Selasa, 26 April 2016

Another Day… Missing You


Time passed
then more and more
I miss you
Miss you so
Miss you like crazy
Sometimes,
It was like making my heart bleeded
or a pain in my chest
Every little things
just you and me
reminds me of you

If only I could hold your hands this night
I really want to say
I am sorry
for all those silly arguments
dumb mistakes
I have ever made

I am indeed .... surely … or absolutely?
not your perfect daughter
But you….
You are the best mother
.. dedicated
truly ..
… sincere
heartily …

Thank you, mom
For all you have done for me
for my happiness ..
for my success …
for my best ….
I love you
forever
and ever

∞ Your only daughter

23 April 2016
Al Fatihah untuk Eni tersayang

Selasa, 09 Februari 2016

Kelas Inspirasi #1: KIB 1

Aku ga ingat kapan tepatnya, ketika suatu hari aku baca tentang Kelas Inspirasi. Yang jelas, love at the first sight. Yap, langsung tertarik dan pengen banget bisa gabung. Bercerita tentang profesi kita pada anak2 SD itu kebayangnya asyik yaa… Cuma waktu pertama baca itu, aku mikir gimana yaa caranya.

Ndilalah, Aulia sobatku di Bogor, cerita kemaren baru ikut Kelas Inspirasi Depok (KID). Idiiih, Aul mau ikut juga dooong.. begitu langsung aku bilang. Aul bilang, nanti mungkin akan ada program serupa di Bogor. Okay, kabari yaaa jangan lupa, pesanku pada Aul setengah ngancem hahaha…

Waktu itu, Kelas Inspirasi sudah berjalan di sekian kota, salah satunya Bandung. Pada KI Bandung, Ridwan Kamil sang walikota ikut menjadi relawan. Foto-fotonya tersebar di berbagai medsos. Waah, mantap kali pun.

Singkat cerita, sekitar Juli 2013, Aul memberi kabar tentang pendaftaran Kelas Inspirasi Bogor #1 (KIB #1), jadi KI munggaran untuk Kota Bogor. Yeaayyy aku langsung teriak senang dalam hati. Trus langsung kepo, gimana caranya dll dst. Aul termasuk salah seorang panitia.

Deg2an juga ternyata tunggu pengumuman apakah aku diterima atau tidak jadi relawan. Pada waktunya diumumkan daftar relawan, dan ciihuuyyy namaku ada. Aku kebagian jadi relawan pengajar di SD Ciheuleut 1.

Pendaftar relawan Inspirator dan dokumentator untuk KI Bogor #1 kurang lebih 350 orang, Terpilih 220 orang dari berbagai profesi yang akan menginspirasi di 21 SD di Kota dan Kabupaten Bogor.

Kelompok relawan sudah dibagi. Kelompokku terdiri dari sepuluh pengajar/Inspirator, 2 fotografer dan 1 videografer. Lalu bikin grup di WA, ada satu kali kopi darat. Alhamdulillah, kelompokku lumayan kompak. Ketuanya juga oke, bisa mengarahkan diskusi dengan tetap menghargai pendapat setiap anggota kelompok. Txs, mas Irvan.

O ya, ada yang lucu tentang sang ketua. Setelah ngobrol sana sini, ternyata rumah kami berdekatan plus anak kami pernah sekelas waktu di TK hahaha… Aseli, dunia memang selebar daun kelor.

Briefing KI Bogor #1 diadakan pada tanggal 31 Agustus 2013, jam 9 WIB di Gedung Aula PGN, Bogor. Waktu itu aku ga bisa hadir, karena ada acara lain.

Lalu kepo jilid 2, tanya tanya Aul, apa aja yang kudu disiapin. Mulai deh stress, apa yaa yang mau diceritain ke anak2. Profesiku sebagai PNS kayaknya garing deh kalo dibagi gitu aja hehehe.. kudu ada improvisasi plus kreativitas.

Pikir punya pikir…. Akhirnya aku putuskan mau sharing tentang sampah ke anak2 itu. Kenapa kita mesti buang sampah di tempatnya, apa akibatnya kalo buang sampah sembarangan, apa aja jenis-jenis sampah. Kira-kira begitulah.

Aul pesen supaya pake media yang ringkes tapi menarik buat anak-anak. Jangan andalkan pake proyektor, supaya ga rempong gondol2 laptop plus proyektor wara wiri antar kelas.

Jadi aku cari-cari gambar di internet terkait materi yang akan aku share, lalu aku print. Rencananya, aku akan perlihatkan gambar-gambar itu sambil bercerita.

Persiapan kelompok untuk hari H, kami sudah siapkan beberapa properti seperti perkenalan, yell yell, dan balon cita-cita untuk penutupan.

Daan, tibalah hari yang ditunggu-tunggu.

