Kamis, 05 Juli 2018

Tak Mudahnya Memilih Cita


3 Juli 2018, jam 15.52
Panggilan Whatsapp dari Kakak
“Hallo, assalamualaikum. Kaa, gimana?”
“waalaikum...salam... buu...”
Hening, lalu terdengar suara isak. Duh, langsung deg deg plas.
“ya nak”
“Kaka... jadi.. kuliah.. di Bandung..” terbata-bata..
“alhamdulillaahh... ya Allah wa syukurillahh.” Tak terbendung air mata ini.
“Kaka sujud syukur dulu.”
“makasih yaa cuuu.. ya Allah ar Rahmanirohim”.

Begitu telpon ditutup, duh rasanya plooong hati ini, walopon lutut langsung lemes hehe.
Hari itu pengumuman SBMPTN, dan Kaka diterima di pilihan pertamanya: Planologi ITB. Sampai sekarang, rasanya masih mimpi. Allah Maha Baik Maha Penyayang Maha Pengasih, berkenan mengijabah doa kami. Doa yang kami panjatkan di setiap sujud kami, setelah shalat, sepanjang bulan Ramadlan. Bahkan di luar waktu-waktu itu, do’a khusus buat dia selalu aku bisikkan.
----

Arkeolog.

Begitu selalu jawaban Kaka ketika ditanya cita-citanya sejak SD. Dan sampai sekarang aku dan ayahnya masih bingung darimana ide itu dia dapet. Kami berdua sama-sama lulusan sekolah teknik, Aki Eni dan uwa2nya banyak jadi guru, konsultan, atau PNS. Dalam keluarga besar kami, tidak ada satupun yang punya profesi deket-deket arkeolog.

Mungkin akibat waktu balita aku sering belikan buku-buku sains. Ga sadar, buku-buku yang aku beli ternyata banyak bercerita tentang dinosaurus, manusia purba, penelitian situs dst lengkap dengan gambar berwarna warni tea. Plus majalah Kuark ketika SD lalu National Geographic ketika SMP yang juga jadi bacaan favorit dia.

Berlanjut ke hobinya ketika kecil masuk museum. Ini juga bukan hasil maksa-maksa haha aneh yaa. Sementara anak-anak sebesar dia mungkin lebih suka main di mall, dia sukanya ngajak ke museum. Semua museum di Bogor rasanya sudah kami sambangi (kecuali museum yang baru kayak museum Presiden), termasuk museum Peta yang udah “rada ladu” haha plus tiket masuknya kalo ga salah cuma dua rebu. Museum Zoologi pernah kami kunjungi dua kali dan dia ga bosen tuh.

Masuk SMP, kalo ngobrol-ngobrol ringan dan ditanya cita-cita, masih Arkeolog. Hehe dalam hati, hebat juga ini anak persistensinya. Padahal dari buku-buku sains yang pernah dia baca, ada banyak profesi yang menarik juga. Seperti astronomi, kedokteran, ilmuwan, dll. Tapi eta masih keukeuh arkeolog.

Aku ga pernah melarang. Selama cita-cita itu baik, pasti kami dukung. Cuma uwanya yang rada “nyureng”: arkeolog? dengan muka bingung hahaha..  Tapi sekilas, aku sudah mulai kasih gambaran bahwa profesi arkeolog bukan profesi yang umum. Kalo Kaka mau jadi arkeolog, maka Kaka usahakan jadi arkeolog yang serius dan kalo bisa jadi “extraordinary”.

Nah pas masuk SMA mulai deh tuh kegalauan menimpa. Masuk SMA harus langsung pilih jurusan IPA atau IPS. Arkeolog itu sebaiknya masuk IPS, karena jalur masuk PT-nya dari Sosial. Cuma hasil dua kali psikotes, kesimpulannya Kaka berbakat di sains tapi yang lebih “IPA”, rekomendasinya malah masuk kedokteran atau insinyur. Nah lho kan bikin galau.

Aku bilang, Kaka kalo memang serius masih minat arkeologi ya gapapa masuk IPS. Tapi jangan terjebak stereotype (yang salah banget) tentang anak2 IPS yang santai suka hura2 dll. IPS juga tetep kudu serieus dan bisa berprestasi. Aku cerita dulu punya temen SMA yang pinter dan sebetulnya bisa masuk kelas IPA tapi keukeuh milih IPS karena memang minatnya ke situ.

Tapi ayahnya yang rada protes, untungnya ngomongnya ke aku ga langsung ke anaknya. Gini dia bilang: masuk IPS kan jurusan yang bisa dipilih terbatas, Bu. Dan kayaknya ga cocok buat c Kaka. Aku berusaha menengahi: ya tapi kan kita ga boleh maksa anak, Yah.

Buat nambah ikhtiar, aku menghadap bu guru BK. Beliau cukup bijak, memberi saran kalo memang mau coba masuk dulu aja ke salah satu, karena ada kesempatan tiga bulan buat semacam orientasi. Habis itu masih boleh pindah jurusan. Kelas IPS di sekolahnya ternyata solid dan kompak banget. Dan tetep banyak prestasi.

Setelah diskusi, akhirnya Kaka putuskan untuk pilih jalur IPA. Waktu itu dia sedikit bergeser minat ke paleontology yang persepsi kami itu subnya bidang geologi. Dan ternyata dia lumayan bisa ngikutin pelajaran. Alhamdulillah.
--

Pilihan kuliah.

