Kenapa? Karena sesungguhnya terjadi transfer pahala dari dia ke kita. Wallahu alam.
5.       Last but not least. Awalnya ada dua orang yang sudah memproklamirkan calon besan di grup kami haha .. Debby dan Tety. Dan di KRC tambah satu lagi, yaitu aku haha.. Abisan anak gadis Rinta maniiiss bangeetttt. Hahaha...

Poreper bukan sekedar berbagi seuri dan nostalgi, tapi juga berbagi hikmat dan pengingat. Togeder Poreper.... semogaaaa kita together forever always be friends yaa ....


*photo credit to Belly, Indah, n Anti's girls (calon mantu hahaha)

Rabu, 03 Januari 2018

Tahun BARU sama dengan Tekad BARU

Hari ini hari keempat di tahun 2018. Tahun baru, baru berganti tahun.

Sudah beberapa tahun ini, setiap malam tahun baru, keluarga kecil kami tidak ikut merayakannya. Tidak ada barbeque-an, tidak ada terompet atau kembang api (jelas lah, bocahnya wes bujang haha), tidak ada makan-makan khusus. Jaman anak-anak masih kecil, kami sering ikutan malam tahun baruan di tempat saudara.

Tidak ada alasan khusus, bukan juga patuh sama larangan yang beredar di berbagai grup medsos hehe. Alesannya simple: malez. Ya, males datang ke keramaian, males desek-desekan, males mamacetan, males beberes dan kukumbah kalo babakaran. Dasaarr yaa haha.

Yang kami lakukan cuma begadang nonton film di TV, kebetukan dapet paket akhir tahun gratisan semua saluran. Hihi emak alim rugel pisaan (kaga mau rugi). Ditemani jagung rebus yang dibeli di tetangga belakang rumah.

Resolusi?
Tahun baru identik dengan resolusi. Ada banyak orang yang bikin resolusi baru ketika ketemu tahun baru. Sekitar 5 tahun lalu, aku masih suka bikin list resolusi ketika tahun baru berganti. Tapi belakangan tidak lagi, karena apa? Karena jarang tercapai. Hihi aku bukan tipe orang yang konsisten. Mungkin termasuk sifat yang harus dirubah ya, tapi gimana atuh sudah guratan tangan, susah banget. Jadi cuma semangat 45 di awal-awal, lalu ketika muncul kendala, ya sudahlah bisa bertahan itu prestasi banget.

Tapi rasanya tahun ini aku butuh bikin tekad baru buat ini dan itu. Yap, bukan resolusi tapi tekad (eh bedanya apa emang?) Oke d, coba bikin beberapa, tiga aja yaa ga usah banyak-banyak.

a. Menghafal Qur’an
Hehe yang pertama ini udah jelas susah banget, secara akuh udah emak-emak jelita. Motivasi pertama dan utama adalah memotivasi anakku. Lulus SD tahun lalu, alhamdulillah dia sudah hafal 3 juz. Tapi sejak SMP (yang negeri), PR banget deh minta dia jaga hafalannya. Nah, supaya fair, maka aku juga mesti ikutan menghafal ya.
Bismillaahh.. mungkin di awal, satu hari tambah hafalan satu ayat juga udah bagus yaa..

b. Lebih rajin masak dan bikin kue
Tahun lalu aku berevolusi menjadi tahu gimana caranya manggang kue di oven.. Qiqiq itu prestasi banget, secara puluhan tahun ga tahu gimana caranya nimbang terigu, jadi tahu apa itu quiche.. berkat siapa? Berkat ikutan kukingklas, kursus masak berbasis pertemanan ala mbak cikgu Imelda (hormat kepada guruuu....).
Cuma abis lebaran, akibat kondisi badan sering ngedrop, maka si oven aseli dianggurin, padahal masih ada bahan-bahan bikin kue di rak.
Nah, mulai awal tahun ini, semoga cukup energy buat menggerakkan tangan nimbang-nimbang tuh bahan lagi.

c.       Lebih rajin nulis
Ini mirip dengan per-baking-an. Di awal tahun, nulis udah bisa konsisten minimal satu minggu satu kali. Sesuai slogan komunitas kami: 1m1c. Tapi lalu lalu dengan berbagai alesan yang sebetulnya dicari-cari aja, nulis makin lama makin jaraaang haha untung ga kena kick dah.  Ada rugina juga ternyata jadi admin hehe.. ketika baca tulisan para member yang makin lama makin bararaguuuss, maka aku jadi minder. Akibat blog aku mah isinya cuma curhatan khas emak-emak.