Hari Inspirasi diadakan pada tanggal 11 September 2013, Udah mules-mules tuh dari semalem. Aku kebagian 3 kelas, kalo ga salah kelas 3, 5 dan 2. Pak ketua sudah bagi sesi ngajar untuk tiap relawan supaya semua dapet kelas besar dan kelas kecil. Tiap sesi disepakati 35 menit plus break istirahat pada pukul 10. Pembukaan pada jam 7 dan penutupan jam 12.

Laluuuu, apa yang terjadi?

Sesi pertama, bisa dibilang rada gagal. Sepuluh menit pertama anak-anak masih tertib duduk manis, sepuluh menit berikutnya mulai ada yang berdiri diri trus 10 menit berikutnya, mereka ribuuut ke sana ke mari plus ada yang berantem.., Waduuh emaaakkk pigimane iniiiii????

Thanks God sesi pertama berakhir juga.

Sesi kedua, alhamdulillaah dengan pengalaman sesi pertama dan dapet kelas besar, lebih tertib. Sebagian aktif menjawab dan ada yang bertanya. Sesi ini lumayan lancar dah.

Nah, sesi ketiga yang aseli bikin keringat banjir dan sutreesss… wakakakakkk!!! Kelas kecil ternyataaaaa sodaraah sodaraah…. Paling menantaaang!!!! Materi yang udah disiapin kaga tau ke mana hahaha udah ilang di memori.. Suara abis, mati gaya, ada yang berantem, dorong-dorongan, ada yang nangis… Alaaaah. Maaakkk!!! Tulung tuluuuung!!!...

Setelah sesi terakhir, kami langsung curhat sambil ketawa ngakak n sedikit sedih hahaha.. Rata-rata semua sama: keringeetan, stress, mati gaya..

Hari Inspirasi lalu ditutup dengan terbangkan balon yang sudah ditempeli kertas cita-cita setiap anak. Seruuuu… dan mengharu biruuu… Mataku berkaca-kaca.

Ternyata tidak mudah menjadi guru, padahal cuma satu hari.

Ternyata pendidikan dasar itu masih timpang.

Ternyata sebagian anak belum paham apa itu cita-cita.

Aaahhh… Banyak banget yang aku dapat hari itu.

----

Ada dua hal penting dari KIB#1 ini:

Yang pertama, silaturahmi itu betul nikmat. Sampai sekarang, kami masih kontak, walaupun makin lama makin jarang karena kesibukan masing-masing. Tapi di hatiku, kelompok Ciheuleut 01 ini yang pertama ada di hati dan paling membekas.

Yang kedua:
Bukan aku yang menjadi inspirator, namum sejatinya mata-mata polos mereka yang menginspirasiku.
Dan buat aku ketagihan ketemu mereka lagi.

----





Senin, 01 Februari 2016

PINTAR atau JUJUR?

Senin awal tahun baru lalu, aku iseng bikin pooling kecil-kecilan di status Facebook. Begini pertanyaannya:
1.       Ranking di rapot anak: amat penting, penting, atau kurang penting?
2.       Les pelajaran: sangat perlu, perlu atau belum perlu?
3.       Mana yang lebih penting: pintar atau jujur?

Anak di sini dimaksudkan anak Sekolah Dasar (SD). Sampai hari Jumat, ada 21 responden yang menjawab pooling itu. Berikut rekapnya (semoga ga menyalahi prinsip2 statistika hehe..):

Ranking
Menjawab penting: 24%, argumennya adalah untuk memotivasi anak dan sebagai tolok ukur sejauh mana kemampuan anak.
Menjawab kurang penting: 72%, 19% di antaranya menjawab kurang penting tapi minta info ke guru hahaha... kepo nih ceritanya.

Les pelajaran
Menjawab perlu: 10%, pertimbangannya mungkin untuk mengejar ketinggalan dibanding anak lain atau untuk memantapkan nilai anak.
Menjawab belum perlu: 57%, sebagian berpendapat anak- lebih perlu les di luar pelajaran seperti les ngaji, terkait bakat/seni seperti musik atau olahraga seperti renang. Sebanyak 33% menjawab bisa perlu atau tidak, sesuai sikon atau perlu untuk kelas 6 yang mau ngadepin UN, yang ini rada kreatif karena menjawab tidak sesuai pilihan.

Jujur
100% memilih jujur.. Yeaayyy yiipiee yippiee yeeayyy!!!!
Tilimikicih yang sudah ramah dan baik hati mau jawab pooling ini yaa...
----

Berikut pendapatku pribadi.

Ada satu argumen yang menjawab ranking penting, yaitu untuk memotivasi anak. Persaingan itu bagus kalau ditanggapi secara positif. Pada saat rankingnya bagus, anak harus dilatih untuk tidak jumawa. Tapi pada waktu rankingnya jatuh, anak harus dilatih untuk tidak menyesali diri. Aku setuju dengan pendapat bijak ini. Taaapiii jujur agak pesimis hehe maaf... karena tidak banyak ortu bijak seperti ini.

