Kamis, 07 Juni 2018

Asyiknya Berbagi Buku


Alkisah ada seorang ibu, sebut saja namanya bu Melati, punya niat pengen bikin taman bacaan buat anak2 di sekitar rumahnya. Lingkungan rumahnya termasuk unik, bisa dikatakan campuran dari dua karakter yang heterogen: di bagian depan penduduk komplek perumahan  dan di bagian belakangnya perkampungan. Di perkampungan inilah, dia melihat aktivitas anak2 tampak belum menonjol. Hari-hari mereka ya diisi dengan bermain bersama. Rasanya kalo mereka disediakan taman bacaan, bakal bagus banget buat nambah ngisi kegiatan positif di sela waktu mereka. Plus kasih mereka semacam jendela dunia.

Mulailah bu Melati ini mengumpulkan buku-buku bacaan anak. Dia pilih dengan seksama dan cermat, kira-kira buku apa yang bakal cocok dan diminati anak2 itu. Jika dapet info obral buku murah di toko G yang terkemuka itu, dia langsung bersorak senang. Di situ biasanya, bisa dapet buku-buku anak yang walaupun terbitan lama tapi berkualitas dan tentunya harga terjangkau.

Dia juga rajin ngecek info2 garsel buku di salah satu grupnya. Grup ini terdiri dari ibu-ibu muda satu almamater dengannya. Jika ada garsel buku anak dengan tema yang dinilai bagus, langsung deh: booked, mauuu.. Hahaha..

Dan ketika paket paket itu mulai berdatangan dan semakin rajin si abang kurir: pakeettt, maka sang suami mulai protes: Ibu beli apa lagi sih?

Dan tahukah anda bu Melati itu siapa?
Aku.. hahahaha

Ya, lama kelamaan aku seperti terobsesi untuk terus koleksi buku2 bacaan anak yang berkualitas, demi mewujudkan cita-cita taman bacaan. Cita-cita yang terus tertanam di benak, sejak anak-anak masih usia TK dan SD.

Tapi ternyataaaa, waktu pun berlalu. Si kecil TK lalu beranjak masuk SD dan naik SMP, si kakak SD lalu naik ke SMP dan malah SMA dan tahun ini lulus. Daan cita-cita ternyata belum terwujud juga.

Di akhir minggu, beberapa kali aku pandangi nanar tumpukan buku itu. Sayaang banget rasanya kalo dikasihin gitu aja ke orang, tapi duh tapi sayang juga ya takut mubazir kalo Cuma tertumpuk di rak tanpa ada yang menjamah.

Tapi akhirnya, setelah menimbang dengan seksama, aku putuskan buat menyumbangkan buku-buku itu ke taman bacaan lain yang sudah ada tapi masih membutuhkan buku-buku bacaan.

Caranya? Posting di grup untuk identifikasi temen2 yang sudah punya taman bacaan.

Gayung bersambut, tiga teman respon. Lanjut kami japrian buat janjian kirim-kirim buku itu. Lalu dua teman lain kasih info juga tentang tempat yang masih butuh bantuan buku-buku layak baca.

Daan mulailah tumpukan buku itu diturunkan dan mulai disortir. Aku usahakan kelima tempat itu bisa dapet variasi jenis buku dan majalah yang relatif sama. Ada dua jenis majalah, buku sains, komik remaja, KKPK, buku agama anak. Dan inilah penampakan before and afternya..
...

Ternyataa..
Apa yang terjadi?
Rasanya legaaa, gembira, dan senaanggg...
Alhamdulillah.

Tak jadi punya taman bacaan tak apa, tapi aku tahu di sana ada banyak anak-anak hebat yang mau baca buku-buku itu. Anak hebat yang semoga semakin hebat setelah dunia makin lebar terbentang dari buku itu.


Jumat, 18 Mei 2018

Untukmu Mas Tersayang




Enam ribu 
sembilan ratus 
tiga puluh 
sembilan hari
telah kita lalui bersama

Hari hari yang bagiku
tidaklah selalu sama
Ada masa senang tawa bahagia
masa sedih duka lara
kecewa marah curiga

Masa adaptasi yang amat tak mudah
dua karakter yang jauh berbeda

Kau dengan diammu, aku dengan bicaraku
Kau dengan tenangmu, aku dengan gejolakku
Kau dengan sabarmu, aku dengan syukurku

Kita menjadi saling melengkapi

Dua mutiara yang lalu hadir
satu bulan dan satu bintang
makin lengkapi hidup kita
Karunia terbesar
yang tak ternilai
yang Ia titipkan pada kita
yang semoga kita bisa jaga fitrahnya

Semoga Allah ridloi langkah kita

 I love you so, mas

Kamis, 10 Mei 2018

Kembali, kembalilah cintai dia apa adanya

Sekar tergagap. Kembali si boss pergoki dia tengah melamun di depan komputer. Tugas yang mestinya selesai pagi tadi, siang ini masih belum tuntas juga. Duh malu rasanya. Ini kali kesekian, dia sulit berkonsentrasi di kantor. Ingatannya selalu melayang ke masalah rumah tangganya.