Semogaa dan semogaaa tahun, ibu pengembara ini bisa rajin nulis lagi...
Itulah tiga tekad BARU yang pengen aku bisa capai di tahun BARU ini. Mugia mugia mugiaa......





Minggu, 12 November 2017

Ambil Secukupnya

Setelah lama bertapa, alhamdulillah minggu ini para jari kembali beraksi, coba kutak ketik lagi hahaha.. 

Kali ini, aku pengen berbagi tentang observasiku di waktu kondangan. Hehe observasi, sok keren gini ya istilahnya. Pada satu hajatan maka pasti sang tuan rumah berusaha memuliakan tamu-tamunya. Mulai dari pemilihan gedung yang representatif, suguhan makanan yang beraneka, sampai ke interior yang dibikin secantik mungkin.

Suguhan makanan di "jaman now" itu biasanya terdiri dari meja panjang prasmanan lalu ditambah beberapa gubug berisi makanan minuman penggugah selera. Hampir di setiap kondangan yang aku hadiri, meja prasmanan biasanya kurang diminati, para tamu lebih memilih makanan di gubug sampai rela antri. Kadang tergelitik juga pengen survey kecil-kecilan untuk tahu sebabnya.

Satu hal yang tak pernah luput dari perhatianku adalah betapa banyaknya orang yang meninggalkan makanan bersisa di wadah atau piringnya. Dan ini terjadi di manapun kapanpun laksana iklan Coca cola di "jaman old" hehe. Padahal ini termasuk perilaku mubazir. Salah satu sebab dari makanan bersisa adalah karena mengambil secara berlebihan.

Dalam kegiatan makan, ternyata ada adab-adabnya. Berikut kutipan dari satu sumber:

Salah satu adab makan yaitu menjilat jari-jari setelah makan, menjilat piring dan memakan makanan yang terjatuh. Dalam Shahih Muslim dari Anas Radhiyallahu anhu, bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bila makan suatu makanan beliau menjilat jari-jarinya yang tiga, beliau bersabda:
 “Apabila makanan salah seorang dari kalian jatuh, maka bersihkanlah kotoran darinya, kotoran lalu makanlah dan janganlah membiarkannya untuk dimakan oleh syaitan!”
Dan beliau memerintahkan kami untuk membersihkan piring (dengan menghabiskan sisa-sisa makanan yang ada), beliau bersabda:“Karena kalian tidak mengetahui di bagian makanan kalian yang manakah keberkahan itu berada.”
Imam an-Nawawi berkata, “Artinya adalah -wallaahu a’lam- bahwasanya makanan yang disediakan oleh seseorang itu terdapat keberkahan di dalamnya, namun ia tidak mengetahui ada di bagian manakah dari makanannya keberkahan tersebut, apakah pada apa yang telah dimakannya atau ada pada yang tersisa di tangannya atau ada pada sisa-sisa makanan di atas piring atau pada makanan yang jatuh, maka seyogyanya semua kemungkinan tersebut harus dijaga dan diperhatikan agar mendapatkan keberkahan makanan, dan inti dari keberkahan adalah bertambah, tetapnya suatu kebaikan dan menikmatinya, maksudnya adalah -wallaahu a’lam- apa yang ia dapatkan dari makanan tersebut (untuk menghilangkan lapar), terhindar dari penyakit dan menguatkan tubuh untuk beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, serta hal lainnya.
Al-Khithabi berkata ketika menjelaskan kepada orang-orang yang memandang aib menjilat jari-jemari dan yang lainnya: “Banyak dari orang-orang yang hidupnya selalu bersenang-senang dan bermewah-mewah menganggap bahwa menjilat jari adalah hal yang sangat buruk dan jorok, seolah-olah mereka belum mengetahui bahwa apa yang menempel atau tersisa pada jari-jari dan piring adalah bagian dari keseluruhan makanan yang ia makan, maka apabila seluruh makanan yang ia makan adalah tidak jorok dan tidak buruk, sudah barang tentu makanan yang tersisa tersebut (bagian dari seluruh makanannya) adalah tidak buruk dan tidak jorok pula.”
Maka, perhatikanlah bahwa adab-adab dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tersebut mengandung anjuran untuk memperoleh keberkahan makanan dan mendapatkannya, seperti juga padanya terdapat penjagaan terhadap makanan agar tidak hilang percuma, yang membantu pada penghematan harta dan pemakaiannya tanpa mubazir.