Sebagian besar responden berpendapat bahwa ranking kurang atau malah tidak penting. Di antara responden yang menjawab kurang penting, terselip argumen kasihan, masih anak-anak atuh dan 1 jawaban aneh yaitu epen alias emang penting: 4% alias 1 orang hahaha... Dan ada satu jawaban responden yang mantap buat aku. Argumennya: ga penting karena tidak menjamin masuk surga. Dipikir-pikir bener juga yaa….

Kok sama ya dengan pendapatku pribadi. Buat aku, ranking itu sekedar penilaian berdasarkan kuantitatif. Tidak ada penilaian kualitatif tentang sikap dan perilaku anak. Padahal setiap anak itu individu dengan keunikan tersendiri, punya kelebihan dan kekurangan masing-masing.

Lalu apa yang terjadi? Sebagian orang (ortu dan atau guru) berpendapat, angka-angka itu seolah segala-galanya. Harus didapat setinggi mungkin, dengan berbagai cara. Anak diwajibkan ikut macam-macam les pelajaran, terutama pelajaran yang dianggap “dewa”, seperti Matematika hehehe..  Pulang sekolah, mampir rumah sebentar untuk ambil baju ganti atau perlengkapan les, atau malah langsung ke tempat les. 

Padahal mungkin lebih baik jika anak istirahat setelah belajar di sekolah. Biarkan dia main yoyo kesukaannya, main sepeda sama anak-anak tetangga, boci boci sebentar. Dijamin besok pergi sekolah, dia fresh kembali buat nerima pelajaran.

Sedihnya, cara-cara yang ditempuh buat dapetin angka bagus itu kadang bukan cara yang baik (cara yang buruk), menurutku. Nilai bisa dibeli, ada beberapa “oknum” guru yang mau kasih nilai tinggi jika si anak ikut les atau setelah ortu melakukan pendekatan. Ada juga yang tempuh cara nilai raport bisa diganti dengan nilai yang bagus-bagus. Hiks... ......................

Otak manusia terdiri dari otak kiri dan otak kanan. Dikutip dari sebuah sumber, dengan otak kiri manusia cenderung berfikir logika, nalar, angka, bahasa, urutan, sistematik. Sedangkan otak kanan berfungsi ketika kita berfikir kreatif, imajinasi, inovasi, seni/musik, gambar, emosi dll. Untuk perkembangan yang optimal, tentunya keduanya harus difungsikan secara seimbang.

Setiap anak itu unik. Ada anak yang tidak suka matematika, tapi solider banget sama teman. Ada yang kurang bagus kemampuan verbalnya, tapi pintar menggambar. Tidak semua bisa dinilai dengan angka. Otak kanan dan otak kiri perlu dirangsang supaya potensi anak betul-betul tergali.

Jangan kecil hati jika nilai matematika anak kita cuma 6, coba gali potensi lain. Mungkin dia suka banget nyanyi atau main musik.  Jangan kecil hati ketika diterangkan PR bahasa, dia ga ngerti-ngerti. Mungkin dia punya bakat jadi pelukis. Tapi jangan juga paksa anak kita les menari Bali, jika dia sukanya hitung-hitungan. Tugas kita lah sebagai orang tua untuk menggali potensi anak.

Jadi inget pengalaman bagi rapot waktu Ilman kelas 1. Tidak ada ranking ditulis di rapot atau di papan tulis. Orangtua yang juara 1 sampai 3 Cuma dibisiki sama ustadzahnya, lalu diberi hadiah kecil. Tanpa anak-anak atau ortu lain tahu. Jadi anak tidak kecil hati, tapi di sisi lain anak yang ranking bagus juga dapat apresiasi.

Yang lebih bagus lagi. Setiap anak dapat piala kecil sebagai reward dengan kata-kata manis. Seperti: anak rajin tersenyum, rajin datang pagi, suka menolong teman, dan lain-lain pujian kualitatif yang menggambarkan keunikan si anak.  Secara tidak langsung, anak didorong untuk percaya diri. Aku tidak pintar IPA, tapi aku suka tersenyum. Aku tidak pintar Matematika, tapi aku suka menolong teman.

IT IS SO GOOD, THUMBS UP!!!
----

Sekarang beralih ke les pelajaran. Seneng banget, lebih dari setengahnya menjawab belum perlu untuk anak-anak usia SD. Sebagian dengan catatan, kecuali untuk kelas 6 yang akan hadapi UN. Menarik untuk kita bareng-bareng cermati.