Masuk kelas tiga, mulai deh kami berdiskusi lagi hahaha keluarga macam apa ini apa-apa diskusi. Cape kali ya orang liatnya hahaha. Tentang pilihan jurusan di PT nanti.

Waktu itu sudah mulai pendataan untuk SNMPTN alias jalur rapot tea. Tiba-tiba dia bilang: mau milih TL, pengen kayak ibu. Haha, ini akibat doktrin alumni TL di rumah kayaknya. Dari mulai SD ketika belajar PLH, mungkin dia “terpesona” dengan gapenya sang ibunda menerangkan tentang pencemaran lingkungan. (hahaha *kibasjilbab). Lalu bawelnya aku yang selalu hemat energy macem “matikan lampu kamar kalo ga ada orang”, diet plastik : kalo jajan nasi kuning harus bawa wadah dari rumah, sekolah selalu bawa tumbler dan bekel makan siang, supaya ga usah beli AMDK dan jajan. De el el de es te. Hahaha ternyata betul yak emak2 emang paling berperan kalo urusan mendoktrin kayak gini..

Pilihan pertama FTSL, pilihan kedua Kimia. Yang Kimia kayaknya hasil merayu ikutan Open House Kimia ITB sekitar Agustus tahun lalu. Hasil janjian sama dua teman sesama alumni yang kebetulan sama-sama mahmud. Acaranya lumayan menarik, ada banyak stand demo praktikum kimia yang menarik kayak gunung berapi, lalu tour ke lab-lab di jurusannya. Ga ada foto anaknya yang bisa diposting karena waktu itu emaknya bertiga yang sibuk popotoan hahahaha..

Di lain waktu ngeriung santai lagi, aku tanya gimana Ka apa aja alternatif pilihan jurusannya. Geologi yang waktu itu sempet minat ternyata engga lagi. FTSL engga lagi juga hahaha dia udah keder kali yak. Sempet bilang juga minat Teknik Kimia, yang ternyata kudu kuat di mapel Fisika. Aku bilang, coba browsing-browsing di situs2 PT atau tanya-tanya ke alumni, soalnya ibu kan udah kejauhan angkatannya, pasti jurusan udah berkembang. Dan jawabnya cuma iya. Coba liat-liat tentang jurusan Geografi, di UGM kan bentuknya fakultas dan udah jurusan lama.

Oya, aku pernah diklat di UGM selama tiga minggu, dan setelah kampusku sendiri, aku mulai jatuh cinta pada kampusnya pakde ini. Areanya luaaas banget, universitas lama dan historinya sudah terekam mantap. Dosen-dosennya asyik hehe walopon aku cuma interaksi sama dosen-dosen Arsitek  tapi rasanya asyik, karena rada beda dengan dosen-dosenku dulu waktu kuliah hahaha. Trus waktu diklat itu, anak2 sempet nengok trus kita sempet muter-muter di dalem UGM. Ternyata itu membekas juga di memori c Kaka dan menggugah minat dia buat kuliah di situ.

Ayahnya diskusi sama aku. Kayaknya c Kaka mah jurusan cocoknya IPA yang rada-rada IPS, kayak Planologi. Dalam hati aku fikir betul juga. Kebetulan aku S2nya PWK (Perencanaan Wilayah Kota) alias Planologi baheulana. Di situ memang belajar banyak hal yang tidak murni engineering, seperti ekonomi wilayah, kelembagaan dan kebijakan. Lalu mulai pilihan itu kami sodorkan ke c Kaka.

Dekat-dekat pemilihan jurusan SNMPTN tiba, dia bilang lagi. Kaka kayaknya mau milih 3: PWK ITB, PWK UGM, Teknik Kelautan ITS. Hasil TO di bimbel udah mulai masuk ke range UGM sih bu, tambahnya. Aku sih cuma bilang: wah bagus atuh Ka, kalo udah punya pilihan mah, tapi entar kita diskusi dikit sama Ayah yaa...

Aku pun coba cari-cari info tentang ITS. Jurusan Teknik Kelautan ternyata lumayan bagus. Dan begitu teringat kiprah bu Susi menteri kita, rasanya ke depan jurusan ini lumayan bagus juga prospeknya, secara Negara kita kelautan kan booo. Ayahnya tambahin pertimbangan, itu ilmu dasarnya Sipil, jadi mesti kuat Matematik dan Fisikanya. Euh, ini mah bikin anaknya mengkeret lagi atuh ahhaha. C Kaka itu dari SMA udah diwanti-wanti sama walasnya buat 2 mapel ini. Eh tapi ndilalah ternyata nilai di NEMnya alhamdulillah bagus.

Ternyata bukan rejekinya c Kaka lolos jalur SNMPTN. Waktu awal pengumuman dia tampak biasa aja. Tapi beberapa hari sesudahnya mulai tampak rona kecewa di rona muka dan bahasa tubuhnya. Aku mencoba menghibur sebisanya dan kasih lagi suntikan semangat. Beruntung dropnya ga kelamaan lalu semangat pelan-pelan balik lagi.

Lalu di grup alumni angkatan, aku baru inget ada teman dosen PWK di Undip. Langsung deh aku japri dia dan tanya-tanya info umum. Infonya membantu banget, dan dia seneng banget kalo anakku milih di Undip. Aku pun cerita sama c Kaka. Trus ayahnya nambahin, mungkin kalo mau PWK Undip aja pilihan ketiganya, jadi konsisten. Hhmmm, bisa juga ya. 

