Minggu, 22 Januari 2017

SUMEDANG, Desaku yang Kucinta



Description: Foto Susanti Leila Puri.


Sumedang,

Begitu orang mendengar nama kota (atau lebih tepatnya kabupaten) ini, biasanya langsung komentar: tahuuu.. mau atuuhh tahu Sumedang panas.. haha .. Begitu lekatnya tahu dengan Sumedang. Tapi memang betul sih, tahu di Sumedang selalu lebih enak daripada ketika kita beli di luar Sumedang, kata orang sih karena efek air dan tanahnya. Wallahu alam.

Sumedang bukan tempat kelahiranku. Aku lahir dan besar di Bandung, sampai menikah dan punya satu balita. Ema dan Apa lah (ibu ayahku) yang kelahiran Sumedang. Namun buat kami keempat anak-anaknya, Sumedang selalu lekat di hati.

Kampung kelahiran ibuku terletak di sebuah desa bernama unik: Burujul,  di Desa Cigentur, kecamatan Tanjungkerta. Sekitar 7 km dari terminal Ciakar atau 10 km dari alun-alun Sumedang. Kampung yang masih terasa damai sentosa walaupun akhir-akhir ini pengaruh perkotaan makin merangsek masuk.

Menjelang Lebaran, di minggu terakhir puasa, biasanya kami sudah sibuk siap-siap mudik dan melewatkan hari-hari akhir Ramadhan sampai hari kedua lebaran di sana. Pernah satu kali aku terpaksa lebaran di Bandung akibat jadwal sidang Tugas Akhir S1 yang dekat lebaran. Rasanya sediiiih banget ga bisa kumpul.

Aku ingat dulu waktu masih kecil, ke kampung Nini (nenek) belum ada jalan akses mobil dari kota. Baru ada jalan tanah. Untuk mencapainya, kami harus melewati kampung sebelah bernama Panyingkiran lalu jalan memutar lewat sungai dan pesawahan. Jaraknya mungkin sekitar 5 km. Haha seriuuus 5 kilometer booo.. jalan kaki.

Biasanya ada saudara yang jemput di ujung kampung itu, bantu bawakan tas kami atau bantu gendong aku yang masih kecil. Jika bukan musim hujan, sungai itu mungkin hanya sekitar 50cm dalamnya. Kami menyebrang sungai lalu susuri pematang sawah yang berliku-liku, melintasi tiga kampung, baru sampai rumah Nini. Taapi, kalo musim hujan, lumayan juga tuh sungai sampai sedengkul. Kami berjalan pelan-pelan sebrangi sungai supaya ga terbawa arusnya.

Satu lagi, waktu aku kecil, listrik belum masuk ke kampung ini. Jadi kami alami malam-malam mesti nyalakan lampu semprong (lampu tempel) atau petromak. Suka takjub aku nonton Aki (kakek) merawat petromak sampai menyala terang. Listrik dan jalan akses rasanya baru ada ketika aku SMP.

Sejak kecil, setiap liburan sekolah, selalu kami habiskan di Sumedang. Kumpul dengan para sepupu kumpul di rumah Nini atau uwa kakaknya ibu. Jaman dulu masa liburan SD SMP pasti selalu sama atau paling tidak hampir bareng, bahkan di kota yang berbeda.

Ritual kami di pagi hari adalaaaah mandi di sungaaii... hahaha... istilah Sundanya guyang. Airnya bersiih, belum banyak batuan. Asyiiik banget dah.... Kadang sebelum mandi, kami main-main ke sawah. Liat orang menanam padi atau sedang panen. Dekat sungai, berderet tanaman buah punya uwa, dari mulai rambutan, pisitan (sejenis duku), sawo, sampai buah coklat. Habis guyang, kami suka manjat pohon-pohon itu dan metikin buahnya.

Ada satu pengalaman pahit haha,,, yang selalu terbayang dan jadi bahan ledekan ketika sekarang kami kumpul. Satu waktu, kami main ke sawah. Tiba-tiba ada anjing berkeliaran sambil menggonggong. Kami pun lari tunggang langgang. Apesnya aku ga liat jalan, kesandung pematang daaaan ya salaaam jatuh ke kubangan lumpur di sawah kosong. Wakakakakkkk.... jadilah ketika itu, aku pulang dituntun kakak dengan muka belepotan lumpur. Sialnya lagi si kakak ga ingat buat sekedar cuci muka aku di pancuran.

Kadang kami iseng ikut Nini bantuin di dapur atau lebih tepatnya ngerecokin hehe, bikin opak lalu dibakar di hawu, bubuy hui atau sampeu di abu hawu(ubi/singkong di abu anglo), nonton uwa ngaduk adonan wajit di penggorengan yang guedee. Abis main di dapur, biasanya lubang hidung kami pada hitam semua.. haha...

Setelah mandi sore, kami biasanya makan. Waktu itu, masakan Nini rasanya paling nikmat sedunia. Pindang ikan yang empuuuk dan gurih banget, sayur tahu, lalap sambel, goreng tempe panas-panas. Kadang ada ase cabe hejo atau sambel leunca atau surawung (kemangi). Hhmm yummy...

Beres makan, satu ritual asyik lainnya menanti, dongeng Aki. Kami semua baring kelilingi Aki yang duduk di tengah. Dongengnya macem-macem, kadang tentang wayang, kadang tentang sejarah. Aaahhh seruuuuu....Dongeng itu kadang Aki buat bersambung. Tapi tapinya, aku selalu ketiduran sebelum dongeng tamat di malam itu, akibatnya malam besoknya aku bengong ga ngerti sambungannya. Hahaha...

Aaahhh....

Itulah kenangan masa kecilku: liburan di kampung, bubuy hui, jarambah atau ngebolang, mandi di sungai, masakan Nini, dongeng Aki,.

Seruuu...
Indaahhh...
Ngangenin...


Pokoknya desaku yang kucinta, pujaan hatikuuu....