Kenapa kelas 6 perlu UN? Menurut pengamatanku, supaya anak terbiasa latihan soal. Dan ujung-ujungnya untuk dapat NEM bagus. Jadi, kembali ke poin pertama tadi. Kepandaian anak terutama diukur dari angka-angka yang dia capai. Bukan pada kualitasnya, seperti akhlak kepada guru dan teman, pembiasaan ibadah, sikap dan perilakunya.

Terbayang, jika semua anak hanya pintar Matematika atau Sains, maka tidak akan ada penyanyi sekeren Ruth Sahanaya atau Tulus, tidak ada pelukis sebeken Affandi, tidak ada penulis sekreatif Andrea Hirata atau Asma Nadia. Tidak romantis dunia iniiii….

Tolok ukur UN kudu wajib diperbaiki. Terus terang belum kebayang caranya. Tapi masak anak cuma dinilai dari pelajaran Matematika, IPA, Bahasa Indonesia, dan Bahasa Inggris? Sengsara banget anak yang berbakat besar di bidang seni, sedih banget anak yang jago olahraga.
----

Last but not least: KEJUJURAN.

Semua responden memilih jujur daripada pintar. Jempol empat buat semuanyaaa!!! Alhamdulillaah.. Jujur masih dianggap lebih penting daripada pintar. Secara garis besar, ortu tidak berharap anak pintar tapi tidak jujur. 

Kenapa? Menurutku, salah satu sebab utama penurunan berbagai norma-norma yang dahulu masyakat pegang teguh adalah karena kejujuran yang makin terkikis.

Tidak mengapa dongkrak nilai di rapot, yang penting ranking 5 besar.
Tidak masalah bayar sekian di luar jalur, yang penting masuk SMP favorit.
Ga papa nyontek waktu ulangan, yang penting nilai 9.

Ada anekdot: orang pintar yang kurang berakhlak sering menjadi "minteri" alias membodohi orang demi tujuan pribadi.

Jangka panjangnya? Korupsi, kolusi, dan nepotisme. Korupsi waktu, korupsi duit, korupsi lain-lain. Kolusi buat dapetin jabatan atau kekayaan, ga papa sikut sikut dikit. Nepotisme (percaloan secara halus) di mana-mana. Cara-cara instan untuk bisa sukses, dengan tolok ukur hal-hal material.
----

Ketiga pertanyaan dalam pooling sederhana itu sebetulnya terkait. Jika orientasi kita pada nilai, maka lama kelamaan persepsi masyarakat terbentuk, bahwa hanya yang ranking minimal 10 besar yang bakal sukses. Bagaimana cara mencapai itu, mari kita kasih anak berbagai les pelajaran “penting”.  Abaikan mengaji atau les musik dan gambar. Jika itu masih belum cukup untuk dapat nilai tinggi, mari kita sogok guru supaya nilai di rapot tetap bagus.

Itu contoh ekstrim tentu.

Tapi tidak bisa kita pungkiri, itu terjadi di masyarakat kita.

Mari kita tanya diri kita (termasuk saya sendiri), apakah itu yang ingin kita bentuk pada anak-anak kita tercinta?

Yang jelas, bukan itu yang ingin aku wariskan pada anak-anakku, amanah dan anugerah yang tak ternilai dari Sang Pencipta.

----

Refleksi pribadi hasil observasi sendiri




Jumat, 29 Januari 2016

Gang Selot

Kalo kamu ngerasa  pernah tinggal atau pernah sekolah SMP atau SMA di Bogor, rada kebangetan kalo ga tahu nama gang ini… hehe..

Gang Selot

Dalam KBBI, selot berarti kunci, ibu kunci, kunci gantung. Dalam basa Sunda juga dikenal kata selot yang berarti kunci yang digeser atau tulak. Aku belum tahu kenapa gang itu dinamai Selot. Mesti buka-buka sejarah Kota Bogor nih kayaknya.. Dan bisa jadi bahan tulisan besok-besok tuh hehehe…

Gang Selot adalah satu gang kecil deket lingkungan SMPN 1 – SMAN1 Bogor. Gang ini membatasi sekolah dengan kantor LIPI di sebelah selatannya. Mulut gang cukup lebar, sekitar 3 meter. Tapi makin masuk, makin kecil, cuma motor yang bisa masuk. Kalo kita masuk terus gang itu, nantinya tembus ke arah Jl. Paledang.