Menjelang dua puluh tahun usia pernikahannya, namun mereka tengah dihadapkan pada masalah yang cukup pelik, dan Sekar hampir-hampir menyerah.

Semua bermula ketika tahun lalu, perusahaan tempat suaminya bekerja tiba-tiba colaps dan terjadi PHK besar-besaran. Suaminya, Ardi, termasuk yang kena PHK. Pesangonnya sih lumayan, tapi ternyata merka tidak siap dengan perubahan kondisi yang drastis itu. Maka pelan-pelan, pesangon itu terpakai buat berbagai kebutuhan.

Posisi Sekar di kantor pun masih staf biasa. Penghasilannya tidak cukup buat biayai keluarga dengan tiga anak yang pas masanya sedang banyak kebutuhan sekolah. Nabil si sulung tahun lalu kuliah, Sekar bersyukur Nabil bisa diterima di sekolah negeri, sehingga tidak terlalu berat biaya masuknya. Tapi tetap bulanan, Sekar harus putar otak supaya bisa mengatur kiriman rutin buat kost Nabil tetap ada.

Ardi yang berusaha mencari peluang kerja lain, sampai sekarang belum berhasil. Dan entah kenapa, dua bulan terakhir ini mentalnya makin jatuh. Motivasinya sudah tidak ada atau bahkan nyaris nol.
Dan ujungnya semua Sekar yang harus tanggung bebannya.

Sudah berkali-kali, Sekar mengajak Ardi ngobrol serius tentang masalah keuangan ini. Namun Ardi selalu cuma bisa termenung dan hanya berucap pendek-pendek. Tanpa solusi.

Sampai dua bulan lalu, rasanya sudah tak tahan hadapi suaminya. Sekar jadi apatis. Dia sudah kehabisan akal. Apa lagi yang harus dilakukan buat mendukung Ardi. Rasanya semua telah dilakukan, tapi hasilnya nol besar.

Dia tak lagi peduli Ardi. Dia hanya fokus pada ketiga anaknya. Tapi rupanya lama-lama kondisi ini juga berimbas pada anak-anak. Tiga hari lalu Sekar akhirnya meledak di depan anak-anak, ketika Ardi tiba-tiba ngomel panjang karena tiba-tiba mesti anter anak2 pagi banget.

Dan Sekar menyesal. Menyesal sangat. Anak-anak yang harusnya tidak tahu, kini jadi tahu ada masalah antara papa dan mamanya. Mereka jadi jarang bicara, dan bisik-bisik di kamar bertiga.
--

Ayu bossnya beri isyarat supaya Sekar masuk ruangannya.
“Apa kabar anak-anak2?” tanya Ayu begitu Sekar duduk di depannya.
“Eh, baik mbak.”
Ayu memang pernah ketemu anak-anak setiap kantor adakan “Family Gathering” tiap tahun.
“Syukurlah.”
“Kamu lagi ada masalah?”, hati-hati Ayu bertanya.
Sekar terdiam.
“Kalo butuh tempat cerita, aku ada di sini ya. Kita udah temenan lama kan.”
Mereka memang telah berteman sejak awal masuk kerja. Nasib baik membawa Ayu naik jabatan dan jadi atasannya Sekar.

Sekar menghela nafas.
“Ardi, mbak”
Ayu menunggu.
“Aku tak tahu lagi harus buat apa buat support dia.”
“Uang tabungan sudah habis dipakai modal macem-macem usaha, tapi ga ada yang berhasil.”
Sekar mulai berlinang. Ayu ikut berkaca-kaca.
“Kemarin kami bertengkar di depan anak-anak. Aku kayaknya udah ga kuat, mbak. Sampai mana sih kita mesti bersabar pada suami kita?”
Dia tahu perjuangan Sekar selama ini.

“Berat ya, aku bisa bantu apa?”
Sekar terdiam sambil menyusut air matanya.
“Aku punya buku ini, siapa tahu bisa bantu ringankan beban di hati.” ucap Ayu sambil angsurkan satu buku tipis.
“Isinya tidak menggurui tapi kena banget buat aku mah.” Ayu tersenyum simpul.
“Makasih banyak ya mbak.” Sekar baru ingat, dulu Ayu pernah hadapi juga masalah dengan suaminya ketika ketahuan selingkuh. Bersyukur mereka bisa atasi dan sampai sekarang rukun kembali.