Tapi aku selalu bilang ke Kaka, ini kan saran dan pertimbangan Ayah Ibu, buat memperkaya ketika Kaka bikin pilihan. Pilihan tetap Kaka yang putuskan. Ibu ayah cuma berusaha kasih gambaran semaksimal mungkin. Jangan lupa doanya dikencengin lagi, shalat istikhoroh supaya pilihannya dikasih petunjuk sama Allah.

Dan akhirnya ketika daftar SBMPTN, Kaka putuskan pilih ini: PWK ITB, PWK UGM, dan PWK Undip.
Bismillaah... semoga ini pilihan terbaik.
--

Seleksi SBMPTN di awal Mei. C Kaka dianter ayahnya karena kondisi badanku kurang sehat. Lokasi tes di kampus SMA YPHB, suatu sekolah bernuansa Islam di Pajajaran. Alhamdulillah, ruangannya cukup terang dan lega, parkir juga leluasa, ada mesjidnya pula. Ternyata ayahnya nungguin di masjid sampai c Kaka selesai tes, cerita banyak banget ortu yang nunggu di masjid, pada shalat, mengaji dan berdoa.

ruangan Kaka seleksi SBMPTN

Pengumumannya ternyata di awal Juli. Jadi selama dua bulan itu, aku ketimpa penyakit deg deg plas alias H2C  hahaha. Beruntung kami peroleh bulan Ramadlan. Ibadah dimaksimalkan, doa makin dikencengin. Dalam do’aku terselip satu tawar menawar sama Allah (hehe... semoga ga menyalahi syariah): “ya Allah, berikanlah sekolah yang terbaik untuk anakku Abdillah, kabulkanlah cita-citanya, luruskanlah niatnya. Tapi ya Allah, kalo boleh hamba minta, di Bandung aja ya Allah, supaya emaknya ini ga terlalu khawatir.”

Allah memang Maha Baik.
Arrahmanirrahim.
Doa hamba-Nya yang kotor penuh noda dosa, emak nu rumasa masih fakir elmu, ibadah belum maksimal, suka kufur nikmat dan kurang sabar, tapi yaaa Allah.... dikabul, diijabah. Air mata ini menitik.

Duuh gustii Allah, haturnuhun pisan.
Langsung terbayang wajah Aki dan Eni, pengasuh Kaka sejak dalam kandungan sampai balita. Tentunya ini tak luput dari do’a mereka berdua waktu masih ada.
--

I'tikaf dan silaturrahim

Sedikit kilas balik. Bulan puasa kemarin aku lama-lama gerah juga lihat anak-anak ga ada kegiatan yang jelas di rumah terus. Cari-cari info tentang Sanlat buat c Kaka, udah kegedean, yang ada buat anak2 SMA, dan dia udah ga mau ikutan. Terakhir tahun lalu masih mau ikut Sanlat di Salman.

Eh tiba-tiba ada postingan info i’tikaf di Salman di grup mama2. Nah, bisa jadi jalan nih. Langsung deh nih mamak merayu supaya Kaka mau ikut. Untungnya dia minat, cuma mau nyari temen dulu katanya. Sip sip. Ternyata makin dekat hari H, temennya cuma satu yang juga minat. Tapi dia tetep mau dan langsung packing-packing. Alhamdulillah. C Kaka pilih i’tikaf selama 3 malem tanggal 7-10 Juni. Lalu aku rencana nyusul tanggal 11 begitu mulai libur kantor lalu kami lanjut mudik.

Malem kedua, aku minta Kaka kirim foto Salman.

Suasana i'tikaf di Salman
Aaahhh damainyaaa.. Siapa yang lihat foto ini trus baper cuuunggg!!!

Dan tiba-tiba dalam hati, aku bisikkan do’a. Ya Allah, tahun ini dia peserta I’tikaf P3R Salman. Semogaaa ya Allah, tahun depan dia yang jadi panitianya. (Betapa Allah Maha Baik yaa pemirsaaa....hiks.. do'a ini terkabul)

Teringat juga sebelum Lebaran kemarin, aku sempatkan berkunjung ke sahabat2 Aki Eni. Cita-cita sudah lama sebetulnya tapi karena lebaran seringnya mepet liburnya jadi susah atur waktunya. Alhamdulillah kemarin PNS dapet jatah cuti lebih banyak (makasih pakde). Dua tetangga masa kecil, Aki Eyang Prian dan Nini Iyes, dua guru sahabat Eni: bu Yatmani dan bu Mimin, dan bi Enin, bisa silaturahim. Alhamdulillah.. Ini beberapa foto kami.

Bersama Bu Mimin, guru favorit PPSP
dari masa ke masa


Bersama Eyang dan Aki Prian


Anak-anak sengaja aku bawa. Sambil belajar bahwa mengunjungi sahabat-sahabat orangtua kita amat dianjurkan dalam Islam. Pertanyaan standar ketika kita berkunjung adalah tos di mana sakolana? (sekolah di mana?) Dan Kaka selalu menjawab: nembe lulus SMA, nuju ngantosan pengumuman tes. Daaaan semuaaa mendo’akan dengan tulus. Do’a para sepuh ahli ibadah, tos ngiring ngarojong Kaka oge. Haturnuhun pisan.