Gang Selot terkenal dengan jajanan murah meriah khas anak sekolah. Kalo kamu alumni SMP 1 atau SMA 1 Bogor, pasti pernah jajan di sini. Mungkin pernah ngeceng cewek putih berambut panjang duduk manis ngemil batagor? Atau mungkin pernah mabal, mojok di paling ujung? Hihihi…

Jajanannya memang beraneka rupa, coba kamu sebut salah satu pasti ada di situ. Dari mulai siomay, gado-gado, bakso, toge goreng yang khas Bogor, nasgor, sampe yang rada western kayak Chicken Cordon Blue, dll dsb dkk adaaaa…. Buat aku sih ada beberapa yang rasanya lumayan, tapi ada juga yang kurang maknyos hehe… Tapi yang jelas harganya murraahh pissaannn!!!! Hahaha… Harga makanan sekitar 10 sampe 15 ribu, dijamin wareeeggg….
---

Waktu baru pindah ke Bogor, kantorku di Balaikota Bogor, tinggal jalan kaki 5 menit ke tekape. Temen-temen pernah ajak aku makan di situ. Tapi mohon maaf, hiks meni jorookk.. itu pikiranku waktu itu. Istilahnya kalo ga laper laper banget mah, mikir-mikir juga mau jajan di situ.

Pedagang berderet ke dalam gang. Tempatnya rada gelap alias kurang penerangan. Ga ada tempat cuci tangan. Si pedagang cuci piring, gelas, sendok, dll di ember karet item tea.. Ga ada tempat sampah. Huekksss… ngebayanginnya rada bikin enek! Maap nih maap yeee...

Lalu aku pindah kantor ke lokasi yang rada jauh dari Gang Selot. Jadi jarang banget mampir. Waktu itu cuma sekali mampir karena penasaran sama kue cubit yang waktu itu lagi ngehits banget.
---

Senin kemarin, aku ketemu pak Asep, temen yang kerja di Dinas Kesehatan. Dia cerita, lagi benahin Gang Selot, dilengkapi fasilitasnya, dll lah pokonya. Rada penasaran juga nih. Sorenya, aku tanya anakku, Abil yang sekolah di SMA 1 itu. “Ka, Gang Selot dibenahin ya?”. “Iya,” jawab anakku.

Hari Selasa kemarin, Gang Selot diresmikan sebagai sentra kuliner binaan Pemkot Bogor. Yang resmikan pak Walikota. Semua pengunjung boleh makan gratiisss… Aaahhhh sayang sekaleee kemaren aku kudu ke Jakarta urus sesuatu.

Tadi siang, aku antar bekal makan siang Kaka, trus tiba-tiba penasaran kayak gimana sih penampakan Gang Selot itu sekarang. Beloklah aku ke gang itu.

Daan taarraaa… waaah ciamik euy!! Pangling gueee…. Bersiihh dan asriii…

Sekitar 25 kios pedagang itu ditata berjajar rapi. Lantai dan dinding sudah berlapis keramik dan dicat warna cerah. Atapnya diperbaiki pula, rapi dengan rangka aluminium. Diberi pembatas dengan area luarnya berupa pagar setinggi kira-kira 60 cm.Tiang-tiang dan rangka atap dicat hitam. Juga dipasang lampu untuk menambah penerangan. Kontras dengan tampilan sebelumnya, yang gelap remang-remang.

Setiap kios dilengkapi dengan sink (tempat cuci wadah dan piring dkk nya). Tempat kompor dipakai pasangan dengan keramik rapi.  Gerobak aluminium berlapis kaca yang bersih, lemari kecil yang tertutup di bawah kompor untuk tempat wadah dan tabung gas. Tampak rapi lah.

Meja-meja konsumen berjajar rapi dengan kursi warna merah yang “eye-catching”. Ada wastafel untuk cuci tangan lengkap dengan sabunnya.

Pada dinding gerobaknya, terpampang stiker: TERBINA, telah terdaftar dan dibina Dinas Kesehatan Pemkot.. Plus satu stiker lagi: objek retribusi sampah hahaha… 

Ada dua hal yang paling aku suka. Satu, ada plang besar: Kawasan Tanpa Rokok. Haha.. mangga yang mau ngerokok, agar melipir. Dua, tempat sampah terbagi dua: organik dan anorganik. Cuma kalo boleh koreksi dikiiit.. Di kertas kecil keterangan sampah anorganik, ditulis: plastic, besi, kaleng, gelas, kaca. Lah, kalo kertas dibuang ke mana yaa? Hihii… 

Lumayan lengkap fasilitasnya..

Bikin betah yang mau jajan. Olahan makanan juga pastinya lebih sehat.

Alhamdulillaah…
---

Berharap banget para pedagang dan konsumen bisa pelihara segala fasilitas yang udah disediakan. Jaadii sodara sodaraaa, jangan pade lupe yee..  

Para pedagang: cuci alat-alat masak dan alat makan dengan bersih dan teratur. Para konsumen: buang sampah pada tempatnya.. Bagus banget kalo mau milah sesuai tempat sampah yang organik dan anorganik itu.