“Pesanku cuma satu: kembali, Sekar. Kembali terima dia, kembali cintai dia apa adanya. Kembalikan niat awal ketika kalian mulai menikah. Kembali pada anak-anakmu, mereka anak-anak manis banget, karunia terbesar dalam hidup kalian. Maka kamu akan lebih ikhlas menerima apapun ujian rumah tangga kalian. Percayalah, aku pernah alami itu.”
Mereka pun berpelukan erat.
--

Di buku itu, Sekar dapat beberapa hikmah.

Dan Sekar bertekad, bahwa dia akan kembali pulang. Kembali seperti dulu. Terima Ardi apa adanya. Dulu pun ketika menikah, mereka betul-betul berangkat dari nol. Tapi pelan-pelan mereka berjuang bersama sampai pada titik ini.

Mau tahu apa saja isi buku itu yang mampu menggugah Sekar untuk “kembali”?

Benci dan suka

Allah subhanahu wata'ala telah mengingatkan kita agar tidak membenci atau menyukai sesuatu padahal kita tidak tahu rahasia di balik itu. Dalam QS Al Baqarah:216 disebutkan "Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah Mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui."

Ujian sebagai penggugur dosa

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَا يُصِيبُ المُسْلِمَ، مِنْ نَصَبٍ وَلاَ وَصَبٍ، وَلاَ هَمٍّ وَلاَ حُزْنٍ وَلاَ أَذًى وَلاَ غَمٍّ، حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا، إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ
“Tidak ada satu musibah yang menimpa setiap muslim, baik rasa capek, sakit, bingung, sedih, gangguan orang lain, resah yang mendalam, sampai duri yang menancap di badannya, kecuali Allah jadikan hal itu sebagai sebab pengampunan dosa-dosanya.” (HR. Bukhari 5641).

Jihad seorang istri

Jika seorang isteri taat kepada suaminya serta tidak pergi meninggalkan suami maka pahalanya sama dengan jihad di jalan Allah. Perhatikan hadist berikut: Al- Bazzar dan At Thabrani meriwayatkan bahwa seorang wanita pernah datang kepada Rasullullah SAW lalu berkata :  Aku adalah utusan para wanita kepada engkau untuk menanyakan : Jihad ini telah diwajibkan Allah kepada kaum lelaki, Jika menang mereka diberi pahala dan jika terbunuh mereka tetap diberi rezeki oleh Rabb mereka, tetapi kami kaum wanita yang membantu mereka , pahala apa yang kami dapatkan? Nabi SAW menjawab :” Sampaikan kepada wanita yang engkau jumpai bahwa taat kepada suami dan mengakui haknya itu adalah sama dengan pahala jihad di jalan Allah, tetapi sedikit sekali di antara kamu yang melakukanya.

Rezeki itu dari Allah

Allah telah berfirman dalam surat al-Isra’ ayat 31:
نَّحْنُ    نَرْزُقُهُمْ    وَإِيَّاكُمْ
‘…Kami-lah yang akan memberi rezeki kepada mereka dan juga kepada mu…’

Dalam ayat ini jelas dikatakan bahwa sesungguhnya peran masing-masing hanyalah sebagai pelaksana harian, dimana kehendak serta penentuan berada ditangan Allah semata. Sehingga tidak ada hak bagi masing-masing untuk mengklaim sebagai penentu bagi keberpihakan serta kebutuhan masing-masing. Suami Istri merupakan tim yang seharusnya berlaku kompak dan sudah semestinya mereka bersinergi dalam menjalani segala aspek dalam kehidupan ini.

Atas kehendak Allah, rezeki yang lebih bisa diberikan pada isteri dan bukan pada suami. Jadi jangankan menjadi tinggi hati jika suatu saat rezeki isteri melebihi suami, atau merasa lebih bermanfaat daripada suami, merasa bisa hidup sendiri dan dapat mengatasi sendiri segala hal, tidak mau diatur sehingga tidak patuh kepada suami. Inilah tanda-tanda kehancuran suatu kapal pernikahan.

“Ya Allah ya Rabbi, Engkau adalah Dzat Yang Maha Memberi, maka berikanlah kepada suamiku kelapangan atas rezekinya. Jika letaknya masih jauh, maka dekatkanlah yang Rabb, jika masih berada di atas langit, maka segeralah turunkan untuknya. Dan jika masih tertahan di dasar bumi, sungguh hanya Engkau yang Maha Mampu untuk segera mengeluarkannya untuk suamiku. Hanya kepada Engkau kami memohon rezeki. Hanya Engkau yang Maha Memberi rezeki tanpa mengharap imbalan. Karena keagungan-Mu meliputi alam semesta dan isinya.