Barokah silaturrahim.

--

Kabar gembira ini awalnya ga aku posting di manapun kecuali di grup keluarga. Takut jadi riya dan jujur ga enak banget sama yang anaknya belum berhasil lolos. Eh ga tau info dari mana, satu per satu japri pun muncul dan akhirnya kabar ini muncul di semua grup. Haha maklum seleb (eehhhh minta dikeplak). Sambil aku bisikkan do'a tulus, semoga yang belum lulus SB segera dimudahkan beroleh sekolah terbaik menurut Allah. Skenario-Nya pasti paling indah.

Semua komentar turut bahagia alias ngiring bingah itu aku aamiin-kan. Ada satu do'a yang amat indah aku kutip di sini:
"Teh Anii barokallah, wilujeng kangge kakak katampi sbmptn.. mugia janten jalan anu pang sae2na kangge kabagjaan dunia akherat..."

--

Alhamdulillahirrobil ‘aalamiin. Arrohamanirrohim.
Haturnuhun ya Allah, telah Engkau karuniakan qurata a’yun, harta yang tak ternilai, yang tak terbeli.
Trimakasih ya anak cuuu, telah berusaha sekuat tenaga dan tak putus berdoa. We are so so very proud of you. Love love much much more love....


--

Tulisan pengingat untuk momen yang bukan hanya satu milestone buat Kaka anakku, tapi juga titik introspeksi lagi buat aku dan suami. Semoga Allah jadikan kami hamba yang pandai bersyukur dan rajin bersabar. Jauhkanlah kami dari riya, kufur nikmat, ujub, dan takabur.
Aamiin yaa robbal ‘alamiin.

Kamis, 07 Juni 2018

Asyiknya Berbagi Buku


Alkisah ada seorang ibu, sebut saja namanya bu Melati, punya niat pengen bikin taman bacaan buat anak2 di sekitar rumahnya. Lingkungan rumahnya termasuk unik, bisa dikatakan campuran dari dua karakter yang heterogen: di bagian depan penduduk komplek perumahan  dan di bagian belakangnya perkampungan. Di perkampungan inilah, dia melihat aktivitas anak2 tampak belum menonjol. Hari-hari mereka ya diisi dengan bermain bersama. Rasanya kalo mereka disediakan taman bacaan, bakal bagus banget buat nambah ngisi kegiatan positif di sela waktu mereka. Plus kasih mereka semacam jendela dunia.

Mulailah bu Melati ini mengumpulkan buku-buku bacaan anak. Dia pilih dengan seksama dan cermat, kira-kira buku apa yang bakal cocok dan diminati anak2 itu. Jika dapet info obral buku murah di toko G yang terkemuka itu, dia langsung bersorak senang. Di situ biasanya, bisa dapet buku-buku anak yang walaupun terbitan lama tapi berkualitas dan tentunya harga terjangkau.

Dia juga rajin ngecek info2 garsel buku di salah satu grupnya. Grup ini terdiri dari ibu-ibu muda satu almamater dengannya. Jika ada garsel buku anak dengan tema yang dinilai bagus, langsung deh: booked, mauuu.. Hahaha..

Dan ketika paket paket itu mulai berdatangan dan semakin rajin si abang kurir: pakeettt, maka sang suami mulai protes: Ibu beli apa lagi sih?

Dan tahukah anda bu Melati itu siapa?
Aku.. hahahaha

Ya, lama kelamaan aku seperti terobsesi untuk terus koleksi buku2 bacaan anak yang berkualitas, demi mewujudkan cita-cita taman bacaan. Cita-cita yang terus tertanam di benak, sejak anak-anak masih usia TK dan SD.

Tapi ternyataaaa, waktu pun berlalu. Si kecil TK lalu beranjak masuk SD dan naik SMP, si kakak SD lalu naik ke SMP dan malah SMA dan tahun ini lulus. Daan cita-cita ternyata belum terwujud juga.

Di akhir minggu, beberapa kali aku pandangi nanar tumpukan buku itu. Sayaang banget rasanya kalo dikasihin gitu aja ke orang, tapi duh tapi sayang juga ya takut mubazir kalo Cuma tertumpuk di rak tanpa ada yang menjamah.

Tapi akhirnya, setelah menimbang dengan seksama, aku putuskan buat menyumbangkan buku-buku itu ke taman bacaan lain yang sudah ada tapi masih membutuhkan buku-buku bacaan.

Caranya? Posting di grup untuk identifikasi temen2 yang sudah punya taman bacaan.

Gayung bersambut, tiga teman respon. Lanjut kami japrian buat janjian kirim-kirim buku itu. Lalu dua teman lain kasih info juga tentang tempat yang masih butuh bantuan buku-buku layak baca.

Daan mulailah tumpukan buku itu diturunkan dan mulai disortir. Aku usahakan kelima tempat itu bisa dapet variasi jenis buku dan majalah yang relatif sama. Ada dua jenis majalah, buku sains, komik remaja, KKPK, buku agama anak. Dan inilah penampakan before and afternya..
...

Ternyataa..
Apa yang terjadi?
Rasanya legaaa, gembira, dan senaanggg...
Alhamdulillah.