Waah, ternyata bukan hal yang sederhana ya jika kita menyisakan makanan. Di situ terkandung kemungkinan hilangnya keberkahan dari makanan itu serta pemborosan dan kemubaziran. Kalo disederhanakan, maka makanan yang masuk ke perut kita itu jadi cuma sekedar lewat menuh menuhin perut, hilanglah satu potensi ladang amalan. Duh sayang banget yaa teman..

Jadi, mulai dari sekarang, yuk yuk kita ambil makanan secukupnya dan habiskan tanpa sisa. Ingat lhooo, betapa ruginya jika kita kehilangan satu potensi ladang amal.


Pernah terbersit di kepala, kalo nanti aku hajatan nikahin anakku. Bisa ga ya, aku pasang spanduk kecil di tiap meja bertuliskan: mohon ambil secukupnya, mohon tidak sisakan makanan jadi mubazir. Hahaha jadi pengen tahu reaksi para tamu.

Selasa, 26 September 2017

Keluarga Baru (Lagi)

Setelah bertekad dalam hati buat kurangi kegiatan KI (Kelas Inspirasi) tahun ini, ternyata eh ternyata aku tetep tergoda buat kembali daftar jadi relawan KI. Ya, kali ini KI Cianjur menggodaku, salah satu pelakunya adalah seorang newbride berinisial Wilda.. eh jadi bukan inisial ya haha. Mendaftarlah aku jadi fasil (fasilitator) di injury time, dan ternyata diterima.

Tiga minggu menjelang hari H, panitia bikin grup Whatsapp para fasil. Ada hal unik di grup ini. Orang-orangnya sopan bangeettt hahaha selalu didahului salam lalu tulisan: Punten akang teteh dst. Aku sampe takut nulis komen, karena biasa nyablak. Grup relawan kayak gini biasa orang-orangnya pada “gila”, becanda plus sotoy. Tapi di sini ternyata beda.

Di awal gabung grup aku udah janji dalam hati, ga akan banyak komentar. Tapi eh tetapi di perjalanan napa jadi sering komentar panjang-panjang dengan nuansa saran, protes, bahkan kritik. Hehe ulah kirang hampura nya akang teteh. Tapi itu grup memang uhuy, walopon aku kadang nulis rada pedes, eh tetep dijapri dengan sopan, dan bertanya: gimana teteh, apa penjelasan panitia sudah cukup? Jadi isin abdiii.. Saran, protes itu semata-mata karena aku cinta kalian akang teteh, percayaa ya yaa yaaa.

Seminggu berlalu, tibalah pengumuman relawan pengajar dan dokumentator. Kami para fasil diberi data relawan lalu diminta untuk buat grup per kelompok. Begitu baca list nama relawan di kelompokku, weits keren juga nih. Profesinya lumayan beragam, beberapa cukup bikin aku kagum. Dan mulailah aku menjalankan tugas selaku fasil. 

Barangkali ada yang belum tahu tugas fasilitator KI yang utama? Jadi penghubung antara relawan dengan panitia? Betul tapi kurang tepat. Jadi penghubung antara relawan dengan sekolah? Betul juga tapi masih kurang tepat. Tugas utama fasil adalaahhh MENTEROR para relawan dengan berbagai cara. Apa tujuannya? Memastikan mereka tetap “cukup gila” untuk tidak kabur dan tetap gabung di kelompok sampai hari Inspirasi. Hahaha..

Seperti biasa mulai saling berkenalan. Seperti biasa pula ada yang heboh pake banget, ada yang konsisten silent reader (dan terpaksa menikmati teroran japri fasil), ada yang kasih ide ini dan itu, ada yang begini dan ada yang begitu. Seru dah.

Cuma ada satu cuma. Walaupun dari awal, aku udah pasang nama ceuceu Ani di akunku. Awal-awal mereka panggil ceuceu, tapi satu orang tulis bunda Ani eh lama-lama yang lain ngikutin jadi bilang bunda Ani. Yasalam apakah fotoku di pp nampak jelas bahwa aku memang seumur mamak atau minimal tante bungsu mereka? Wakakak....