Duhai Allah kami bersaksi bahwa tiada Illah selain Engkau, tiada berhak kami menyembah selain kepada Engkau dan tiada pernah kami menyembah selain Engkau, kami hanya meminta kepada Engkau, maka kabulkanlah permintaanku ini, ya Rabb. Dan aku percaya hanya Engkaulah sebaik-baik pemberi dan zat yang maha menerima keluhan serta permohonan hambamu, amin”

Jaminan masuk syurga

"Jika seorang isteri telah menunaikan shalat lima waktu dan berpuasa di bulan Ramadlan dan menjaga kemaluannya daripada yang haram serta taat kepada suaminya, maka dipersilakanlah masuk ke syurga dari pintu mana saja kamu suka."(Hadits Riwayat Ahmad dan Thabrani)

Duh betapa istimewanya kan?

Jaadii, alasan apa lagi yang bisa jadi "excuse" Sekar buat terus terpaku dan tergugu pada masalah (yang katanya rasanya) berat itu?
Tak ada kan.


Kamis, 19 April 2018

Tak Seujung Kuku Pun


Sekitar dua minggu lalu, ada anggota satu WAG-ku yang japri, Andi bercerita bahwa ada teman dalam WAG yang sama, Beni sedang dilanda ujian. Anaknya bakal dibiopsi buat cek kanker. Perempuan, umur 10 tahun. Beni jarang banget muncul di grup jadi aku belum kenal.
Aku langsung terkesima.
Ya Allah, umur 10 tahun , gimana kalo hasil biopsinya positif?

Kami berdua langsung posting infokan di grup, supaya ikut dukung morilnya Beni. Semua turut mendoakan semoga hasilnya negatif. Beni merespon ucapkan makasih, plus info tentang kronologisnya sakit anaknya. Namanya Arina, pas aku lihat di pp nya Beni, anaknya cantik banget, putih tersenyum manis.

Seminggu kemudian, Andi kabarkan lewat japri lagi, hasilnya positif kanker.
Aku terhenyak lagi. Sambil bisikkan doa, semoga mereka dikuatkan.

Aku langsung japri Beni buat kasih dukungan moril. Lalu janjian sama beberapa teman buat nengok ke rumahnya. Dalam WAG aku yang satu ini, tidak semua anggota grup saling kenal. Bahkan ada beberapa yang aku belum pernah ketemu. Jadi waktu nengok itu, kami baru ketemu Beni dan istrinya, Utari. Arina juga ada dikenalkan pada kami.

Begitu ketemu, dalam hati rasanya sedih banget. Beda banget sama di foto lalu, Arina tampak kurus banget. Mukanya kuyu. Masih bisa bermain sama adiknya, tapi belum kuat sekolah. Walaupun udah sering nangis, pingin sekolah.

Utari cerita tentang kronologis sakitnya Arina. Jadi sudah enam bulan bolak balik ke rumah sakit, cek ini dan itu, sampai akhirnya dapet diagnosis kanker. Sebetulnya kami ga tega bertanya-tanya, tapi mungkin ia butuh katup, butuh ada orang yang mau jadi pendengar, jadi ia ceritakan dari awal. Sesekali ia susut air matanya.

Secara fisik udah jelas Arina sakit, ternyata secara psikis dia juga stress. Kadang bilang sakit di suatu bagian tubuh, padahal sebetulnya tidak. Suka tiba-tiba jerit-jerit merasa keluar darah dari mulutnya. Sambil nangis, bertanya pada mamanya, aku ini sakit apa, mama?

Anak ini anak baik hati dan tidak mau merepotkan orangtua. Pernah katanya dulu kejadian kakinya tiba-tiba sakit. Ternyata sudah beberapa lama kakinya ditekuk ketika pakai sepatu karena sepatunya udah kesempitan. Sekarang pun, kalo berobat ke dokter, dia bertanya: mama ada uang?

Anak yang disayang-sayang, dieman-eman, harus didera satu penyakit serius, yang pengobatannya mesti lewat kemoterapi dan radiasi. Yang mungkin banyak orang sudah mafhum apa efeknya buat si pasien.

Sambil menyimak ceritanya, dalam hati aku merasa tertampar. Ya Allah, ga ada apa-apanya ya ujian yang Engkau pernah timpakan padaku, dibanding ujian keluarga itu.