Tak jadi punya taman bacaan tak apa, tapi aku tahu di sana ada banyak anak-anak hebat yang mau baca buku-buku itu. Anak hebat yang semoga semakin hebat setelah dunia makin lebar terbentang dari buku itu.


Jumat, 18 Mei 2018

Untukmu Mas Tersayang




Enam ribu 
sembilan ratus 
tiga puluh 
sembilan hari
telah kita lalui bersama

Hari hari yang bagiku
tidaklah selalu sama
Ada masa senang tawa bahagia
masa sedih duka lara
kecewa marah curiga

Masa adaptasi yang amat tak mudah
dua karakter yang jauh berbeda

Kau dengan diammu, aku dengan bicaraku
Kau dengan tenangmu, aku dengan gejolakku
Kau dengan sabarmu, aku dengan syukurku

Kita menjadi saling melengkapi

Dua mutiara yang lalu hadir
satu bulan dan satu bintang
makin lengkapi hidup kita
Karunia terbesar
yang tak ternilai
yang Ia titipkan pada kita
yang semoga kita bisa jaga fitrahnya

Semoga Allah ridloi langkah kita

 I love you so, mas

Kamis, 10 Mei 2018

Kembali, kembalilah cintai dia apa adanya

Sekar tergagap. Kembali si boss pergoki dia tengah melamun di depan komputer. Tugas yang mestinya selesai pagi tadi, siang ini masih belum tuntas juga. Duh malu rasanya. Ini kali kesekian, dia sulit berkonsentrasi di kantor. Ingatannya selalu melayang ke masalah rumah tangganya.

Menjelang dua puluh tahun usia pernikahannya, namun mereka tengah dihadapkan pada masalah yang cukup pelik, dan Sekar hampir-hampir menyerah.

Semua bermula ketika tahun lalu, perusahaan tempat suaminya bekerja tiba-tiba colaps dan terjadi PHK besar-besaran. Suaminya, Ardi, termasuk yang kena PHK. Pesangonnya sih lumayan, tapi ternyata merka tidak siap dengan perubahan kondisi yang drastis itu. Maka pelan-pelan, pesangon itu terpakai buat berbagai kebutuhan.

Posisi Sekar di kantor pun masih staf biasa. Penghasilannya tidak cukup buat biayai keluarga dengan tiga anak yang pas masanya sedang banyak kebutuhan sekolah. Nabil si sulung tahun lalu kuliah, Sekar bersyukur Nabil bisa diterima di sekolah negeri, sehingga tidak terlalu berat biaya masuknya. Tapi tetap bulanan, Sekar harus putar otak supaya bisa mengatur kiriman rutin buat kost Nabil tetap ada.

Ardi yang berusaha mencari peluang kerja lain, sampai sekarang belum berhasil. Dan entah kenapa, dua bulan terakhir ini mentalnya makin jatuh. Motivasinya sudah tidak ada atau bahkan nyaris nol.
Dan ujungnya semua Sekar yang harus tanggung bebannya.

Sudah berkali-kali, Sekar mengajak Ardi ngobrol serius tentang masalah keuangan ini. Namun Ardi selalu cuma bisa termenung dan hanya berucap pendek-pendek. Tanpa solusi.

Sampai dua bulan lalu, rasanya sudah tak tahan hadapi suaminya. Sekar jadi apatis. Dia sudah kehabisan akal. Apa lagi yang harus dilakukan buat mendukung Ardi. Rasanya semua telah dilakukan, tapi hasilnya nol besar.

Dia tak lagi peduli Ardi. Dia hanya fokus pada ketiga anaknya. Tapi rupanya lama-lama kondisi ini juga berimbas pada anak-anak. Tiga hari lalu Sekar akhirnya meledak di depan anak-anak, ketika Ardi tiba-tiba ngomel panjang karena tiba-tiba mesti anter anak2 pagi banget.

Dan Sekar menyesal. Menyesal sangat. Anak-anak yang harusnya tidak tahu, kini jadi tahu ada masalah antara papa dan mamanya. Mereka jadi jarang bicara, dan bisik-bisik di kamar bertiga.
--

Ayu bossnya beri isyarat supaya Sekar masuk ruangannya.
“Apa kabar anak-anak2?” tanya Ayu begitu Sekar duduk di depannya.
“Eh, baik mbak.”
Ayu memang pernah ketemu anak-anak setiap kantor adakan “Family Gathering” tiap tahun.
“Syukurlah.”
“Kamu lagi ada masalah?”, hati-hati Ayu bertanya.
Sekar terdiam.
“Kalo butuh tempat cerita, aku ada di sini ya. Kita udah temenan lama kan.”
Mereka memang telah berteman sejak awal masuk kerja. Nasib baik membawa Ayu naik jabatan dan jadi atasannya Sekar.

Sekar menghela nafas.
“Ardi, mbak”
Ayu menunggu.
“Aku tak tahu lagi harus buat apa buat support dia.”
“Uang tabungan sudah habis dipakai modal macem-macem usaha, tapi ga ada yang berhasil.”
Sekar mulai berlinang. Ayu ikut berkaca-kaca.
“Kemarin kami bertengkar di depan anak-anak. Aku kayaknya udah ga kuat, mbak. Sampai mana sih kita mesti bersabar pada suami kita?”
Dia tahu perjuangan Sekar selama ini.