Sehari sebelum hari Inspirasi tanggal 9 September, relawan mulai berdatangan ke Cianjur. Karena bos besarku (a.k.a si kecil) baru kasih ijin berangkat habis Maghrib, maka aku baru jalan jam 7 malem dari rumah. Rencana semula mau coba naik bis Marita di Ciawi yang rutenya Jakarta-Cianjur. Tapi di jalan dapet info dari sesame relawan, bisnya udah keburu lewat Ciawi dengan kondisi fully booked tos seueur nu nangtungTak ada alternatif lain, aku pun naik colt alias elf Bogor-Cianjur yang terkenal paling nyaman sedunia itu hahaha. 

Ini pengalaman pertamaku, jujur bikin deg-degan juga buat mamak-mamak ini. Banyak orang bilang si elf ini super ngebut plis zigzag, kayak uji nyali alias wanian. Bahkan satu relawan bilang, wah bunda naik roller coaster. Glegk..

Eh tapi malam itu rupanya aku beruntung. Jalanan rada macet sampe Gadog dan sang sopir ga ugal-ugalan dan tetep lewat jalan biasa, ga pake jalur jalan tikus yang kebayang poek mongkleng. Jam 9-an berangkat dari Bogor, jam stg 11 sudah sampe Cianjur. Aku turun di perempatan Hypermart yang amat legendaris tapi anehnya ga tampak tuh sebelah mana sang emol yang kabarnya satu-satunya di Cianjur itu. Hihi..

Singkat cerita, sampailah aku di rumah markas kami. Pak Kepsek berbaik hati memberi kami satu rumah tempat nginap. Rumah sederhana tapi cukup lah buat kami ber-17. Dinding kamar masih bilik tapi jadinya angeet, plus kami cewek2 ber8 umpel2an kayak pindang haha.. Sayang banget lupa ga berfoto dengan latar belakang rumah itu.

Daaan.. percayalaaah, ini grup KI paling berisik yang pernah aku temui. Ketawa ngakak sampe pada sakit perut akibat ulah satu orang yang bawel hahahaha. Satu orang ajaib yang bikin aku diam-diam jatuh hati.. aaah aahh kaaak..Sampe jam 12 malem masih ada yang ngobrol walau bisik2 karena aku teriak: tidur tiduuurr. 

Entah jam berapa, aku terbangun akibat alarm hp berbunyi. Kaga ada yang bangun. Alarm kedua bunyi trus jadi bersahut-sahutan. Eh belum ada juga yang bangun. Jadilah aku yang bangun dengan kepala berat akibat kurang tidur. Langsung dilampiaskan lewat teriak pelan: wooyyy banguuun woyyyyy!!!

Setelah siap, langsung kami jalan ke SD Bingawati lokasi KI kami, berjarak sekitar 400 meter. Waah, anak-anak ternyata sudah dataaang, padahal baru jam 6.20. Mereka tadarus di kelas masing-masing. Aku intip muka-mukanya. Duuh nyes banget deh lihat mata polos mereka.

Setelah persiapan ini itu, KI dimulai dengan pembukaan sekitar 30 menit. Yang paling fenomenal adalah bagian flashmob. Widih kak William berhasil menyihir anak-anak buat menari bersama dengan lagu Setinggi Langit. Ini lagu aseli liriknya bagus banget, pas pisan sama nafasnya KI. Coba deh simak.

https://www.youtube.com/watch?v=eU9ix-mPZGc

Tibalah saat para pengajar masuk kelas. Jreng jreng silakan beraksi kawan kawaan. Sebagey fasil, aku cukup rempong juga, akibat terjadi salah komunikasi dengan pihak sekolah. Sehinggaaa buru-buru revisi jadwal. Untungnya mereka teuteup semangat dooong. Alhamdulillah, lancar semuanya walopon rada rempong di sana sini. Fasil tandemanku kece banget deh, wara wiri tanpa henti bantu atur ini dan itu. Love youu.. 