Rabu, 27 Januari 2016

Hikmah CL Kena Gangguan

Sekitar bulan November 2015, aku dapat kesempatan workshop tentang Social Entrepreneurship dari BBC. Lokasi acara di Morissey Hotel di bilangan Jl. Wahid Hasyim. Setelah melacak lewat mang Google, stasiun kereta terdekat ke tekape adalah Stasiun Gondangdia, lalu jalan kaki sekitar 500 meter. Aku dapat jadwal Jumat siang dari jam 2 sampai jam 5 dan Sabtu seharian dari pagi.

Hari pertama pulang pergi lancar tidak ada hambatan berarti, hari kedua berangkat pun masih lancar. Ndilalahnya, hari kedua pulangnya dapet cobaan, dikiiit tapi dikiitt hehehe…

Selesai acara jam setengah 6 lewat. Mushalla di hotel lokasi acara sebetulnya bersih, tapi aku cepet-cepet jalan pulang dengan niat mau shalat Maghrib di mesjid Cut Meutia deket Stasiun Gondangdia, lalu langsung cuss pake CL pulang ke Bogor. Waktu jalan menuju mesjid, aku denger suara kereta lewat di atas jalan. Cuma di hati ini ga tau kenapa, kok tiba-tiba ada rasa ga enak, feeling kali yaa…

Habis shalat Maghrib, jalanan mulai rada gelap, aku langsung buru-buru ke stasiun. Tiba-tiba, ada mbak2 berjilbab yang nanya: Bu, mau ke mana?. Dengan ekspresi rada bingung karena ngerasa ga kenal, aku jawab: Mau ke Bogor. Trus dia bilang, kereta ada gangguan bu. Langsung aku melotot kaget, hah gangguan? Kenapa?. Lanjut si mbak tadi: ada tabrakan kereta di Statiun Juanda. Waduh, gimana iniiiii? Secara aku bukan anak roker, cuma sekali-kali naik commuter.

Aku berdiri di pinggir jalan dengan bingung. Tapi gak tau kenapa hati ini kok ga panik yaa. Padahal biasanya uuhhh langsung panik gua kalo ngadepin situasi kayak gitu. Dalam hati, aku mencoba dzikir.

“Jadi gimana ya mbak kalo mau ke Bogor?” tanyaku.
“Saya mau order Gojek aja ke Stasiun Manggarai,” jawab di mbak itu.
Aku ikuti cara si mbak tersebut. Tapi aduuhhh hpku kok lemoott.. Hiks, gini deh kalo lagi butuh cepet, ada aja nih hp ngadat. Dalam hati, aku terus mencoba dzikir supaya ga panik.

Trus ada taksi lewat, baiklah pake taksi aja deh. Eh tapi aku ga hafal situasi Stasiun Manggarai. Aku jarang banget turun atau naik di Manggarai, jadi kalo sendiri takutnya keder. Lalu terlintas ide ngajak si mbak itu barengan pake taksi.

“Mbak, mau ga kalo barengan pake taksi?” aku tanya si mbak.
“Oh, gitu ya bu. Boleh deh. Maksudnya patungan?”
Aku bilang: “Iya patungan boleh, engga juga ga papa.”
“Hayu deh bu, kita patungan.”

Alhamdulilaahh… ada solusi dan ada temen menuju Manggarai. Tak lama taksi berwarna biru yang terpercaya itu lewat (hehehe.. tak boleh sebut merk yaa).  Kami pun naik, lalu berkenalan dan masing-masing mencoba berbasa-basi.

Nama si mbak itu kita sebut saja Arini.. (hahaha.. maap…. aku lupaaa lagiiii nama aslinya, penyakit lama yang sudah menahun).
“Bogor nya di mana, bu?”, tanya Arini.
“Di daerah Cimanggu, tahu Bogor, mbak?”.
“Oh, aku punya uwa, kakaknya papah, di daerah Taman Cimanggu.”
“Lho, rumahku deket Taman juga.”
“Uwa di Flamboyan Ujung.”
“Halah hehehe.. kan rumahku deket banget dari situ. Siapa nama uwanya?”
“bu Riri, tapi sudah meninggal”, jawab Arini.
“ya Allaah, mbak Arini keponakannya bu Riri? Ihhh tahu atuh, dulu punya warung kaan? Aku suka beli-beli di warungnya. Ih, bu Riri itu kan baik orangnya, ramah… “

Jadilah kami seru saling berbagi cerita sampai di Stasiun Manggarai. Turun taksi, sambil jalan masih tetep kita ngobrol hal-hal kecil hahaha.. seru juga nih orang, pikirku.

Masuk stasiun Manggarai, ya Allah antrian loket puaanjaang.. sampai berbelok-belok. Tapi tetep dalam hati ini ga ngedumel, aku cuma mikir alhamdulilaah ketemu mbak Arini. Kami ambil antrian yang berbeda, tapi masih saling dadah-dadah. Aku duluan sampai di loket lalu langsung masuk cari kereta. Arini aku lihat masih antri dan tinggal beberapa orang lagi sebelum sampai loket. Aku fikir nanti mungkin ketemu di kereta.