Pernah sakit? Pernah, tapi pasti lebih sakit Arina. Pernah ga punya uang? Pernah, tapi belum pernah tiba-tiba harus punya dana ratusan juta buat berobat. Pernah bingung? Pernah kalut? Pernah galau tu d mex? Semua pernah. Tapi, rasanya lebih berat cobaan mereka.

Ga ada apa-apanya Aniiii, ujian yang pernah kamu rasakan. Tak seujung kukunya. Atau bahkan mungkin cuma setitik debu.


Senin, 09 April 2018

Ajaibnya Sedekah


Tiba tiba pandangannya mengabur, linangan air mata hampir jatuh ke kertas di hadapannya. Kala itu ia sedang selesaikan notulen rapat kemarin setelah break.

Tadi ketika istirahat kantor, karena suntuk, ia buka medsos di hpnya. Ia cuitkan sedikit kegelisahan hatinya, gelisah ya galau. Galau karena kok rasanya hidup ini tidak berpihak padanya. Sudah lama karirnya mentok, walaupun rasanya sudah berbagai upaya dilakukan supaya bisa promosi. Promosi itu amat ia butuhkan karena suaminya baru saja diPHK. Sementara anak sulungnya sebentar lagi lulus SMA dan lanjut kuliah. Rasanya kok berat yaa hadapi gaji bulanan yang Cuma numpang lewat saja di rekeningnya. Di akhir bulan, ia mesti berjibaku cari tambahan buat biaya bulanan.

Tapi satu komentar dari cuitan ia siang itu sangat menggugah:
..........bersedekah tak kan kurangi hartamu ........

Namanya Putri. Ia seorang karyawan di divisi perencanaan.

Ketika pulang kantor, pelan Putri berjalan menuju stasiun, ia biasa pake komuter pulang pergi kantornya. Murah meriah, walaupun mesti berdesakan tanpa ampun.

Lalu dia berpapasan dengan seorang bapak yang sedang memikul dagangannya. Sereh yang biasa dipakai bumbu masak. Kala itu sudah pukul lima sore dan jejeran batang sereh masih menumpuk di keranjangnya.

Tiba-tiba, tanpa dia sadari, dia panggil bapak tua itu.
“Pak, pak saya mau beli serehnya. “
Bapak tua itu langsung berhenti.
“Neng mau beli?”
“Berapaan, pak?”
“Dua ribu satu ikat.”

Dalam hati Putri tercekat, dua ribu? Dia hitung kasar jumlah ikatan di keranjang si bapak. Mungkin sekitar 50 ikat. Berarti si bapak pulang bawa uang seratus ribu, dengan catatan semua serehnya laku.
“Beli sepuluh ya pak.”
“mangga, neng.”
Tanpa ragu Putri mengangsurkan dua lembar lima puluh ribuan.

Si bapak heran ternganga.
“Neng, ini salah lihat lembaran uang ya?”
“engga pak, ini bawa trus bapak pulang ya, udah sore mana mendung tebel mau ujan lagi. Serehnya bisa buat jualan bapak besok.”
“Ya Allah, neng makasih pisan. Ya Allah, Alhamdulillah. Anak bapak memang udah seminggu demam, tapi belum dibawa ke dokter, bapak belum punya uang. Makasih ya neng.”
“Iya pak, sama-sama.”
“Bapak doain neng panjang umur, banyak rizki, sehat.”

Lalu si bapak bisikkan doa-doa pendek sambil tangan tua keriputnya menggenggam erat tangan Putri.
Putri makin tercekat, dia tahan-tahan air matanya.

Setelah bapak tua berlalu. Putri tiba-tiba merasa lega. Dia tidak merasa uangnya menjadi berkurang. Yang ada di hatinya Cuma rasa nyaman dan lapang.

Terimakasih ya Allah, Kau turunkan petunjuk hari ini, lewat bapak tua yang sederhana itu.
Alhamdulillah...


Kamis, 05 April 2018

Kreatifkah Aku?


Kreativitas berasal dari kata kreatif. Kreatif. Kata ini makin sering ya kita dengar. Dan biasanya orang mengasosiasikannya dengan kata: keren. Orang kreatif itu keren. Kenapa keren? Karena dia punya sesuatu yang baru, bisa ide, cara, bahan, teknologi, atau apapun itu yang berbeda dari sebelumnya. Ini definisi aku yang mungkin sedikit sotoy hehe..