“Berat ya, aku bisa bantu apa?”
Sekar terdiam sambil menyusut air matanya.
“Aku punya buku ini, siapa tahu bisa bantu ringankan beban di hati.” ucap Ayu sambil angsurkan satu buku tipis.
“Isinya tidak menggurui tapi kena banget buat aku mah.” Ayu tersenyum simpul.
“Makasih banyak ya mbak.” Sekar baru ingat, dulu Ayu pernah hadapi juga masalah dengan suaminya ketika ketahuan selingkuh. Bersyukur mereka bisa atasi dan sampai sekarang rukun kembali.

“Pesanku cuma satu: kembali, Sekar. Kembali terima dia, kembali cintai dia apa adanya. Kembalikan niat awal ketika kalian mulai menikah. Kembali pada anak-anakmu, mereka anak-anak manis banget, karunia terbesar dalam hidup kalian. Maka kamu akan lebih ikhlas menerima apapun ujian rumah tangga kalian. Percayalah, aku pernah alami itu.”
Mereka pun berpelukan erat.
--

Di buku itu, Sekar dapat beberapa hikmah.

Dan Sekar bertekad, bahwa dia akan kembali pulang. Kembali seperti dulu. Terima Ardi apa adanya. Dulu pun ketika menikah, mereka betul-betul berangkat dari nol. Tapi pelan-pelan mereka berjuang bersama sampai pada titik ini.

Mau tahu apa saja isi buku itu yang mampu menggugah Sekar untuk “kembali”?

Benci dan suka

Allah subhanahu wata'ala telah mengingatkan kita agar tidak membenci atau menyukai sesuatu padahal kita tidak tahu rahasia di balik itu. Dalam QS Al Baqarah:216 disebutkan "Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah Mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui."

Ujian sebagai penggugur dosa

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَا يُصِيبُ المُسْلِمَ، مِنْ نَصَبٍ وَلاَ وَصَبٍ، وَلاَ هَمٍّ وَلاَ حُزْنٍ وَلاَ أَذًى وَلاَ غَمٍّ، حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا، إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ
“Tidak ada satu musibah yang menimpa setiap muslim, baik rasa capek, sakit, bingung, sedih, gangguan orang lain, resah yang mendalam, sampai duri yang menancap di badannya, kecuali Allah jadikan hal itu sebagai sebab pengampunan dosa-dosanya.” (HR. Bukhari 5641).

Jihad seorang istri

Jika seorang isteri taat kepada suaminya serta tidak pergi meninggalkan suami maka pahalanya sama dengan jihad di jalan Allah. Perhatikan hadist berikut: Al- Bazzar dan At Thabrani meriwayatkan bahwa seorang wanita pernah datang kepada Rasullullah SAW lalu berkata :  Aku adalah utusan para wanita kepada engkau untuk menanyakan : Jihad ini telah diwajibkan Allah kepada kaum lelaki, Jika menang mereka diberi pahala dan jika terbunuh mereka tetap diberi rezeki oleh Rabb mereka, tetapi kami kaum wanita yang membantu mereka , pahala apa yang kami dapatkan? Nabi SAW menjawab :” Sampaikan kepada wanita yang engkau jumpai bahwa taat kepada suami dan mengakui haknya itu adalah sama dengan pahala jihad di jalan Allah, tetapi sedikit sekali di antara kamu yang melakukanya.

Rezeki itu dari Allah

Allah telah berfirman dalam surat al-Isra’ ayat 31:
نَّحْنُ    نَرْزُقُهُمْ    وَإِيَّاكُمْ
‘…Kami-lah yang akan memberi rezeki kepada mereka dan juga kepada mu…’

Dalam ayat ini jelas dikatakan bahwa sesungguhnya peran masing-masing hanyalah sebagai pelaksana harian, dimana kehendak serta penentuan berada ditangan Allah semata. Sehingga tidak ada hak bagi masing-masing untuk mengklaim sebagai penentu bagi keberpihakan serta kebutuhan masing-masing. Suami Istri merupakan tim yang seharusnya berlaku kompak dan sudah semestinya mereka bersinergi dalam menjalani segala aspek dalam kehidupan ini.

Atas kehendak Allah, rezeki yang lebih bisa diberikan pada isteri dan bukan pada suami. Jadi jangankan menjadi tinggi hati jika suatu saat rezeki isteri melebihi suami, atau merasa lebih bermanfaat daripada suami, merasa bisa hidup sendiri dan dapat mengatasi sendiri segala hal, tidak mau diatur sehingga tidak patuh kepada suami. Inilah tanda-tanda kehancuran suatu kapal pernikahan.

“Ya Allah ya Rabbi, Engkau adalah Dzat Yang Maha Memberi, maka berikanlah kepada suamiku kelapangan atas rezekinya. Jika letaknya masih jauh, maka dekatkanlah yang Rabb, jika masih berada di atas langit, maka segeralah turunkan untuknya. Dan jika masih tertahan di dasar bumi, sungguh hanya Engkau yang Maha Mampu untuk segera mengeluarkannya untuk suamiku. Hanya kepada Engkau kami memohon rezeki. Hanya Engkau yang Maha Memberi rezeki tanpa mengharap imbalan. Karena keagungan-Mu meliputi alam semesta dan isinya.