Langsung bergegas lari cari kereta, ternyata pintu kereta sebelah kanan, sementara aku dari kiri. Karena takut ketinggalan dan sudah jam 8 malam, aku loncat dari bawah deket rel. Hahaha.. baru kali itu aku nekad. Untung dua anak remaja mau bantu, narik tanganku dari dalam kereta. Huup, alhamdulillah masuk kereta dan alhamdulilaah juga dapet tempat duduk.

Aku cari-cari Arini di antara penumpang yang naik. Tapi kok ga nemu-nemu. Yakh, aku belum bilang makasih sekali lagi. Udah mau temenin naik taksi, udah kasih tahu suasana Manggarai, udah ngobrol seru macam-macam.

Alhamdulillaah kereta lancar sampe Bogor. Dan suami siaga sudah menjemput di pintu keluar stasiun.
---

Satu hikmah penting dari tragedi CL malam itu adalah, sabar dan nrimo itu indah. Aku yang biasanya kalo dapat susah dikit aja langsung ngeluh n pasang muka manyun. Tapi sore itu sabar dan berusaha terus dzikir dalam hati.

Apa hikmahnya? Aku dapet info gangguan kereta tanpa mesti naik tangga ke stasiun, dapet temen naik taksi sampai Manggarai, temen anak roker, yang ternyata keponakannya tetangga, dapet tempat duduk di antara ratusan manusia yang pulang telat, dan sampai rumah dengan selamat.

Alhamdulillaahh… terimakasih ya Allah, sore itu Engkau beri aku kesabaran.
----

Buat Arini, di manapun kamu berada, aku bisikkan:
Makasih banyak yaa… udah bantu sejak kasih info sampe selamat di Stasiun Manggarai. Maaf ga sempet pamit waktu kita pisah di Stasiun Manggarai.

Jadi inget pelm jadul: Arini, Masih Ada Kereta yang Lewat. Hihihi… Yang main, Rano Karno sama Widyawati.






Cut Meutia yang Wangi



Sekitar bulan November, aku dapat kesempatan workshop tentang Social Entrepreneurship dari BBC di Morrissey Hotel. Alhamdulillaah, materi dan diskusinya cukup mencerahkan (ceritanya di tulisan hari berikutnya yaa… do'a in supaya komit hehehe). Aku dapat jadwal Jumat siang dari jam 2 sampai jam 5 dan Sabtu seharian dari pagi. Setelah melacak lewat mang Google, stasiun kereta terdekat ke tekape adalah Stasiun Gondangdia, lalu jalan kaki sekitar 500 meter. 

Hari Jumat, aku berangkat dari Bogor jam 11 siang dan sampai Stasiun Gondangdia jam 12 lewat. Rencana mau shalat dulu sebelum lanjut jalan kaki ke lokasi workshop. Sambil tunggu bubar shalat Jumat, aku cari makan dulu karena perut menagih isi. Sambil menyeberang jalan, kulihat ada plang mesjid Cut Meutia.. Oh yaa, nanti shalat di situ aahhh…batinku.

Selesai makan soto Padang yang tidak cukup maknyus tapi mahal (hahaha).. kulangkahkan kaki ke mesjid Cut Meutia. Para jamaah pria baru saja bubar. Ternyata oh ternyata ada pasar kaget di trotoar jalan dan di halaman mesjid.. Waahhh.. dari mulai mukena, sajadah dan lain lain perlengkapan shalat, jajanan aneka rupa sampai tongsis. Hahaha…. Seruuu!!!

Masuk area mesjid, aku sudah mulai tertarik dengan bangunannya. Tampak tua, bersahaja tapi terawat. Tumbuh pohon-pohon palem besar di area parkirnya dengan paving block. Bangunan disangga oleh tiang-tiang bulat besar dengan hiasan pecahan batu kali. Seperti bangunan-bangunan jaman dulu. Suka dengan lingkungan mesjid ini…

Setelah bertanya ke bapak penjaga sandal, sampailah ke tempat wudlu wanita. Ada di sayap kanan jika kita menghadap mesjid. Tempat wudlu, alhamdulillaah cukup bersih  dengan ibu penjaga yang ramah.

Area shalat wanita ada di sebelah tempat wudlu itu dengan sebuah pintu yang tertutup didahului tangga dengan delapan undakan. Pintunya unik dan antik dengan kayu tebal dan pegangan besar. Begitu lihat pintu dan tangganya, aku mulai makin suka. 