Sambil jalan ngecek per kelas, aku amati cara mereka berbagi ke anak-anak. Berbagi tentang profesi masing-masing. Profesinya ada penari, dokter, guru, akuntan, pajak, analis kimia, IT. Menarik banget kalo bisa sampe ke benak anak-anak. Betapa nanti ketika mereka besar, ada begitu banyak profesi atau pekerjaan yang bisa mereka tekuni. Begitu banyak pilihan cita-cita. Harapan kami, mereka bisa semangat sekolah buat capai cita-cita itu. Indah banget kaan...

Sekitar jam stg 12, kelas pun disudahi dan mulai persiapan penutupan. Karena sudah siang, rencana kami cuma sedikit pidato dari sekolah lalu foto bareng. Tapi begitu, kak Willy tawari anak-anak apa mau flash mob lagi. Serempak mereka teriak dengan mata berbinar: mauuuuuu. Hahaha, padahal udah puanas boooo. Jadilah “Setinggi Langit” kembali berkumandang. Tak cukup sekali, mereka mau dua kali. Ampuun semangatnyaaa.

Sambil siap-siap pulang, mereka antri salim ke kami para relawan. Beberapa aku rangkul sambil ngobrol singkat tentang cita-cita masing-masing. Ada satu anak yang bercita-cita jadi arsitek, dan asyiknya dia bisa cerita sederhana tentang arsitek itu apa. Tak lupa aku bisikkan kata-kata penambah semangat seraya berdoa dalam hati: sekolah terus ya nak, sampai cita-citamu tercapai.

Setelah silaturahmi sebentar dengan pihak sekolah (kepsek dan para guru), kami pun pamit pulang. Kumpul dengan kelompok lain di sesi Refleksi, lalu bersiap masing-masing pulang. Pulang ke Bogor, kebetulan ada yang bisa ditebengi relawan dari Jakarta. Dilalah, dia mau dulu belok ke Bogor, kasihan ceunah sama emak2 hehe rejeki emak soleh...eeehhh.

Di jalan pulang, aku kilas balik KI Cianjur seharian tadi. Tetep, masih ada beberapa bolong, introspeksi selaku fasil. Sedikit gemes sih jujur hehe.

Kembali terbentuk satu keluarga baru: satu bunda yang bawel plus sedikit garang (hhmmm... capa itu yaaaa?), dua tante ayune yang sigap order pin plus rela begadang masangin pitanya, 12 anak-anak ketemu gede yang karakternya amat beraneka: mulai dari yang suka jaim plus sok serius, yang kocak motah pisan, yang hiperaktif sampe pusing baca komentarnya yang ga putus, yang kalem tapi penolong banget, yang silent reader eh ndilalah jadi partner in crime gue... Hahaha... Makasih semuaaa, ketjup basah virtual..

Keep in touch, ojo lali ulah hilap!!

Akuu bisaaa jadi apa sajaaa
Setinggi langit di angkasa
yang tak ada batasnyaaa
Akuu bisaa kalau aku mauuu
Cita-cita dan mimpikuuu
Setinggi langiiiit...
*credit to Naura

Selasa, 19 September 2017

Anti Mainstream

Aku mungkin termasuk orang yang cenderung anti mainstream.

Haha entah kenapa tapi setelah bertahun-tahun aku analisis diri sendiri, sampailah pada kesimpulan –yang mungkin ngasal- ini. Mungkin anti mainstream ini dipengaruhi oleh sikapku yang cenderung soliter dan kurang ekstrovert (dulu).

Ingat dulu jaman masih unyu di SMA, di sekolah punya sih beberapa sobat. Tapi kalo jalan ke suatu tempat dan sobatku ga bisa, ya udah aku jalan sendiri. Ke toko buku Gramedia –yang dulu cuma ada satu-satunya di Bandung- sendiri, ke toko kaset sendiri, bahkan pernah dua kali nonton juga sendiri. Haha ini mah kayaknya gabungan antara anti mainstream jeung euweuh batur. Pilih bimbel juga aku mah sendiri we ga nyari yang ada temen satu sekolah. Dulu aku SMA 1, tapi milih bimbel Saut yang isinya banyak banget anak SMA 3. Ga ada yang kenal hihi tapi cuek we teteep bimbel.

Maksudku, aku suka merhatiin beberapa teman yang menggantungkan diri pada orang lain. Mau daftar les minta ditemenin trus milih yang ada banyak temen di tempat les yang sama. Mau makan tunggu temen, kalo ga ada temen ga jadi. Menurutku mah sengsara ya hidupnya haha..