Dulu waktu masih jadi pejabat (walaupun kroco haha), trus baca satu surat atau format, maka entah kenapa, benak ini suka dipenuhi pertanyaan.  Ini kayaknya mestinya bukan gini, harusnya gitu, baiknya dirubah dll dst. Sepertinya, aku punya kewajiban untuk memperbaiki sesuatu.Maka jadilah kala itu, aku banyak bikin format baru, bahkan sampai format kuitansi pembayaran pun aku perbaiki haha.. Nah apakah ini masuk kategori kreatif? Pertanyaan bagus yang mungkin butuh kita renungkan bersama. (Kitaa? Lu aja kaleee... ) Atau mungkin beda tipis antara “euweuh gawe” dan sedikit kreatif.

Tapi jangan tanya kalo urusan bebenah rumah. Aku angkat tangan dah, sama sekali gak kreatif. Dalam urusan beberes, aku sering bingung, gimana ya caranya supaya nih meja jadi rapih. Nih botol-botol mesti ditempatin pake wadah apa. Trus ditaro di rak mana. (Widih rak mana ceunah, orang rak cuma dua yang sudah berumur yaa mungkin sekitar 10 tahun hahaha..) Jadi begitu deh, barang-barang sering  tidak berkelompok dengan kawannya masing-masing. Tapi untungnya aku suka inget tuh barang pernah lihat di sebelah mana. Jadi kalo anak-anak tanya, gunting kuku ada di mana, aku masih bisa tunjukin tempatnya dan betul adanya. Ga selalu sih, sering lupa juga haha.

Begitu juga dengan urusan busana. Sejak dulu, aku bukan orang yang bisa berdandan, padu padan pakaian. Jadi ya gitu deh, pakaian sehari-hari ya kalo ngantor seragam plus pashmina dengan model pakai yang gitu-gitu aja. Kalo wiken keluar sama anak-anak, palingan gamis plus pashmina juga. Tutorial hijab mah udah dikoleksi di medsos tapi kaga pernah dicoba hihi...

Jaadii, kesimpulannya: apakah aku termasuk orang kreatif? Jawabnya: kurang atau belum, sebagai penghalusan dari tidak kreatif hahahaha....


Minggu, 01 April 2018

Seminar Autoimun @Prodia

Bulan lalu, temanku Vemmy yang kerja di Prodia share info seminar tentang Autoimun tanggal 25 Maret. Wah aku langsung minat, cus daftar dong. Aku bukan penderita Autoimun, tapi beberapa kawan sudah ada yang terkena dan suka share gejala-gejalanya. Jadi tujuan ikut seminar ini buat nambah ilmu yang pasti suatu saat akan berguna.

Oh ya yang belum tahu apa itu Prodia, coba deh gugling itu laboratorium klinik yang udah terkenal banget hehe. Terkenal karena pelayanannya yang bagus dan akurat. Sehari sebelum seminar, pihak Prodia telpon aku mengingatkan plus sorenya masuk sms reminder juga. Tuh buat seminar aja, diingetin ya kita. Bener kan pelayannya prima visan hehe...

Oh ya satu faktor lagi yang aku minat banget ikut adalah karena narsumnya dr Erwanto, dokter spesialis penyakit dalam dengan sub autoimun. Beliau dokter favoritku dan suami sejak beberapa tahun terakhir. Kenapa? Diagnosanya tepat sama keluhan kami. Ramah dan bersedia nerangin kalo kita tanya. Satu lagi hehe kalo aku daftar pasien umum pasti beliau tanya kenapa ga pake BPJS? Sayang kan bu kalo ga dipake.

Singkat cerita, hari H pun tiba, jadwal mulai seminar jam 12. Dengan semangat 45, jam setengah 12 aku otw ke tkp di Botani. Sampe tkp, langsung registrasi lalu dapet info mulai tengnya jam 1, jadi dipersilakan buat shalat dulu. Dr Er (panggilan akrab beliau) ternyata udah tiba. Dia ingat aku ternyata dan langsung menyapa: apa kabar bu? Kami pun bersalaman. Beliau mau shalat dulu juga. Aku pun menuju mushola di lantai dasar buat shalat.

Beres shalat, langsung balik lagi tkp. Eh ternyata dapet makan siang dengan menu Hokben (bukan iklan). Alhamdulillah, emang lagi laper banget hehe langsung disantap dah. Selagi makan, terlirik ada mbak2 berjilbab merah di meja registrasi. Lah itu kan Ritaaa temenku satu grup haha langsung deh kami berdadah2 dan duduk bareng. Cipika cipiki dan bertukar kabar karena udah lama banget ga ketemu, janjian beberapa kali tapi ga pas terus. Ga lama ada satu mbak2 juga yang colek2 kami, lah ternyata Rara kawan grup kami juga haha jadilah kami ribut bertiga. Lucunya baju kami ternyata mirip warnanya. Jadilah kami bercentil ria berfoto di photo booth yang disediakan panitia.