Sebelum shalat, mataku melihat-lihat interiornya. Terhampar karpet tebal, jam berdiri yang besar (ingat jam di rumah kakek dulu), lampu antik tergantung, partisi dari kayu. Daan….. tercium wangi cendana yang segaaaar …. aduuhhh sukaa…... Karpet shalatnya tebal, dan ketika sujud, aroma cendana itu tercium lebih wangi. Setelah shalat yang nyaman banget, aku mulai menjelajah ruang dalam.

Di area depan, seperti ada ruangan khusus yang dihalangi partisi. Aku pikir awalnya itu mihrab. Tapi setelah lebih dekat, terpampang tulisan: Tempat Iktikaf. Ooooh ternyata ini khusus untuk iktikaf. Lalu aku perhatikan lebih seksama lagi partisinya. Waahhh ternyata pada partisi itu, terukir rapi tulisan huruf Arab. Dan yang bikin lebih kagum lagi, huruf-huruf itu tidak seragam antar blok, berbeda-beda. Yang sempat aku perhatikan, ada ayat Kursi di antaranya. Subhanallaah… terbayang usaha sang pengukirnya.

Rasanya ingin berlama-lama di situ, tapi jadwal workshop sudah menanti. Pelan-pelan aku tinggalkan area mesjid itu. Rasa syukur yang dalam dan salut yang tinggi aku sampaikan ke para pengurus mesjid itu. Mesjid tua namun masih terawat bersih dan rapi.

Cut Meutia yang wangi…
Telah buat aku jatuh hati.







Rabu, 20 Januari 2016

Bersamamu, Ibu Belajar Menjadi Ibu

Bersamamu, ibu belajar menjadi ibu..
Ibu hamil yang amat bahagia namun deg-degan tak bertepi
Sejak Allah ijinkan seorang jabang bayi hadir di rahim ini
Yang setiap saat terasa ajaib di hati
Sesuatu tumbuh (dirimu, nak….) di tubuh ini

Drama saat-saat lahirmu,
Sirna seketika itu
Ketika muncul sosokmu, bayi mungil nan lucu
Wajah ayahmu terpatri di situ

Bersamamu, ibu belajar menjadi ibu..
Ibu bayi yang gagap, sering keliru, dan kadang ngeri
Dari belajar menyusui dan menyuapi
Kadang datang  masa sakit dera sang bayi
Ingin pindahkan rasanya ke diri
Ilmu yang ada tak cukup ternyata bekali diri
Namun rasa takjub dan bahagia selalu hadir di hati

Bersamamu, ibu belajar menjadi ibu
Ibu guru yang belajar cermat, cerdas, tak kenal lelah
Diskusi seru dengan sang ayah
Pilihkan yang terbaik untuk kau sekolah
Allah Maha Baik, karuniakan dirimu sifat yang ramah
Ibu bapak guru tak pernah marah
Kau selalu rajin beribadah
Prestasimu pun tak pernah rendah
Alhamdulillaah..


Bersamamu, aku belajar menjadi ibu
Juru masak yang amat grogi
Beruntung ada bimbingan tersayang Eni
Mulai susun menu dan kenal bumbu agar bergizi
Bersyukur masakan ibu sering kau tagih lagi
Semur dan rendang kesukaanmu bisa tersaji
(dulu hanya tahu masak air dan rebus indomie)

Bersamamu, aku belajar menjadi ibu
Teman yang coba selami remajamu
Dengar keluh kesahmu
Cerita gitar atau bola dan futsal, hobimu
Walau kadang cuma mengangguk ragu
Karena tak paham apa siapa itu
(huhuhu…)

Lalu ketika asmara hampiri kamu
Kadang ibu tak paham dan salah berlaku
Namun dengan pikiran remajamu,
kau coba pahami ibu
Berusaha bersikap seperti harapan ibu

Bersamamu ibu belajar menjadi ibu

Nak, betul adanya dengan hadirmu
Ibu belajar bersamamu
Kadang tak mudah, urat dan otot pun perlu
Namun dengan maklum dan bijak usiamu
Kita bisa lalui semua itu
Terimakasih, telah jadi anak manis kesayanganku

Perlahan-lahan ibu berubah
Dari seorang anak bungsu manja, cengeng, kurang gaul dan tidak pede
Menjadi guru,walau mungkin banyak yang belum tahu
Menjadi teman, walau kadang belum seiring sejalan denganmu
Menjadi juru masak, walau bukan koki handal peramu menu
Menjadi ibu yang super bawel tapi semoga ngangenin di hatimu

Kini masanya engkau menuju dewasa
Laksana mimpi, ibu sering termangu haru

Terbang, terbanglah nak
Lebih tinggi, lebih jauh dari yang ibu-ayah mampu

Kami percaya
Atas ijin-Nya, Allah akan mampukan
Kau adalah bulan bagi ibu …..
Penerang hati ketika muram melanda

Love you so so much…
Selamat Ulang Tahun, Kaka Abil,
MY MOONLIGHT