Duhai Allah kami bersaksi bahwa tiada Illah selain Engkau, tiada berhak kami menyembah selain kepada Engkau dan tiada pernah kami menyembah selain Engkau, kami hanya meminta kepada Engkau, maka kabulkanlah permintaanku ini, ya Rabb. Dan aku percaya hanya Engkaulah sebaik-baik pemberi dan zat yang maha menerima keluhan serta permohonan hambamu, amin”

Jaminan masuk syurga

"Jika seorang isteri telah menunaikan shalat lima waktu dan berpuasa di bulan Ramadlan dan menjaga kemaluannya daripada yang haram serta taat kepada suaminya, maka dipersilakanlah masuk ke syurga dari pintu mana saja kamu suka."(Hadits Riwayat Ahmad dan Thabrani)

Duh betapa istimewanya kan?

Jaadii, alasan apa lagi yang bisa jadi "excuse" Sekar buat terus terpaku dan tergugu pada masalah (yang katanya rasanya) berat itu?
Tak ada kan.


Kamis, 19 April 2018

Tak Seujung Kuku Pun


Sekitar dua minggu lalu, ada anggota satu WAG-ku yang japri, Andi bercerita bahwa ada teman dalam WAG yang sama, Beni sedang dilanda ujian. Anaknya bakal dibiopsi buat cek kanker. Perempuan, umur 10 tahun. Beni jarang banget muncul di grup jadi aku belum kenal.
Aku langsung terkesima.
Ya Allah, umur 10 tahun , gimana kalo hasil biopsinya positif?

Kami berdua langsung posting infokan di grup, supaya ikut dukung morilnya Beni. Semua turut mendoakan semoga hasilnya negatif. Beni merespon ucapkan makasih, plus info tentang kronologisnya sakit anaknya. Namanya Arina, pas aku lihat di pp nya Beni, anaknya cantik banget, putih tersenyum manis.

Seminggu kemudian, Andi kabarkan lewat japri lagi, hasilnya positif kanker.
Aku terhenyak lagi. Sambil bisikkan doa, semoga mereka dikuatkan.

Aku langsung japri Beni buat kasih dukungan moril. Lalu janjian sama beberapa teman buat nengok ke rumahnya. Dalam WAG aku yang satu ini, tidak semua anggota grup saling kenal. Bahkan ada beberapa yang aku belum pernah ketemu. Jadi waktu nengok itu, kami baru ketemu Beni dan istrinya, Utari. Arina juga ada dikenalkan pada kami.

Begitu ketemu, dalam hati rasanya sedih banget. Beda banget sama di foto lalu, Arina tampak kurus banget. Mukanya kuyu. Masih bisa bermain sama adiknya, tapi belum kuat sekolah. Walaupun udah sering nangis, pingin sekolah.

Utari cerita tentang kronologis sakitnya Arina. Jadi sudah enam bulan bolak balik ke rumah sakit, cek ini dan itu, sampai akhirnya dapet diagnosis kanker. Sebetulnya kami ga tega bertanya-tanya, tapi mungkin ia butuh katup, butuh ada orang yang mau jadi pendengar, jadi ia ceritakan dari awal. Sesekali ia susut air matanya.

Secara fisik udah jelas Arina sakit, ternyata secara psikis dia juga stress. Kadang bilang sakit di suatu bagian tubuh, padahal sebetulnya tidak. Suka tiba-tiba jerit-jerit merasa keluar darah dari mulutnya. Sambil nangis, bertanya pada mamanya, aku ini sakit apa, mama?

Anak ini anak baik hati dan tidak mau merepotkan orangtua. Pernah katanya dulu kejadian kakinya tiba-tiba sakit. Ternyata sudah beberapa lama kakinya ditekuk ketika pakai sepatu karena sepatunya udah kesempitan. Sekarang pun, kalo berobat ke dokter, dia bertanya: mama ada uang?

Anak yang disayang-sayang, dieman-eman, harus didera satu penyakit serius, yang pengobatannya mesti lewat kemoterapi dan radiasi. Yang mungkin banyak orang sudah mafhum apa efeknya buat si pasien.

Sambil menyimak ceritanya, dalam hati aku merasa tertampar. Ya Allah, ga ada apa-apanya ya ujian yang Engkau pernah timpakan padaku, dibanding ujian keluarga itu.

Pernah sakit? Pernah, tapi pasti lebih sakit Arina. Pernah ga punya uang? Pernah, tapi belum pernah tiba-tiba harus punya dana ratusan juta buat berobat. Pernah bingung? Pernah kalut? Pernah galau tu d mex? Semua pernah. Tapi, rasanya lebih berat cobaan mereka.

Ga ada apa-apanya Aniiii, ujian yang pernah kamu rasakan. Tak seujung kukunya. Atau bahkan mungkin cuma setitik debu.


Senin, 09 April 2018

Ajaibnya Sedekah


Tiba tiba pandangannya mengabur, linangan air mata hampir jatuh ke kertas di hadapannya. Kala itu ia sedang selesaikan notulen rapat kemarin setelah break.

Tadi ketika istirahat kantor, karena suntuk, ia buka medsos di hpnya. Ia cuitkan sedikit kegelisahan hatinya, gelisah ya galau. Galau karena kok rasanya hidup ini tidak berpihak padanya. Sudah lama karirnya mentok, walaupun rasanya sudah berbagai upaya dilakukan supaya bisa promosi. Promosi itu amat ia butuhkan karena suaminya baru saja diPHK. Sementara anak sulungnya sebentar lagi lulus SMA dan lanjut kuliah. Rasanya kok berat yaa hadapi gaji bulanan yang Cuma numpang lewat saja di rekeningnya. Di akhir bulan, ia mesti berjibaku cari tambahan buat biaya bulanan.