Tiga Mamak Kece

Naah buat yang pengen tahu tentang autoimun, nih aku kasih resume dari materinya yaa. Mungkin ada beberapa bagian yang perlu cek dan ricek, maklum mamak kan terbatas daya tangkapnyaa hehe..

Apa sih autoimun ituu?

Pada bagian ini, aku tambahkan beberapa info dari https://mediskus.com/penyakit/penyakit-autoimun-pengertian-gejala-pengobatan

Penyakit autoimun (aku singkat AI) terjadi ketika sistem kekebalan tubuh seseorang mengalami gangguan sehingga menyerang jaringan tubuh itu sendiri. Padahal seharusnya sistem imun hanya menyerang organisme atau zat-zat asing yang membahayakan tubuh. Dari segi bahasa auto artinya diri sendiri, dan imun artinya sistem pertahanan tubuh, jadi pengertian autoimun adalah sistem pertahanan tubuh mengalami gangguan sehingga menyerang sel-sel tubuh itu sendiri.

Sistem kekebalan tubuh adalah kumpulan sel-sel khusus dan zat kimia yang berfungsi melawan agen penyebab infeksi seperti bakteri dan virus serta membersihkan sel-sel tubuh yang menyimpang (non-self) misalnya pada kanker. Gangguan autoimun terjadi ketika sistem kekebalan tubuh seseorang keliru menyerang jaringan tubuh sendiri.

Doker Er menerangkan bahwa pada tubuh AI, sistem kekebalan tidak dapat membedakan mana sel sehat dan mana input dari luar yg berbahaya. AI termasuk penyakit kronik. Belakangan peningkatan kasusnya makin tinggi, semula 3,7% jadi 7,1 % per tahun. P

Gangguan autoimun dikelompokkan menjadi dua kategori, yaitu organ spesifik dan non-organ spesifik (doker Er menyebut sistemik). Organ-spesifik berarti satu organ tertentu yang terkena, sedangkan non-organ spesifik artinya sistem imun menyerang beberapa organ atau sistem tubuh yang lebih luas.

Ada sekitar 80 gangguan autoimun yang berbeda mulai dari yang ringan sampai yang berat, tergantung pada sistem tubuh mana yang diserang dan seberapa besar fungsinya bagi tubuh. Spektrum penyakitnya amat luas spt Lupus, Graves, Multiple sclerosis, Rheumatoid arthritis atau Rematik dan lain-lain.

Dari sumber tersebut, ditulis bahwa AI bukan penyakit tapi gangguan. Ini mirip dengan pemahamanku, AI ini adalah suatu kondisi tubuh kita yang lalu sebabkan beberapa penyakit yang berbeda pada seorang pasien.

Penyebab pasti AI blm diketahui. Namun penelitian menyebutkan pasien perempuan lebih banyak daripada laki-laki. Belum diketahui secara pasti, kenapa perempuan lebih rentan daripada laki-laki, terutama selama usia reproduktif.

AI belum dpt disembuhkan, yang bisa dilakukan adalah mengendalikannya hingga mencapai remisi. Remisi itu adalah kondisi AI tetap ada namun tidak mengganggu tubuh si pasien. Lalu menurut dokter, kehamilan diperbolehkan jika pasien pada kondisi remisi.

Jika sudah positf AI, namun tidak dilakukan treatment (pengobatan dll), bisa makin parah atau timbul komplikasi seperti stroke di usia muda, keguguran berulang bahkan sampai kelumpuhan.

Pasien AI selalu diminta untuk kenali tubuh, jangan abaikan alarm-alarm dari tubuh kita sendiri, salah satunya jangan sampai kecapekan.

Gejala Autoimun
Gejala paling umum: nyeri sekujur tubuh, nyeri pada otot yg tidak jelas titiknya di mana seperti diiris-iris atau ditusuk-tusuk pisau, fatigue (lelah berlebihan), rambut rontok parah, sering sariawan, nyeri sendi. Namun bbrp kasus tdk ada gejala yg khas, kadang gejala sama tidak menunjukkan penyakit yang sama bahkan 1 pasien bisa terjadi dua penyakit.

Pemeriksaan
Pada tahap awal, ditempuh melalui skrining ANA. Namun jika positif belum tentu AI.  Butuh pemeriksaan lanjut untuk menegakkan diagnosis lalu lanjut ANA Profile. Untuk penderita, bisa jadi pemeriksaan tersebut harus dilakukan secara berkala. Dokter Er sampaikan juga bahwa jika hasil Ig A tinggi, bisa jadi satu indikasi awal.