Hal itu terjadi juga pada pilihan baju. Memang ada masanya ketika aku ikut-ikutan pake baju yang seirama temen cewek satu kelas ketika SMA. Tapi sebagian besar, pilihan bajuku tak sama dengan pilihan orang pada jamannya haha. Jamannya orang seneng pake baju warna cerah, aku mah tetep we konsisten dengan pilihan nuansa hijau yang kalem dan ga berani pake warna kinclong. Yes sampai sekarang hijau adalah paporit aye.

Kemudian ketika lulus kuliah dan pilih tempat kerja. Waktu aku lulus, kebanyakan alumni pilih jadi konsultan. Kala itu konsultan lingkungan lagi booming, banyak banget orang yang butuh. Ikut-ikutan kerja kayak konsultan setahun tapi aku lalu daftar PNS. PNS daerah haha kalo ini beneran anti mainstream. Ada beberapa alumni yang jadi PNS tapi sebagian besar PNS di tingkat pusat.

Apa alasan utamaku? Aku melihat masalah lingkungan sudah mulai banyak. Dan tidak banyak garis miring sedikit banget alumni yang jadi PNS daerah. Aku fikir kalo masalah lingkungan itu cuma ditangani konsultan atau LSM lingkungan tapi ga ada orang di pemda nya yang paham, pasti solusinya kurang gereget. Hihi hipotesa new fresh grad yang entah benar entah tidak.

Daan mendaftarlah aku testing CPNS lalu tes lalu lulus haha.. Dan tahun ini pas aku sudah dua puluh tahun ini mengabdi jadi aparat negara.

Langkah kedua yang anti mainstream adalah ketika aku mundur dari jabatanku 3 tahun lalu. Waktu itu aku sudah di struktural eselon 4, sekitar 7 tahun berjalan. Lalu terjadilah suatu pergulatan dalam batinku yang akhirnya ambil keputusan mundur dan memilih jalur fungsional. Ada banyak orang mempertanyakan, karena walaupun baru eselon 4 tapi ternyata banyak juga ya yang kepengen atau belum dapat kesempatan. Istilahnya mah elu tuh udah dapet rejeki jabatan, eh malah disia-siakan. Eits tapi tunggu dulu, justru aku mundur supaya yang kepengen itu bisa duduk di situ. Bener ga? Hehe..

Bay d wey baswey, anti mainstream itu seru lhooo, karena jadi orang yang berbeda trus kan jadi tampak jelas di tengah kerumunan orang-orang yang mainstream hahahaha....


Minggu, 10 September 2017

Bertanya tapi Bukan Kepo

Sejak kecil aku hobi bertanya. Itu kata ibuku.
Atau mungkin lebih tepatnya suka mempertanyakan sesuatu,
Satu kali ibu pernah cerita, aku pernah bertanya kenapa rambut bapak itu berwarna putih? Kenapa ibu itu bisa meninggal? Hehe aneh ga sih anak kecil bertanya hal-hal kayak gitu?

Dan itu tampaknya menurun pada anakku. Sejak umur 2-3 tahun, dia hobi bertanya: kenapa begini, kenapa begitu, Sekitar umur 6 tahun, dia pernah tanya, di mana Allah itu? Nah lhoo, gimana coba cara neranginnya dengan bahasa anak-anak.

Seiring usia, aku suka mempertanyakan hal-hal yang mungkin buat orang lain ya elah kayak gitu aja ditanyain? Kadang itu menyiksa, kenapa? Karena aku jadi prihatin pada banyak hal.

Kalo liat orang buang sampah senbarangan, kenapa sih tuh orang maen lempar aja sampah ke jalan?
Kalo liat ibu-ibu merokok di tempat umum, dalam hati bertanya, itu emak kaga mikir apa ya dampak asap rokok buat anaknya?

Di lain pihak, aku kadang merasa: gue kok kayak ga punya kejurangan aja yaa, liatin macem2 kekurangan orang. Jadi kayak ga introspeksi, padahal hadeuuhhh aku juga pasti punya banyak hal-hal buruk.

Beruntung, aku lalu ketemu banyak orang muda yang lebih santai, dari mereka aku belajar lebih selo.