Tapi satu komentar dari cuitan ia siang itu sangat menggugah:
..........bersedekah tak kan kurangi hartamu ........

Namanya Putri. Ia seorang karyawan di divisi perencanaan.

Ketika pulang kantor, pelan Putri berjalan menuju stasiun, ia biasa pake komuter pulang pergi kantornya. Murah meriah, walaupun mesti berdesakan tanpa ampun.

Lalu dia berpapasan dengan seorang bapak yang sedang memikul dagangannya. Sereh yang biasa dipakai bumbu masak. Kala itu sudah pukul lima sore dan jejeran batang sereh masih menumpuk di keranjangnya.

Tiba-tiba, tanpa dia sadari, dia panggil bapak tua itu.
“Pak, pak saya mau beli serehnya. “
Bapak tua itu langsung berhenti.
“Neng mau beli?”
“Berapaan, pak?”
“Dua ribu satu ikat.”

Dalam hati Putri tercekat, dua ribu? Dia hitung kasar jumlah ikatan di keranjang si bapak. Mungkin sekitar 50 ikat. Berarti si bapak pulang bawa uang seratus ribu, dengan catatan semua serehnya laku.
“Beli sepuluh ya pak.”
“mangga, neng.”
Tanpa ragu Putri mengangsurkan dua lembar lima puluh ribuan.

Si bapak heran ternganga.
“Neng, ini salah lihat lembaran uang ya?”
“engga pak, ini bawa trus bapak pulang ya, udah sore mana mendung tebel mau ujan lagi. Serehnya bisa buat jualan bapak besok.”
“Ya Allah, neng makasih pisan. Ya Allah, Alhamdulillah. Anak bapak memang udah seminggu demam, tapi belum dibawa ke dokter, bapak belum punya uang. Makasih ya neng.”
“Iya pak, sama-sama.”
“Bapak doain neng panjang umur, banyak rizki, sehat.”

Lalu si bapak bisikkan doa-doa pendek sambil tangan tua keriputnya menggenggam erat tangan Putri.
Putri makin tercekat, dia tahan-tahan air matanya.

Setelah bapak tua berlalu. Putri tiba-tiba merasa lega. Dia tidak merasa uangnya menjadi berkurang. Yang ada di hatinya Cuma rasa nyaman dan lapang.

Terimakasih ya Allah, Kau turunkan petunjuk hari ini, lewat bapak tua yang sederhana itu.
Alhamdulillah...


Kamis, 05 April 2018

Kreatifkah Aku?


Kreativitas berasal dari kata kreatif. Kreatif. Kata ini makin sering ya kita dengar. Dan biasanya orang mengasosiasikannya dengan kata: keren. Orang kreatif itu keren. Kenapa keren? Karena dia punya sesuatu yang baru, bisa ide, cara, bahan, teknologi, atau apapun itu yang berbeda dari sebelumnya. Ini definisi aku yang mungkin sedikit sotoy hehe..

Dulu waktu masih jadi pejabat (walaupun kroco haha), trus baca satu surat atau format, maka entah kenapa, benak ini suka dipenuhi pertanyaan.  Ini kayaknya mestinya bukan gini, harusnya gitu, baiknya dirubah dll dst. Sepertinya, aku punya kewajiban untuk memperbaiki sesuatu.Maka jadilah kala itu, aku banyak bikin format baru, bahkan sampai format kuitansi pembayaran pun aku perbaiki haha.. Nah apakah ini masuk kategori kreatif? Pertanyaan bagus yang mungkin butuh kita renungkan bersama. (Kitaa? Lu aja kaleee... ) Atau mungkin beda tipis antara “euweuh gawe” dan sedikit kreatif.

Tapi jangan tanya kalo urusan bebenah rumah. Aku angkat tangan dah, sama sekali gak kreatif. Dalam urusan beberes, aku sering bingung, gimana ya caranya supaya nih meja jadi rapih. Nih botol-botol mesti ditempatin pake wadah apa. Trus ditaro di rak mana. (Widih rak mana ceunah, orang rak cuma dua yang sudah berumur yaa mungkin sekitar 10 tahun hahaha..) Jadi begitu deh, barang-barang sering  tidak berkelompok dengan kawannya masing-masing. Tapi untungnya aku suka inget tuh barang pernah lihat di sebelah mana. Jadi kalo anak-anak tanya, gunting kuku ada di mana, aku masih bisa tunjukin tempatnya dan betul adanya. Ga selalu sih, sering lupa juga haha.

Begitu juga dengan urusan busana. Sejak dulu, aku bukan orang yang bisa berdandan, padu padan pakaian. Jadi ya gitu deh, pakaian sehari-hari ya kalo ngantor seragam plus pashmina dengan model pakai yang gitu-gitu aja. Kalo wiken keluar sama anak-anak, palingan gamis plus pashmina juga. Tutorial hijab mah udah dikoleksi di medsos tapi kaga pernah dicoba hihi...

Jaadii, kesimpulannya: apakah aku termasuk orang kreatif? Jawabnya: kurang atau belum, sebagai penghalusan dari tidak kreatif hahahaha....