Pengobatan
Pada setiap pengobatan penyakit termasuk pasien AI, tentunya ada efek samping dari pengobatan. Misalnya suatu jenis obat ada efeknya ke lambung atau ginjal, tentunya dokter sudah kasih woro2 dari awal tentang efek samping ini dan memberi obat lain untuk kurangi si efek samping itu. Biasanya pasien AI menderita vitamin D rendah atau defisiensi, jadi dapat suplemen utk membantu mencegah reaksi peradangan berikutnya. 
Intinya AI butuh penanganan atau pengobatan jangka panjang.

Info lainnya, pemberian antibodi atau vaksin bisa jika pasien dalam kondisi remisi.
Dokter Er sampaikan juga bahwa obat2 herbal tidak dilarang namun sayang belum ada dokumentasi keberhasilan atau kegagalan, sehingga agak menyulitkan ketika diterapkan.

Bagaimana mencegahnya?
AI dapat dicegah melalui beberapa langkah yang pada intinya pola hidup sehat yaa seperti memperbaiki pola makan, katakan tidak pada pengawet - penyedap - pewarna buatan, biasakan makan sayur dan buah organik, kurangi garam. Pada beberapa kasus, pasien AI mungkin sensitif terhadap gluten.
Satu lagi yang penting: OLAHRAGA!!!!!!!! (camkan itu Aniiii). Olahraga yang direkomendasikan yaitu berenang.

Penanganan AI
Pada sesi selanjutnya, mbak Elsa, seorang survivor AI penderita lupus, berbagi tentang pengalamannya. Dalam hati, aku kagum banget sama mbak Elsa, yang tentunya telah lalui masa-masa berat hadapi penyakitnya.
Awalnya ketika pulang dari perjalanan luar negeri, mbak Elsa mungkin kecapekan. Gejala awalnya alergi yg terus menerus tapi tak jelas penyebabnya dan nyeri2 di sekujur tubuh. Setelah menjalani serangkaian pemeriksaan, maka dinyatakan positif AI. Bukan hal yang mudah untuk menghadapinya, melewati dulu fase denial atau penolakan diri dan sekarang sudah pada tahap remisi selama 3 tahun terakhir. Lingkungan keluarga amat berperan dalam mendukung mbak Elsa (support system).
Akhirnya sampai pada tahap kenali diri sendiri dan jaga aktivitas. AI jangan dilawan, tapi berdamai. Si lupus dianggap sahabat.
Mbak Elsa pernah jalani pengobatan herbal tapi ternyata berefek flare. Jadi sarannya, lebih baik selalu dialog dengan dokter. Ikut komunitas AI dapat membantu support system. Proses remisi itu ga pendek.

Pesan penutup
Pesan penutup dari dr Er: jika ada gejala yg terus timbul, segera kontrol kembali ke dokternya, usahakan di rumah sakit yg sama spy sudah ada kronologis dalam rekam medisnya.
Pesan penutup dari mbak Elsa: Pelajari dulu si autoimun lalu berdamai. Masih bisa aktivitas tapi sesuai kondisi badan (self alarm). Efek samping harus dipahami n siap dgn resikonya

Manfaat seminar
Seminar semacam ini amat berguna buat aku karena bisa nambah wawasan. Sudah beberapa kali aku ikut seminar dari Prodia semacam ini, seperti tentang stroke, gagal ginjal dll. Bonus lainnya adalah gratis plus suka dapet doorprize pula haha mamakalimrugi. Cuma yang suka bikin gemes adalah waktu buatu sesi tanya jawab yang sering kurang. Peserta masih banyak yang ngacung tapi waktu keburu habis. Oya satu hal lagi, seminar AI ini kemarin diadakan di Botani Square, satu mall yang paling hits di Bogor. Sayangnya ruangan tidak tertutup, jadi buat aku konsentrasi rada kurang, karena di sebelah banyak orang wara wiri. Anyway, seminar seperti ini selalu berguna. Terimakasih Prodia, sukses terus ya dengan layanannya yang patut diacungi jempol. 

Oya, ada satu pemandangan yang mengharukan buatku. Ada satu pasangan duduk pas di depan barisanku. Tampak seperti pasangan suami istri muda. Sepanjang seminar, sang suami selalu merangkul istrinya dan menepuk-nepuk bahunya dengan sayang. Mungkin sang istri pasien AI juga, karena pada sesi tanya jawab, dia acungkan tangan tapi ga kebagian waktu. Terharu merhatiin rasa sayang sang suami.